| dc.description.abstract | Pada semester pertama tahun 2014 stabilitas sistem keuangan Indonesia
tetap terjaga walaupun dihadapkan pada tantangan baru berupa perlambatan
perekonomian domestik sebagai dampak dari berlanjutnya beberapa permasalahan
eksternal dan internal pada semester sebelumnya. Permasalahan eksternal dipicu
oleh ketidakpastian pertumbuhan perekonomian global dan tren penurunan harga
komoditas terutama Crude Palm Oil serta minyak dunia yang berimplikasi pada
turut melambatnya pertumbuhan ekonomi di berbagai Negara Emerging Market
termasuk Indonesia, Permasalahan Internal antara lain terkait defisit transaksi
berjalan dan beberapa resiko ketidakseimbangan keuangan seperti potensi
terjadinya downturn pada siklus keuangan yang dapat memicu perlambatan
perkonomian domestik lebih lanjut.
Kondisi perekonomian membawa dampak terhadap kinerja perbankan
Indonesia dimana total kredit perbankan mengalami perlambatan pertumbuhan
dari 21.73 persen (year on year 2013 versus 2012) menjadi 17 persen (year on
year Juni 2014 versus Juni 2013). Perlambatan pertumbuhan ini juga dialami oleh
kredit Usaha Kecil Menengah (UKM). Pada semester I tahun 2014, pangsa pasar
kredit UKM terhadap total kredit perbankan menurun dari tahun lalu di periode
yang sama dari 15.96 persen menjadi 14.97 persen. Baki Debet UKM semester I
tahun 2014 tercatat sebesar 520 473 milyar rupiah, pertumbuhannya mengalami
perlambatan dari 14.15 persen (year on year 2013 versus 2012) menjadi 9.6
persen (year on year Juni 214 versus Juni 2013). Sementara resiko kredit
cenderung meningkat, tercermin dari kenaikan rasio Non Performing Loan (NPL)
kredit UKM yang meningkat dari 3.39 persen di Desember 2013 menjadi 4.05
persen di Desember 2014. Ada dugaan bahwa pola diatas tidak bersifat umum,
tetapi akan spesifik terjadi pada sektor industri tertentu sehingga perlu kajian lebih
dalam mengenai sifat spesifik sektoral.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisis
Location Quotient (LQ) dan analisis Klassen Typologi. Hasil konsolidasi berupa
irisan sektor dari kedua analisis akan dikembangkan sebagai sektor unggulan. Hasil
analisis Location Quotient (LQ) menunjukkan bahwa terdapat 12 sektor ekonomi
merupakan sektor unggulan yang tersebar di 33 provinsi, dimana sektor
Perikanan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Pertanian merupakan sektor yang
penyebarannya tertinggi di kuadran 1 sementara sektor Transportasi, Perantara
Keuangan, dan Perikanan merupakan sektor yang penyebarannya tertinggi di
Kuadran 4. Hasil analisis Klassen Typologi menunjukkan bahwa sektor yang maju
dan tumbuh pesat terdiri dari 12 sektor ekonomi yang tersebar di 31 provinsi,
dimana sektor Pertanian, Perikanan, dan Konstruksi merupakan sektor yang
penyebarannya tertinggi. Hasil konsolidasi analisis LQ dan Klassen Typologi
menunjukkan bahwa terdapat 10 sektor unggulan yang tersebar di 27 provinsi
yaitu sektor pertanian, perikanan, industri pengolahan, jasa kemasyarakatan,
konstruksi, listrik, gas dan air, penyedia akomodasi dan makan minum, pertambangan, perdagangan, dan transportasi. Sektor unggulan tidak sama di
setiap provinsi, meskipun ada sektor-sektor tertentu yang unggul di beberapa
provinsi namun ada juga sektor yang dominan hanya di provinsi tertentu saja.
Pengembangan sektor unggulan dapat membantu perbankan untuk mengetahui
sektor yang memiliki potensi pasar yang tinggi di provinsi tertentu beserta tingkat
resikonya. | |