| dc.description.abstract | Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memiliki kontribusi terhadap
perekonomian Indonesia, yang dapat dilihat dari unit usaha, jumlah tenaga kerja
dan kontribusi terhadap PDB Indonesia. Sebagai bank yang memiliki visi menjadi
bank mass market terbaik di Indonesia, Bank Tabungan Pensiunan Nasional
(BTPN) berkomitmen untuk mengembangkan UMKM di Indonesia melalui
pemberdayaan dan peningkatan kapasitas nasabah. BTPN tidak hanya
menawarkan kredit, melainkan juga pelatihan-pelatihan guna memberikan
peluang untuk tumbuh melalui program Daya Tumbuh Usaha (DTU). Program
DTU terdiri dari tiga sub-program, yaitu pelatihan, informasi bisnis, dan peluang
usaha baru. Kajian yang dilakukan oleh BTPN dan Kerjasama dan Penjaminan
Mutu Manajemen dan Bisnis IPB (KPM MB IPB) pada tahun 2013 menunjukkan
indikasi bahwa pelatihan (jenis pelatihan yang diikuti dan frekuensi mengikuti
pelatihan) berhubungan dengan peningkatan pendapatan usaha. Namun hubungan
tersebut tidak dapat menjelaskan secara rinci mengenai besar peningkatan
pendapatan (omzet) yang disebabkan oleh adanya pelatihan atau faktor yang lain,
dan jika pernyataan tersebut benar, maka besar pengaruh yang dihasilkan oleh
pelatihan terhadap kinerja usaha perlu diukur. Jenis pelatihan yang diikuti oleh
responden adalah pelatihan keuangan, pelatihan pemasaran, pelatihan penjualan,
pelatihan persediaan, dan pelatihan sumberdaya manusia.
Menarik pula jika diteliti apakah pelatihan berpengaruh langsung terhadap
kinerja usaha atau melalui variabel perantara (variabel intervening) penerapan
manajemen, karena penelitian Andria dan Trisyulianti (2011) dan Ahmad (2013)
menyebutkan bahwa kinerja perusahaan dipengaruhi oleh adanya implementasi
manajemen yang digambarkan dengan pencapaian target operasional, pemasaran
maupun keuangan. Penelitian ini menganalisis pengaruh pelatihan terhadap
kinerja usaha dengan penerapan manajemen sebagai variabel perantara
(intervening), serta melihat hubungan antara variabel pelatihan, kinerja usaha dan
penerapan manajemen dengan komponen-komponen pembentuknya. Penelitian ini
menggunakan data sekunder dari Kajian Dampak Daya Tumbuh Usaha Tahun
2013 yang merupakan kerjasama antara BTPN dengan KPM MB IPB dan penulis
merupakan salah satu anggota tim KPM MB IPB.
Evaluasi model SEM secara keseluruhan menunjukkan model pada
penelitian ini adalah good fit model yang dilihat dari beberapa pengujian model
yaitu chi-square/df, p-value, GFI, RMR, RMSEA, AGFI, NFI dan CFI. Seluruh
indikator tersebut menunjukkan nilai yang memenuhi syarat kecuali nilai p-value
yang nilainya lebih kecil dari nilai minimum. Namun hal tersebut tidak secara
langsung menyatakan bahwa keseluruhan model tidak sesuai. Salah satu tujuan
dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pelatihan terhadap kinerja usaha
baik secara langsung ataupun tidak langsung melewati penerapan manajemen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar pengaruh pelatihan terhadap kinerja
usaha secara langsung (0.2) lebih kecil jika dibandingkan dengan pengaruh
pelatihan terhadap kinerja usaha melewati penerapan manajemen (0.3). Pengaruh pelatihan yang lebih besar jika melalui penerapan manajemen menunjukkan
bahwa penerapan materi yang telah diajarkan oleh BTPN melalui pelatihan akan
lebih meningkatkan kinerja usaha nasabah lebih tinggi 0.1 satuan dan
membuktikan bahwa eksekusi suatu strategi atau kegiatan dalam manajemen
mampu meningkatkan kinerja usaha.
Hubungan antara pelatihan, kinerja usaha dan penerapan manajemen
terhadap indikator pembentuknya dapat dilihat melalui tingkat signifikansi (uji-t)
dan nilai loading factor (untuk melihat kontribusi masing-masing indikator).
Variabel pelatihan terdiri dari 5 indikator, yaitu frekuensi mengikuti pelatihan
keuangan, frekuensi mengikuti pelatihan pemasaran, frekuensi mengikuti
pelatihan penjualan, frekuensi mengikuti pelatihan persediaan, frekuensi
mengikuti pelatihan sumberdaya manusia. Nilai uji-t untuk seluruh indikator
tersebut menunjukkan nilai lebih dari 1.96 (tingkat kepercayaan 0.05), sehingga
seluruh indikator tersebut signifikan terhadap variabel pelatihan. Nilai loading
factor menunjukkan angka yang paling tinggi adalah frekuensi mengikuti
pelatihan keuangan (0.98). Nilai loading factor paling tinggi menunjukkan bahwa
indikator frekuensi mengikuti pelatihan keuangan adalah indikator yang memiliki
kontribusi terbesar terhadappelatihan.
Variabel selanjutnya adalah penerapan manajemen dengan 5 variabel
indikator yaitu penerapan manajemen keuangan, penerapan manajemen
pemasaran, penerapan manajemen penjualan, penerapan manajemen persediaan,
dan penerapan manajemen sumberdaya manusia. Nilai uji-t untuk variabel
indikator penerapan manajemen menunjukkan nilai lebih dari 1.96, sehingga
seluruh indikator penerapan manajemen signifikan terhadap penerapan
manajemen. Nilai loading factor menunjukkan bahwa indikator penerapan
manajemen yang paling berkontribusi terhadap penerapan manajemen adalah
penerapan manajemen penjualan (1.17).
Kinerja usaha memiliki 4 indikator pembentuk, yaitu pendapatan (omzet),
keuntungan (profit), kekayaan usaha (asset) dan sisa pinjaman. Nilai uji-t untuk
masing-masing indikator menunjukkan lebih dari 1.96, yang berarti bahwa
hubungan antara kinerja usaha dengan indikator kinerja usaha adalah signifikan.
Nilai loading factor menunjukkan angka yang paling tinggi adalah pendapatan
(omzet), keuntungan (profit), dan sisa pinjaman dengan nilai yang sama yaitu 1.00.
Nilai loading factor yang sama ini menunjukkan bahwa indikator kinerja usaha
yang mampu menggambarkan atau berkontribusi paling besar adalah pendapatan
(omzet), keuntungan (profit) dan sisa pinjaman.
Implikasi manajerial yang dapat dilakukan oleh BTPN antara lain mengatur
ulang jadwal pelatihan, peningkatan kesadaran nasabah akan pentingnya pelatihan
menggunakan media (brosur, leaflet, dan lain-lain), monitoring, evaluasi dan
pembinaan secara rutin untuk mendorong penerapan manajemen, serta perbaikan
modul | |