| dc.description.abstract | Rumah Sakit Dhuafa (RS Dhuafa) masih kesulitan memenuhi jumlah tenaga
perawat sesuai kebutuhan. Selain masalah kuantiti dan kualitas perawat yang
dibutuhkan, permasalahan lainnya adalah terjadi turnover yang cukup tinggi dari
perawat-perawat yang telah terekruit terutama pada periode Januari – Desember 2013
sebesar 13%. Kekurangan tenaga perawat dalam melayani pasen dapat berdampak
terhadap kelelahan kerja, memengaruhi motivasi, kenyamanan, dan kepuasan kerja
hingga pengunduran diri. Faktor yang turut menyumbang timbulnya tingkat turnover
pegawai yang tinggi adalah ketidakpuasan pegawai. Umumnya timbulnya turnover
diawali dengan adanya turnover intentions (niat untuk keluar) dari karyawan. Faktor
kepuasan kerja menjadi faktor yang paling memengaruhi kecenderungan dan
keputusan karyawan untuk keluar dari tempat kerjanya. Berdasarkan latar belakang di
atas, maka masalah penelitian adalah bagaimana hubungan antara motivasi dan
kepuasan kerja perawat, dan bagaimana hubungan antara kepuasan kerja dan turnover
intentions pada perawat. Penelitian ini dilakukan untuk mencoba mengkaji
berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan. Adapun tujuan penelitian ini adalah
menganalisis hubungan antara motivasi dan kepuasan kerja perawat, dan menganalisis
hubungan kepuasan kerja dengan turnover intentions perawat.
Penelitian ini merupakan penelitian korelasi (Correlational Study). Jenis data
penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Metode pengambilan data sekuder
dilakukan berdasarkan laporan dari rumah sakit. Sedangkan metode pengambilan data
primer dilakukan dengan observasi langsung, menyebarkan kuesioner kepada perawat
sebagai responden, dan wawancara dengan atasan perawat. Data yang terhimpun
kemudian diolah dengan metode analisis data pada penelitian ini menggunakan
analisis Partial Least Square (PLS) versi 2.
Responden dari penelitian ini adalah karyawan bagian keperawatan di RS
Dhuafa. Karakteristik dari responden diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin, usia,
status perkawinan, pendidikan terakhir, pengalaman bekerja, masa kerja, status
kepegawaian, dan jabatan. Data kuesioner diolah dengan metode analistik SmartPLS,
dilakukan pengujian validitas dan reabilitas. Hasilnya indikator-indikator yang
digunakan pada penelitian ini mempunyai validitas dan reabilitas yang cukup baik
atau mampu untuk mengukur konstruknya. Kemudian model struktural dapat
dievaluasi dengan melihat nilai R-square pada konstruk dependen atau variabel
endogen dan koefisien parameter jalur (Path Coeficient Parameter). Batas nilai tstatistik untuk menolak dan menerima hipotesis yang diajukan adalah 1,96.
Interpretasi hasil uji Hipotesis berdasarkan data diketahui koefisien hubungan
motivasi dengan kepuasan kerja sebesar 0,8181 dengan thitung 17,1894 lebih besar dari
ttabel (1,96) maka H0 dalam penelitian ini ditolak, dan H1 yang menyatakan ada
hubungan yang signifikan antara motivasi dengan kepuasan kerja perawat RS Dhuafa
diterima. Selanjutnya koefisien hubungan kepuasan dengan turnover intentions
sebesar 0,3783 dengan thitung 2,6629 lebih besar dari ttabel (1,96) maka H0 dalam
penelitian ini ditolak dan H1 yang menyatakan ada hubungan yang signifikan antara
kepuasan kerja dengan turnover intentions diterima.
Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen dalam meningkatkan
kepuasan karyawan antara lain: menyusun sistem remunerasi, membuat sistem
penilaian kinerja dan sistem jenjang karir karyawan untuk memotivasi meningkatkan
kompentensi mereka. Kondisi hubungan sosial yang baik di antara perawat perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan agar karyawan merasa betah dan malas mencari
lingkungan kerja baru. Kepekaan dan empati atasan perlu ditingkatkan, supaya mereka
merasa diperhatikan dan dibimbing.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa motivasi didasarkan pada tiga
kebutuhan relatif seimbang, dan tidak berhirarki dalam upaya memenuhinya. Terdapat
hubungan yang signifikan antara motivasi dengan kepuasan kerja perawat. Namun
dari lima indikator kepuasan kerja yang diukur, faktor pembayaran merupakan faktor
yang terendah kepuasannya, sedangkan rekan kerja sebagai faktor yang memberi
kepuasan tertinggi yang mereka rasakan. Kepuasan kerja mempunyai hubungan yang
signifikan dengan timbulnya turnover intentions pada perawat di RS Dhuafa. Semakin
puas yang mereka rasakan, menurunkan keinginan untuk resign dari tempat kerja.
Faktor perilaku yang cukup signifikan menunjukkan turnover intentions pada perawat
RS Dhuafa adalah perilaku mencari informasi pekerjaan di tempat lain, dan berfikir
berhenti bekerja. | |