| dc.description.abstract | Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dimana kegiatan usaha
masyarakat mayoritas di sektor pertanian. Masyarakat yang kondisinya seperti ini,
lebih cenderung melakukan organisasi gotong royong didalam memenuhi atau
mencukupi kebutuhan perekonomiannya. Disamping ada usaha perorangan ada
juga usaha bersama dalam wadah organisasi sosial yaitu mereka masuk dalam
koperasi simpan pinjam di dalam masyarakat, yang di bentuk oleh lembaga
lembaga kecil yang belum berbadan hukum seperti koperasi simpan pinjam (KSP)
atau unit simpan pinjam (USP).
Bank Bukopin sebagai bank yang memiliki misi berpihak pada koperasi dan
usaha kecil, sejak akhir tahun 1997 telah memberikan perhatian yang lebih besar
sebagai upaya ikut serta dalam meningkatkan usaha mikro yaitu mengadakan
kerjasama dengan koperasi yang disebut dengan pola kemitraan Swamitra.
Namun, dalam perkembangannya cukup banyak Swamitra yang tutup akibat gagal
dalam mengelola unit Swamitra dimana salah satu penyebabnya adalah pinjaman
yang bermasalah.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik penyaluran
pinjaman di Swamitra, mengkaji profil debitur yang memungkinkan terjadinya
risiko kredit macet, dan menganalisis faktor yang mempengaruhi terjadinya kredit
macet pada Lembaga Keuangan Mikro Swamitra Cabang Tasikmalaya dengan
metode analisis deskriptif dan regresi logistik.
Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa sebagian besar debitur bukan
anggota koperasi, berusia 31-40 tahun, bergender laki-laki, pendidikan
SMU/sederajat, pendapatan berkisar di Rp 1.000.000-Rp 2.000.000, memiliki
karakteristik usaha dagang. Mayoritas besarnya plafond pinjaman adalah dibawah
Rp 20.000.000, suku bunga >30%, dengan jangka waktu pinjaman 1-36 bulan,
penyaluran pinjaman dipergunakan atau dimanfaatkan untuk bidang usaha
produktif. Pinjaman yang disalurkan tersebut sebagian besar monitoring
administratifnya tidak dilakukan BI checking karena pinjaman sebagian besar
didominasi plafond dibawah Rp 40.000.000.
Gambaran profil debitur macet di Swamitra Cabang Tasikmalaya adalah
didominasi oleh kelompok yang terdaftar sebagai non anggota koperasi, tingkat
pendidikan dasar dan menengah serta tingkat pendapatan kecil yakni kurang dari
Rp 2.000.000. Berdasarkan hasil analisis logistik terdapat tujuh variabel yang
berpengaruh nyata atau signifikan terhadap tingkat kolektibilitas pinjaman yaitu
plafond, jangka waktu, suku bunga, skala ekonomi, keanggotaan koperasi,
pendidikan, dan pendapatan. Berdasarkan ketujuh faktor tersebut, suku bunga
adalah variabel yang berpengaruh signifikan paling besar dan positif terhadap
kualitas pinjaman macet. Sedangkan karakteristik usaha, strategi monitoring, usia,
dan gender tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas pinjaman. | |