| dc.description.abstract | Segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mempunyai andil
yang sangat besar menjaga eksistensi bangsa Indonesia dalam menghadapi krisis
yang berkepanjangan. Ketika terjadi krisis ekonomi di Indonesia, dimana banyak
usaha berskala besar yang mengalami stagnasi bahkan berhenti aktifitasnya,
segmen UMKM terbukti lebih tangguh dalam menghadapi hal tersebut. Hal ini
dikarenakan UMKM mampu bertahan dibandingkan dengan usaha besar yang
cenderung mengalami keterpurukan. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin
bertambahnya jumlah UMKM setiap tahunnya. UMKM mempunyai peranan yang
sangat signifikan baik terhadap penyediaan lapangan kerja maupun terhadap
pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Tingkat penyerapan tenaga kerja di atas 97
persen atau sekitar 99 juta orang menjadikan sektor UMKM sebagai sektor yang
sangat penting bagi perekonomian Indonesia pada umumnya. Berdasarkan data
tahun 2010, sekitar 99 persen dari jumlah unit usaha di Indonesia berskala
UMKM dan dengan demikian, UMKM sangat berpotensi dalam meningkatkan
pendapatan negara melalui pajak. Besaran proporsi Produk Domestik Bruto
(PDB) dari sektor UMKM mencapai angka sekitar Rp. 3,466 triliun atau 57,12
persen dari PDB nasional. Berdasarkan sensus UMKM tahun 2006 ternyata
sebagian besar UMKM melakukan usahanya dengan modal sendiri tercatat ada
84,4%, sementara hanya 15,6% UMKM yang melakukan pinjaman dari pihak
lain. Hal ini menandakan bahwa pasar kredit untuk usaha mikro dan kecil masih
cukup besar sehingga mendorong banyak bank untuk terjun ke segmen kredit
UMKM. Salah satu bank yang terjun ke segmen UMKM adalah bank Bukopin
yang mengembangkan konsep Swamitra. Jumlah dana yang disalurkan oleh
Swamitra semakin meningkat diiringi oleh meningkatnya tingkat Bad Debt Ratio
(BDR). Peningkatan BDR dikarenakan banyaknya jumlah anggota Swamitra yang
menunggak sehingga mempengaruhi nilai sisa hasil usaha.
Untuk itu, penelitian ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama
Menganalisis kesesuaian prosedur pelaksanaan penyaluran kredit yang dilakukan
oleh Swamitra Bank Bukopin cabang Bogor. Selanjutnya, bagian kedua
Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kegagalan pengembalian
kredit Swamitra bank Bukopin cabang Bogor.
Bagian pertama penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan hasil
pengamatan terhadap Form Evaluasi Pinjaman, 100% pinjaman yang diberikan
oleh Swamitra kepada debitur sudah diproses sesuai dengan prosedur yang telah
ditetapkan oleh Swamitra. Debitur yang telah mendapatkan kredit tidak semuanya
mendapatkan pembinaan dan monitoring. Nasabah yang diberikan pembinaan dan
monitoring hanya sebesar 30%, sedangkan sisanya sebesar 70% tidak dilakukan
pembinaan dan monitoring. Hampir seluruh peminjaman yang tidak dilakukan
pembinaan dan monitoring memiliki kualitas pinjaman yang lancar sedangkan
yang dilakukan pembinaan dan monitoring hampir seluruhnya memiliki kualitas
pinjaman yang tidak lancar. Selain pembinaan dan monitoring, hal yang paling
penting adalah masalah penagihan kredit. Berdasarkan penelitian dari form evaluasi pinjaman, hampir sebagian besar cara penagihan yang dilakukan oleh
A/O Swamitra tidak dilakukan penagihan setiap hari, melainkan hanya pada saat
jatuh tempo dan hanya diingatkan melalui telepon. Hal ini disebabkan banyaknya
jumlah peminjan sementara jumlah pembina kredit terbatas, disamping itu, jarak
antara tempat usaha dengan Swamitra menjadi kendala untuk dilakukan
penagihan setiap hari. Penagihan yang dilakukan setiap hari hanya sebesar 26%
sedangkan sisanya hanya dilakukan penagihan pada saat jatuh tempo yaitu sebesar
74%.
Pada bagian kedua penelitian ini menemukan bahwa berdasarkan hasil
output regresi logistik terhadap beberapa variabel yang dianggap mempengaruhi
penyebab kredit menuggak di Swamitra cabang Bogor yaitu tingkat pendidikan,
jaminan, lama usaha, reputasi usaha, usia, administrasi usaha, tempat tinggal,
tempat usaha, laba/kewajiban, laba/bunga, dana sendiri, perputaran piutang,
perputaran persediaan, dan rekomendasi, ternyata yang berpengruh signifikan
adalah variabel usia, administrasi usaha, dana sendiri, perputaran persediaan dan
rekomendasi. Variabel-variabel yang berpengaruh tersebut, harus dijadikan acuan
awal dalam pemberian kredit. | |