| dc.description.abstract | Industri keramik saat ini merupakan salah satu industri yang sedang
berkembang dengan varian produk yang beragam meliputi keramik tile, walltile,
tableware, bath and sanitary. Persediaan bahan baku pada perusahaan sangatlah
penting, namun perlu dikendalikan untuk menghemat biaya. Salah satu industri
keramik di Indonesia adalah PT. XYZ. Produksi tile terus meningkat dalam tiga
tahun terakhir dari 1.7 juta m2 pada tahun 2012 menjadi 2.3 juta m2 pada tahun
2014. Permasalahan yang dihadapai PT XYZ adalah tingginya total persediaan
sehingga menyebabkan tingginya biaya persediaan. Pada PT. XYZ target total
kecukupan persediaan untuk bahan baku base material untuk lokal satu bulan dan
untuk impor dua setengah bulan, kenyatannya untuk base material secara
keseluruhan rata-rata diatas empat bulan. Tujuan dari penelitian adalah
menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kondisi persediaan bahan baku
base material berlebih di PT. XYZ dan menganalisis persediaan bahan baku base
material agar dapat dikendalikan.
Metode yang digunakan untuk menjawab faktor-faktor apa saja yang
menyebabkan kondisi persediaan bahan baku base material berlebih di PT. XYZ
yaitu dengan menggunakan diagram sebab akibat (fish bone), melalui wawancara
dengan responden internal. Penyebab-penyebab potensial tersebut melalui
kuesioner dengan responden internal, kemudian dilakukan pembobotan dengan
mengggunakan metode perbandingan berpasangan (pairwise comparison) dengan
dibantu software expert choice 2000, untuk mendapatkan penyebab masalah yang
paling dominan. Model yang digunakan untuk menjawab mengenai analisis
persediaan bahan baku base material agar dapat dikendalikan yaitu menggunakan
model Economic Order Quantity (EOQ). EOQ merupakan model sederhana untuk
menentukan jumlah pemesanan optimum. Standar pemesanan dapat diperoleh
dengan menggunakan model EOQ, sehingga diperoleh nilai jumlah setiap kali
pemesanan, frekuensi pemesanan, titik melakukan pemesanan ulang (ROP), total
biaya pemesanan (TOC), total biaya penyimpanan (TCC) dan total biaya
persediaan (TIC). Jumlah setiap kali pemesanan dapat diperoleh setelah kita
mengetahui jumlah permintaan atau kebutuhan, biaya pesan dan biaya simpan.
Penelitian ini dilakukan di PT. XYZ yang berlokasi di Gunung Puteri, Bogor.
Pengumpulan dan pengolahan data dilakukan di bulan April 2015. Data-data yang
digunakan yaitu yang berkaitan dengan persediaan bahan baku.
Hasil penelitian bahwa penyebab kondisi persediaan bahan baku base
material berlebih di PT. XYZ yaitu karena tidak ada standar pemesanan. Pada sub
faktor tidak ada standar pemesanan yang memiliki nilai bobot paling tinggi, yaitu
tidak ada standar jumlah pemesanan dengan nilai bobot 0.650. Sub faktor yang
memiliki nilai bobot paling tinggi artinya sub faktor tersebut menjadi prioritas
utama untuk lebih di fokuskan oleh perusahaan. Hasil pengklasifikasian
berdasarkan analisis ABC item yang akan di analisis yaitu item yang termasuk
klasifikasi A. Item yang termasuk klasifikasi A tersebut yaitu clay ex belitung jw,
clay ja 1/ja b dan sodium feldspar. Ketiga item persediaan tersebut memberikan kontribusi sekitar 81% dari total nilai penggunaan persediaan base material
selama tujuh bulan. Berdasarkan hasil aplikasi model EOQ jumlah permintaan
atau kebutuhan yang dibutuhkan dalam tujuh bulan pada clay ex belitung jw yaitu
sebesar 17 575.1 ton, clay ja 1/ja b sebesar 12 128.9 ton dan sodium feldspar
sebesar 24 656.7 ton. Jumlah setiap kali pemesanan pada ketiga item persediaan
yang memberikan total biaya persediaan minimum untuk clay ex belitung jw
adalah sebesar 600 ton, clay ja 1/ja b sebesar 500 ton dan sodium feldspar
sebesar 400 ton dengan intensitas pemesanan selama periode 7 bulan masingmasing adalah 29 kali, 24 kali dan 62 kali. Ketiga jenis item base material
tersebut dipesan pada saat jumlah yang tersedia di gudang adalah clay ex belitung
jw yaitu sebesar 3 048.8 ton, clay ja 1/ja b sebesar 1 978.9 ton dan sodium
feldspar sebesar 3 873.5 ton. Jumlah tersebut sudah termasuk jumlah persediaan
pengaman untuk mengantisipasi ketidak pastian kebutuhan selama periode masa
tunggu. Persediaan pengaman untuk clay ex belitung jw yaitu sebesar 538.1 ton,
clay ja 1/ja b sebesar 246.2 ton dan sodium feldspar sebesar 351.1 ton.
Persediaan bahan baku base material dapat dikendalikan dengan
mengunakan model EOQ, sehingga didapatkan jumlah setiap kali pemesanan,
frekuensi pemesanan, titik melakukan pemesanan ulang, total biaya pemesanan,
total biaya penyimpanan, dan total biaya persediaan. Perbandingan total biaya
persediaan antara model EOQ dan kebijakan perusahaan didapatkan hasil bahwa
dengan model EOQ dalam tujuh bulan dapat menghemat Rp311 612 769.
Model EOQ dapat dijalankan apabila semua Departemen yang terlibat dapat
berkoordinasi dengan baik. PT. XYZ juga harus dapat membuat standar
pengendalian persediaan yaitu jumlah setiap kali pemesanan, frekuensi
pemesanan, dan titik pemesanan ulang. PT.XYZ tidak menghendaki terjadinya
kehabisan dan kelebihan persediaan sehingga harus menerapkan persediaan
pengaman yang efisien. Saran untuk PT. XYZ penelitian selanjutnya dapat
meneruskan pengendalian persedian bahan baku menggunakan model EOQ
dengan analisis ABC klasifikasi B agar semua item dapat dilakukan analisis secara
bertahap. Tahun 2016 apabila perusahaan memiliki rencana untuk menambah
jumlah produksinya maka harus diketahui dahulu besarnya kebutuhan melalui
prediksi kebutuhan (forecasting). | |