| dc.description.abstract | Indonesia akan menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) yang
mengakibatkan perusahaan-perusahaan di Indonesia perlu menyiapkan diri karena
perusahaan-perusahaan multinasional khususnya di kawasan ASEAN dapat masuk
dengan bebas dan ikut bersaing memperebutkan pasar Indonesia. Hal ini akan
memberikan perubahaan pada lingkungan bisnis yang akan berdampak pada
manajemen strategik suatu perusahaan. Perusahaan-perusahaan di Indonesia
dituntut untuk meningkatkan daya saing dan siap menghadapi berbagai macam
kemungkinan yang dapat terjadi.
PT Beton Indonesia (PT BI) sebagai perusahaan yang bergerak di industri
konstruksi memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi seperti risiko ketersediaan
dan kualitas bahan baku, risiko peralatan, risiko tenaga kerja, risiko kontraktual,
risiko manajemen dan risiko lainnya. Selain risiko internal, industri konstruksi
juga dipengaruhi lingkungan eksternal seperti risiko politik, ekonomi, lingkungan,
dan sosial. Risiko tersebut dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan,
namun dapat juga memberikan dampak negatif yang mengancam
keberlangsungan perusahaan. Faktor-faktor risiko ini perlu diidentifikasi dan
dianalisa sebaik mungkin agar faktor risiko yang tidak diharapkan dapat
diantisipasi dan diminimalisir. Untuk menjaga pertumbuhan perusahaan, PT BI
harus dapat meningkatkan kapabilitas dan daya saing dalam mengantisipasi segala
macam perubahan dan risiko.
Pada dasarnya manajemen risiko sudah diterapkan oleh PT BI, namun
manajemen risiko masih bersifat konvensional dan hanya terbatas pada masingmasing fungsional saja. Risiko yang dikelola pada skala fungsional/departemen
dan terisolasi biasa disebut dengan “silo mentality”. Manajemen risiko yang ter-
“silo” terbukti tidak efektif mengingat kompleksitas risiko. Perusahaan memang
dapat menghitung expected risk, namun semakin banyak faktor eksternal
(ekonomi, sosial budaya, politik, kebijakan pemerintah, dll) maka cenderung akan
memperbesar munculnya unexpected risk. Komponen unexpected risk yang besar
akan sulit teridentifikasi secara individual karena keterbatasan kemampuan serta
keahlian seseorang/departemen tertentu. Pada penerapan manajemen risiko yang
terintegrasi, identifikasi risiko diharapkan dapat berjalan lebih efektif karena
adanya integrasi dari seluruh bagian perusahaan. Risiko yang dikelola secara
terintegrasi akan lebih menjamin sasaran perusahaan tercapai dan perusahaan
mempunyai keunggulan bersaing. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk
(1) mengidentifikasi risiko secara terintegrasi di PT BI, (2) mengukur dan
memetakan tingkat risiko yang dihadapi PT BI dan (3) memberikan saran
perlakuan atau respon risiko yang diperlukan PT BI.
Penelitian ini menerapkan ERM di PT BI dengan mengidentifikasi risiko
berdasarkan dokumen proses bisnis perusahaan dan wawancara/kuesioner kepada
para karyawan internal perusahaan yang terlibat langsung dalam dokumen proses bisnis readymix PT BI. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan
pendekatan kerangka kerja ERM-COSO sebagai acuan dalam menerapkan ERM.
Proses utama manajemen risiko diawali dengan mengidentifikasi semua risiko
yang dihadapi perusahaan. Risiko yang telah teridentifikasi lalu diukur
berdasarkan kriteria tingkat dampak dan kemungkinan. Risiko terukur lalu
dipetakan agar terlihat tingkatan risikonya terhadap perusahaan. Saran berupa
respon risiko diberikan kepada setiap tingkatan risiko yang disesuaikan dengan
prioritas dan selera risiko perusahaan.
Dalam penelitian ini total risiko yang teridentifikasi berjumlah 60 puluh
risiko dengan rincian 59 risiko berasal dari identifikasi peneliti dengan acuan
dokumen proses bisnis unit readymix PT BI dan satu risiko merupakan tambahan
risiko yang teridentifikasi dari responden. Risiko yang teridentifikasi terbagi
kedalam empat divisi dalam unit readymix PT BI yaitu divisi pemasaran
berjumlah 13 risiko, divisi produksi berjumlah 33 risiko, divisi keuangan
berjumlah tujuh risiko (termasuk satu risiko tambahan) dan divisi akutansi
berjumlah tujuh risiko.
Tingkat risiko setiap risiko teridentifikasi dibagi menjadi empat kategori
yaitu kategori negligible, acceptable, undesirable dan unacceptable. Risiko yang
masuk kategori negligible berjumlah 12 risiko, kategori acceptable berjumlah 25
risiko, kategori undesirable berjumlah 12 risiko, katehori unacceptable berjumlah
satu risiko dan 10 risiko yang tidak dapat dinilai karena tidak tersedia data yang
cukup.
Respon risiko yang disarankan adalah dengan menghindari risiko (risk
avoidance) atau mentransfer risiko (risk transfer) untuk risiko yang masuk ke
dalam kategori unacceptable dan undesirable, mengurangi risiko (risk reduction)
untuk risiko yang masuk kedalam kategori acceptable dan Menerima risiko (risk
acceptable) untuk risiko yang masuk kedalam kategori negligible. Respon risiko
berupa mengurangi risiko adalah alternatif yang paling banyak dilakukan. Pada
kategori risiko negligible walaupun dapat diabaikan, namun tetap diberikan
respon risiko untuk mencegah risko tersebut berkembang menjadi lebih besar.
Risiko yang tidak dapat dinilai (N/A) juga tetap diberikan respon risiko yang
mungkin baik untuk dilakukan meskipun tidak ada tingkat risiko secara pasti. | |