| dc.description.abstract | Industri percetakan dan penerbitan menurut data Badan Pusat Statistik
(2013) merupakan salah satu industri yang mengalami pertumbuhan produksi
yang signifikan dari empat sektor industri sepanjang 2013. Industri tersebut antara
lain adalah industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer mencatat
pertumbuhan produksi sebesar 11,48%, diikuti pertumbuhan industri barang
logam, bukan mesin dan peralatannya 11,37%, industri makanan 10,77%, industri
logam dasar 10,57%, dan industri percetakan serta reproduksi media rekaman naik
sebesar 9,42%. Blue-Print Pengembangan Industri Kreatif Menuju Visi Ekonomi
Kreatif Indonesia 2025 yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan pada
tahun 2008 memaparkan industri percetakan termasuk dalam rencana
pengembangan 14 subsektor industri kreatif (2009-2025). Percetakan termasuk
dalam jenis perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur,yang
memerlukan pengelolaan aktiva lancarnya agar lebih efisien. Hal ini karena
proporsi aktiva lancar perusahaan manufaktur biasanya lebih dari separuh total
aktivanya. Perusahaan dengan jumlah aktiva lancar yang terlalu sedikit dapat
mengalami kekurangan dan kesulitan dalam mempertahankan operasi yang lancar.
PT XYZ merupakan perusahaan yang bergerak dibidang percetakan dan
penerbitan berskala nasional. Perusahaan ini bergerak di industri cetakan offset
dengan kapasitas produksi cetak lembaran (sheetfed) dan cetak gulungan (web
offset). Perusahaan XYZ saat ini berupaya untuk mencari dan memperluas pasar
di luar captive (BPT Telkom) yaitu pasar commercial seperti pemerintahan,
swasta dan bank. Dalam upaya peningkatan penjualan dengan memasuki pasar
baru, PT XYZ memiliki kendala dalam ketersediaan modal kerja dalam
pengadaan material dan sarana prasarana produksi untuk penyelesaian pekerjaan
cetak. Hal tersebut dikarenakan karakteristik pelanggan pada pasar pemerintahan,
swasta dan perbankan tidak ada uang muka pembayaran (down payment) dan
umur piutang yang lebih dari 6 bulan. Operating cyle dan Cash Cycle dari tahun
2009 sampai dengan tahun 2013 menunjukkan bahwa modal kerja perusahaan
terikat dalam piutang dan persediaan selama lebih dari 200 hari atau lebih dari 6
bulan. Hal itu menyebabkan perusahaan mengalami kekurangan ketersediaan kas
untuk membiayai kegiatan operasional. Kondisi tersebut mendorong perusahaan
menggunakan pinjaman atau hutang untuk membiayai aktivitas operasional.
Peningkatan beban bunga disebabkan sebagian besar pembelanjaan perusahaan di
danai oleh pihak kreditur yaitu perbankan dan lembaga keuangan. Biaya
operasional dan investasi atas aktiva tetap terus meningkat setiap tahunnya. Hal
tersebut mengakibatkan perusahaan menanggung beban bunga yang cukup besar
setiap tahunnya. Pembiayaan atas pembelanjaan perusahan rata-rata sebesar 70%
di danai oleh pinjaman dibandingkan modal sendiri yang hanya sebesar 30%.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang kinerja keuangan
perusahaan, modal kerja dan faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap Debt to
Total Asset di perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus
pada PT XYZ dengan menggunakan data selama 5 tahun dari 2009 sampai dengan 2013 dilanjutkan dengan data Semester I tahun 2014. Penelitian dilakukan pada
bulan Agustus-September 2014. Metode penelitian menggunakan analisis laporan
keuangan secara horizontal, vertikal dan rasio-rasio keuangan, tingkat leverage
perusahaan, analisis penjualan, modal kerja bersih , siklus kas dan analisis regresi
linier berganda. Faktor-faktor yang digunakan pada analisis statistik adalah umur
piutang (X1), penjualan (X2), umur persediaan (X3), pertumbuhan aset tetap
(X4), umur hutang usaha (X5) dan tingkat total leverage (X6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari aspek kinerja keuangan
perusahaan menunjukkan pertumbuhan penjualan yang meningkat, marjin
EBITDA berkisar 12-21 persen, marjin laba operasi berkisar 9-18 persen dan
marjin laba bersih 2- 4 persen. Pada aspek likuiditas dan arus kas menunjukkan
penurunan kemampuan perusahaan dalam ketersediaan modal kerja. Siklus kas
perusahaan menunjukkan umur piutang dan umur persediaan yang semakin lama.
Pada aspek solvabilitas, rasio hutang terhadap aktiva mengalami peningkatan
selama 5 tahun terakhir. Tingkat leverage operasi dan keuangan perusahaan juga
mengalami peningkatan. Variabel modal kerja yang memiliki pengaruh signifikan
terhadap solvabilitas adalah umur piutang (X1), umur persediaan (X2), umur
hutang usaha (X4) dan variabel di luar modal kerja yang berpengaruh signifikan
terhadap solvabilitas adalah pertumbuhan aset tetap (X3). Variabel penjualan (X2)
dan tingkat total leverage (X6) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
solvabilitas.
Implikasi manajerial atas pengelolaan modal kerja adalah perusahaan
harus berupaya menurunkan umur piutang dengan menerapkan kebijakan umur
piutang sesuai karakter pelanggan baik koorporasi maupun non koorporasi. Untuk
umur persediaan perusahaan melakukan kebijakan stok bahan baku produksi
untuk kebutuhan 3-4 bulan kedepan atas bahan baku produksi yang berulang.
Untuk umur hutang usaha, perusahaan diharapkan mengelola kebijakan pembelian
secara kredit yang menguntungkan pengelolaan kas perusahaan. Implikasi
manajerial atas pengelolaan pertumbuhan aset tetap, perusahaan harus
mengoptimalkan kapasitas produksi atas aset tetap untuk mendukung peningkatan
penjualan dan membantu perusahaan dalam memenuhi kewajiban beban-beban
tetap atas aset tersebut. Sedangkan atas variabel penjualan dan tingkat total
leverage, perusahaan harus lebih dapat memberikan penawaran yang kompetitif
dan penetapan struktur biaya yang efisien untuk peningkatan penjualan sehingga
dapat menutup beban-beban tetap atas kegiatan operasional dan keuangan. | |