| dc.description.abstract | Peningkatan permintaan teh dalam negeri tidak diimbangi dengan jumlah
produksi teh di Indonesia dikarenakan penurunan luas areal lahan perkebunan teh
setiap tahun. Oleh karena itu, impor teh terus meningkat setiap tahun terlebih
semenjak diberlakukannya Asean Free Trade Agreement (AFTA) dengan tarif bea
masuk sebesar 0% semakin mempermudah akses teh impor untuk masuk ke
Indonesia. Murahnya harga teh impor membuat produsen teh dalam negeri harus
mampu meningkatkan daya saingnya, termasuk PT XYZ selaku salah satu
produsen teh hijau terbesar di Indonesia. Rendahnya efisiensi perusahaan ditandai
dengan besarnya penurunan penjualan yang signifikan di tahun 2011 tetapi tidak
sebanding dengan turunnya Harga Pokok Produksi (HPP) perusahaan. Hal ini
membuat keuangan perusahaan dalam kondisi defisit. PT XYZ membutuhkan
suatu strategi yang berfokus pada peningkatan efisiensi produksi serta
peningkatan efektifitas rantai nilai agar perusahaan dapat lebih meningkatkan
daya saing di industri teh nasional maupun internasional.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi faktor lingkungan internal
dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan rantai nilai PT XYZ; (2)
merumuskan alternatif strategi yang dapat meningkatkan efisiensi produksi serta
efektifitas rantai nilai PT XYZ; (3) menentukan prioritas strategi yang dapat
diimplementasikan oleh PT XYZ untuk pengembangan rantai nilai teh.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2013 hingga Juni 2013
dengan mengambil lokasi di perkebunan teh milik PT XYZ, Sumatera Barat.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penentuan responden menggunakan
teknik purposive sampling yang didasarkan pada pertimbangan keahlian,
pengetahuan dan pengalaman responden. Jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Alat analisis dalam penelitian
ini adalah analisis rantai nilai, analisis faktor internal dan eksternal, analisis
SWOT dan analisis AHP-SWOT.
Analisis rantai nilai mengidentifikasi pola kegiatan serta aktor yang terlibat
di dalam rantai nilai pengolahan teh hijau PT XYZ. Kegiatan utama terbagi atas
enam tahapan, yakni diawali tahap pasokan (input), tahap produksi pucuk basah,
tahap produksi teh hijau curah, tahap pemasaran teh hijau curah, produksi produk
teh hijau dan terakhir adalah tahap konsumsi produk jadi. Tahap pasokan (input)
adalah segala aktor dan kegiatan yang terjadi pada proses pengadaan dan
perawatan tanaman teh di kebun yang mempunyai peran dalam keberlangsungan
proses produksi. Pemasok-pemasok ini adalah pihak eksternal perusahaan, antara
lain bibit, pupuk, pestisida, herbisida, kayu bakar, cangkang kelapa sawit dan
solar. Tahap produksi pucuk basah seluruhnya dihasilkan dari perkebunan teh
milik PT XYZ. Tahap produksi teh hijau curah dilakukan di pabrik teh hijau PT
XYZ. Seluruh hasil produk teh hijau curah dijual ke pelanggan PT XYZ antara
lain trader, blender serta industri manufaktur, dimana sistem kerjasama logistik
PT XYZ dibagi atas dua perusahaan logistik yaitu CV Genta Perdana dan CV
Maju Bersama. Pada tahap pemasaran teh hijau curah dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu trader. Trader memasarkan teh hijau curah di dalam negeri maupun ekspor
ke luar negeri. Pada tahap proses produksi teh hijau curah selanjutnya dilakukan
oleh industri manufaktur dan blender. Industri manufaktur memproduksi
minuman teh siap saji (ready to drink), baik dalam kemasan botol, kaleng dan teh
celup. Sedangkan, pada umumnya aktor blender memproduksi hanya setingkat teh
serbuk dalam kemasan saja karena keterbatasan modal dan penguasan teknologi
industri hilir teh. Produk teh jadi tersebut dipasarkan melalui agen retail yang
disalurkan oleh distributor. Konsumen sebagai pengguna akhir produk teh jadi
membeli produk-produk hilir teh di toko atau supermarket.
Pada analisis lingkungan bisnis, dapat diidentifikasi beberapa faktor
internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha
pengolahan teh hijau PT XYZ. Faktor-faktor internal yang dimiliki oleh PT XYZ
terdiri dari kekuatan dan kelemahan. Kekuatan yang dimiliki perusahaan adalah
kondisi finansial kuat karena didukung oleh pihak induk perusahaan , produsen
teh hijau terbesar di Indonesia, aset kebun HGU luas dan menunjang sebagai
kebun teh, umur tanaman teh tergolong produktif dengan kandungan kadar tanin
yang tinggi dan memiliki akses mudah untuk mengikuti pameran sebagai BUMN.
Sedangkan, kelemahan yang dimiliki perusahaan adalah beban biaya energi cukup
besar, gangguan asap pembakaran kayu, waktu proses Pengeringan II masih
terlalu lama, jumlah antrian pucuk di WT masih cukup panjang, pemberdayaan
Riset dan Pengembangan belum optimal. Faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi pengembangan usaha pengolahan teh hijau terdiri dari peluang dan
ancaman. Peluang tersebut antara lain: kebutuhan teh industri manufaktur terus
meningkat, jumlah penduduk Indonesia ke-4 terbesar di dunia, penduduk kelas
menengah Indonesia terus meningkat, bertumbuhnya minat teh organik
masyarakat dunia dan peluang bisnis teknologi ektraksi teh hijau. Ancaman yang
perlu diperhatikan oleh PT XYZ, antara lain impor teh Indonesia terus meningkat,
program GPATN rehabilitasi kebun teh rakyat, rendahnya apresiasi masyarakat
Indonesia terhadap teh berkualitas dan penerapan sertifikasi SNI wajib untuk teh.
Berdasarkan analisis rantai nilai, analisis lingkungan internal dan analisis
lingkungan eksternal, dirumuskan beberapa alternatif strategi yang dapat
dilakukan oleh PT XYZ, yaitu: strategi SO terdiri dari peningkatan kapasitas
produksi pabrik teh hijau dan pengembangan produk dan pemasaran, strategi WO
terdiri dari membangun kemitraan strategis dan pengembangan produksi, strategi
ST terdiri atas peningkatan publikasi usaha dan strategi WT terdiri atas
peningkatan standar operasional.
Analisis lanjutan untuk menentukan prioritas strategi didapatkan dari
urutan besaran nilai bobot global melalui analisis AHP-SWOT. Adapun prioritas
strategi yang dihasilkan berturut-turut adalah: (1) peningkatan kapasitas produksi
pabrik teh hijau; (2) membangun kemitraan strategis; (3) pengembangan produksi;
(4) pengembangan produk dan pemasaran; (5) peningkatan standar operasional;
(6) peningkatan publikasi usaha. | |