| dc.description.abstract | Sebuah tempat kotor, bau dan tidak tertata merupakan momok yang masih
melekat erat pada pasar tradisional. Dalam mengupayakan pusat perbelanjaan
yang dapat bersaing ditengah-tengah gempuran bisnis ritel modern, PD. Pasar
Tohaga masih mengalami kendala dalam penerimaan retribusi yang merupakan
sumber pendanaan utama perusahaan. Data Bidang Keuangan PD. Pasar Tohaga
menunjukkan bahwa realisasi pembayaran retribusi terhadap Rencana Kerja dan
Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun 2012 baru menyentuh pencapaian sebesar
87,58%. Pencapaian terendah berada di Pasar Parung, yakni sebesar 38,22%.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember 2013 di PD.
Pasar Tohaga Unit Pasar Parung. Sampel yang digunakan sebanyak 150
responden. Nilai CSI dari setiap indikator pada dimensi servqual masih belum
mencapai 80%. Peringkat tertinggi dari nilai indeks kepuasan pedagang dimiliki
oleh komunikasi petugas dengan pedagang (X25) sebesar 60% dan diikuti oleh
kejelasan informasi kepada pedagang (X18) sebagai indikator yang memiliki nilai
persentase 58%. Hal ini diperkuat dengan sebaran 28 indikator dalam diagram
Suharjo-split yang masih berada di bawah garis efficient service. Pada analisis
structural equation model, dimensi responsiveness memberikan pengaruh paling
besar terhadap kepuasan pedagang dengan nilai faktor muatan 0,20.
Penggunaan price sensitivity meter menghasilkan informasi bahwa kisaran
harga tarif retribusi yang didapatkan cukup lebar, yakni berkisar antara Rp 500
sampai dengan Rp 2.400. Salah satu contohnya adalah kisaran harga tarif retribusi
fasilitas pasar untuk pengguna kios yang berada pada titik Rp 521,42 dan
Rp 2.454,08. | |