Show simple item record

dc.contributor.advisorDaryanto, Arief
dc.contributor.advisorAchsani, Noer Azam
dc.contributor.authorNurdiyani, Fitri
dc.date.accessioned2025-08-07T09:39:19Z
dc.date.available2025-08-07T09:39:19Z
dc.date.issued2013
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167141
dc.description.abstractIndonesia merupakan negara produsen kakao terbesar ketiga dunia setelah Cote d'Ivoire (Pantai Gading) dan Ghana. Tiga sentra kakao utama Indonesia adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Sekitar 94% perkebunan kakao Indonesia saat ini didominasi oleh perkebunan rakyat. Meskipun sebagai produsen kakao terbesar ketiga dunia, posisi tawar ekspor kakao Indonesia masih rendah. Mayoritas kakao yang diekpor Indonesia merupakan kakao un-fermented dengan kualitas yang masih rendah. Kondisi ini mengakibatkan ekspor Indonesia sering terkena automatic detention sebesar 90-150 USD/ton. Fluktuasi harga kakao dunia membuat ikut berfluktuasinya harga kakao di dalam negeri, termasuk di ketiga sentra kakao Indonesia. Selama ini perdagangan kakao dunia mengacu pada London Cocoa Terminal Market (NYSE LIFFE) dan New York Board of Trade (saat ini bernama ICE). Jika fluktuasi bergerak pada arah yang sama, hal ini berarti perubahan harga di pasar acuan akan ditransmisikan langsung dan pasar dikatakan terintegrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis integrasi pasar pada ketiga sentra kakao Indonesia, menganalisis respon harga di masing-masing sentra kakao terhadap guncangan harga dunia. Selain itu melalui penelitian ini diharapkan dapat dirumuskan implikasi kebijakan kakao yang telah diterapkan pemerintah. Penelitian ini menggunakan data harga kakao bulanan Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, LIFFE Futures dan ICE Futures. Hasil pengujian stasioneritas menunjukkan seluruh data stasioner pada first difference. Tahap selanjutnya adalah dengan melakukan pengujian kointegrasi diperoleh hasil bahwa terdapat 1 persamaan kointegrasi Selanjutnya karena data stasioner pada first difference dan terdapat kointegrasi, maka model yang digunakan adalah Vector Error Correction Model (VECM). Hasil estimasi VECM menunjukkan bahwa pada taraf nyata 5%, perubahan harga kakao LIFFE Futures dan ICE Futures dalam jangka pendek tidak ada yang berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga kakao di ketiga sentra kakao Indonesia. Dengan kata lain antara ketiga sentra kakao Indonesia dan pasar acuan dunia tidak terintegrasi. Hasil Impulse Response Function (IRF) menunjukkan bahwa jika terjadi shock di LIFFE Futures, respon positif terjadi pada harga kakao Sulawesi Selatan dan harga kakao Sulawesi Tengah. Sedangkan shock yang terjadi di ICE Futures hanya akan direspon positif oleh harga kakao Sulawesi Selatan. Besaran respon yang ditunjukkan tersebut relatif tidak signifikan. Hasil analisis FEVD untuk melihat komposisi variasi masing-masing harga jika terjadi shock menunjukkan bahwa mayoritas harga kakao di ketiga sentra kakao Indonesia dipengaruhi oleh harga kakao di wilayah itu sendiri meskipun dalam jangka panjang variasi harga kakao Sulawesi Selatan sedikit dipengaruhi harga kakao di LIFFE Futures....dst.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleAnalisis Integrasi Pasar Antara Tiga Sentra Kakao Indonesia dan Pasar Acuan Kakao Duniaid
dc.subject.keywordIntegrasi Pasarid
dc.subject.keywordKakaoid
dc.subject.keywordSulawesi Selatanid
dc.subject.keywordSulawesi Tengahid
dc.subject.keywordSulawesi Tenggaraid
dc.subject.keywordLiffe Futuresid
dc.subject.keywordIce Futuresid
dc.subject.keywordVecm (Vector Error Correction Model)id
dc.subject.keywordUji Stasioneritas Dataid
dc.subject.keywordVector Autoregressive (Var)id
dc.subject.keywordImpulse Response Function (Irf)id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record