| dc.description.abstract | Globalisasi dan perkembangan teknologi informasi memungkinkan
pemerintah, perusahaan, dan investor untuk menggunakan valuta asing.
Globalisasi di satu sisi memberikan manfaat, yaitu mempermudah aliran modal
dan aliran barang dari satu negara ke negara lain. Tapi di sisi lain, globalisasi
menyebabkan semakin mudahnya volatilitas pada pasar tertentu menular pada
pasar-pasar lainnya, yang dikenal dengan istilah transmisi volatilitas. Dengan
demikian, guncangan dari pasar valuta asing di satu negara dapat berdampak
terhadap nilai tukar mata uang lain.
Rupiah Indonesia menempati posisi pertama yang paling rawan terhadap
guncangan eksternal. Rawannya Rupiah Indonesia terhadap guncangan eksternal
dapat dilihat dari dampak krisis Amerika Serikat tahun 2007-2009. Pada tanggal
11 November 2008, Indonesia tercatat mengalami depresiasi mata uang yang
cukup besar, yaitu sebesar 16.88%. Selanjutnya, hanya dalam waktu 17 hari
berikutnya, yaitu pada tanggal 28 November 2008 rupiah telah terdepresiasi
hingga 25%. Nilai tukar rupiah merosot dengan cepat sehingga merupakan mata
uang kedua yang mengalami depresiasi terbesar di Asia Pasifik. Pada periode
inilah kita saksikan nilai tukar rupiah terjun bebas dari sekitar Rp 9300 per USD
menjadi lebih dari Rp 12000 per USD.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis transmisi volatilitas masingmasing nilai tukar. Penelitian ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama,
menganalisis volatilitas nilai tukar mata uang utama dunia dan nilai tukar rupiah.
Nilai tukar yang diamati antara lain USD/SDR, EURO/USD, GBP/USD,
JPY/USD, AUD/USD, CHF/USD, SGD/USD, HKD/USD, KRW/USD dan
IDR/USD. Kedua, menganalisis transmisi volatilitas dengan melihat speed
response dan dekomposisi varians masing-masing nilai tukar utama dunia
terhadap nilai tukar rupiah (IDR/USD). Penelitian ini mengkombinasikan
Exponential Generalize Autoregressive Conditional Heteroscedasticity
(EGARCH) dan Vector Auto Regressive (VAR) untuk menganalisis transmisi
volatilitas masing-masing nilai tukar utama dunia terhadap nilai tukar rupiah.
Hasil penelitian pada bagian pertama menunjukkan bahwa semua nilai tukar
memiliki volatilitas asimetris negatif. Pada bagian kedua, hasil impulse response
menunjukkan bahwa guncangan nilai tukar AUD/USD memberikan dampak yang
paling besar, sedangkan guncangan SGD/USD memberikan dampak kedua yang
paling besar terhadap volatilitas nilai tukar IDR/USD. Sementara itu, hasil
dekomposisi varians menunjukkan bahwa volatilitas nilai tukar IDR/USD
dominan dipengaruhi oleh faktor internal yakni nilai tukar IDR/USD itu sendiri.
Untuk pengaruh eksternal, nilai tukar IDR/USD paling besar dipengaruhi oleh
AUD/USD dan SGD/USD.
Hal yang perlu diperhatikan pemerintah dalam mengantisipasi dampak parah
dari terjadinya krisis global adalah dengan diversifikasi ekspor. Artinya Indonesia
tidak boleh terfokus pada satu negara tujuan ekspor. Selain itu juga, pemerintah harus memonitor aliran modal portofolio (utang, saham, obligasi), khususnya
yang berasal dari Australia dan Singapura. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil
IRF dan FEVD, volatilitas nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh nilai tukar ke dua
negara tersebut. Dengan demikian, pemerintah bisa menjadikan nilai tukar
AUD/USD dan SGD/USD sebagai Early Warning System. | |