| dc.description.abstract | ANISSA AKMAL. Pengaruh Flexible Working dan Digital Skill terhadap Work- Life Balance Karyawan Generasi Y di Jabodetabek. Dibimbing oleh HARTOYO dan BAGUS SARTONO.
Di era digital 4.0 kemajuan teknologi semakin berkembang dengan pesat salah satunya di bidang bisnis digital terutama dalam hal pencarian kerja. Digitalisasi di tempat kerja telah memungkinkan meningkatkan efisiensi tempat kerja dengan data,aplikasi, dan alat kolaborasi yang dibutuhkan karyawan untuk bekerja di perangkat apa pun, kapan pun, dimana pun, membantu meningkatkan produktivitas dan memecahkan masalah. Penelitian bertujuan 1) menganalisis pengaruh variabel flexibility working arrangement terhadap digital skill, 2) menganalisis pengaruh variabel flexibility working arrangement terhadap work life balance, 3) menganalisis pengaruh variable digital skill terhadap work life balance pada karyawan generasi Y di Jabodetabek.
Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Objek penelitian adalah karyawan generasi Y di Jabodetabek dengan sumber data primer melalui kuesioner. Penelitian dilakukan pada bulan November 2024. Teknik pengambian sampel dengan skala 1 sampai 5, dengan Penelitian dilakukan pada 230 responden. Analisis statistik yang digunakan adalah Structural Equation Model (SEM) dan Importance-Performance Analysis (IPA)
Hasil penelitian flexible working arrangement (FWA) memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap digital skills, flexible working arrangement (FWA) memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap work-life balance (WLB) dan digital skills memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap work-life balance (WLB) pada karyawan generasi Y di wilayah Jabodetabek. R-Square 0,643 untuk variabel digital skills menunjukkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan 64,3 persen. R-Square sebesar 0,675 menunjukkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan 67,5 persen variasi dalam work-life balance. Sementara itu untuk hasil IPA Berdasarkan analisis IPA nilai rata-rata tingkat kepuasan adalah 3,70 sedangkan rata-rata tingkat kepentingannya 4,43 sehingga terdapat 5 indikator yang masuk dalam kuadran A, 18 indikator kategori B, 15 indikator kategori C, dan 6 indikator dengan kategori D. Sehingga implikasi manajerialnya adalahPengaruh positif FWA terhadap digital skills dan work-life balance mengharuskan organisasi untuk mengambil pendekatan sistematis dalam pengembangannya. Organisasi perlu merancang kebijakan kerja fleksibel yang komprehensif dan sistematis, bukan sekadar kebijakan ad-hoc. Kebijakan ini harus didukung oleh infrastruktur teknologi yang memadai untuk memastikan kelancaran implementasi FWA, seperti sistem cloud, platform kolaborasi virtual, dan alat manajemen proyek digital. Dengan hubungan signifikan antara digital skills dan work-life balance, organisasi perlu memprioritaskan pengembangan keterampilan digital karyawan. Program ini mencakup penyediaan akses pelatihan dan sertifikasi digital, baik melalui kursus internal maupun kemitraan dengan platform pembelajaran eksternal. Organisasi disarankan untuk mengembangkan program kesejahteraan karyawan yang komprehensif yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial. Program ini dapat dilengkapi dengan layanan dukungan psikologis dan konseling untuk membantu.
karyawan mengatasi stres dan tantangan dalam menyeimbangkan tanggung jawab kerja dan kehidupan pribadi. | |