| dc.description.abstract | Sektor pertanian Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja dan pembentukan devisa negara. Sektor agribisnis Indonesia memiliki potensi sebagai penggerak utama (prime mover) ekonomi nasional dengan kelimpahan potensi sumber daya alam maupun besarnya potensi tenaga kerja yang tersedia. Sehingga dengan demikian maka pembangunan sektor pertanian merupakan salah satu pilihan strategis untuk menopang perekonomian nasional maupun daerah dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang unggul di bidang pertanian. Perkembangan sektor pertanian tentu tidak lepas dari peran sub sector peternakan. Pembangunan sub sektor peternakan ini juga sebenamya memiliki nilai strategis tersendiri, yaitu dalam memenuhi kebutuhan pangan asal hewani yang terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan pendapatan rata-rata penduduk, dan penciptaan lapangan pekerjaan (Daryanto, 2009).
Peternakan sapi perah merupakan salah satu bagian dari subsektor peternakan yang saat ini perlu di perhatikan di Indonesia. Melihat kondisi ekologi, geografis dan kesuburan tanah beberapa wilayah Indonesia, maka sebenarnya peluang untuk mengembangkan industri persusuan ini cukup baik. Namun demikian, produksi susu domestik Indonesia baru dapat memenuhi 25-30% dari total konsumsi nasional. Untuk itu maka peningkatan produksi susu domestik perlu dilakukan untuk dapat mengurangi ketergantungan terhadap susu impor dan meraih peluang pasar susu domestik. Salah satu kunci dalam pembangunan peternakan sapi perah terletak pada pengembangan koperasi-koperasi sustu
Dalam agribisnis persusuan di Indonesia, peternak tidak bisa lepas dari keberadaan koperasi. Mayoritas peternak sapi perah di Indonesia merupakan peternak kecil yang memiliki kurang lebih hanya dua sampai lima ekor sapi, sehingga mereka membutuhkan sebuah tempat untuk menampung produksi susu mereka dan mendistribusikannya kepada IPS. Hal ini menunjukan peranan penting yang dimaikan koperasi dalam rantai nilai komoditas susu segar. Koperasi dapat memacu perkembangan agribisnis persusuan sehingga diperlukan pemberdayaan koperasi untuk meningkatkan skala usaha, meningkatan kemampuan produksi susu dan menekan biaya produksi.
Salah satu koperasi susu yang terdapat di propinsi Jawa Barat, Kota Bogor adalah Koperasi Produksi Susu Bogor. Keberadaan KPS Bogor dalam rantai nilai susu di Bogor sangat penting bagi keberlanjutan usaha para peternak sapi peralı, sebab melalui wadah koperasi inilah seluruh hasil produksi susu sapi peternak dapat tersalurkan kepada konsumen. Analisis rantai nilai KPS Bogor di harapkan mampu menbantu dalam mengidentifikasi faktor-faktor strategis internal dan juga eksternal koperasi yang dapat di gunakan untuk mencari strategi pengembangan KPS Bogor itu sendiri dengan harapan mampu meningkatkan daya saing.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini
adalah sebagai berikut : (1) Bagaimana rantai nilai KPS Bogor terkait kondisi
internal dan eksternal KPS Bogor? (2) Faktor-faktor strategis internal dan ekternal
apa sajakah yang mempengaruhi pengembangan KPS Bogor? (3) Apa dan
bagaimana strategi prioritas terpilih yang dapat diterapkan oleh KPS Bogor dalam
mengembangkan usaha mereka di masa depan?
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Menganalisis rantai
nilai terkait kondisi internal dan eksternal KPS Bogor. (2) Mengindentifikasi dan
mengkaji faktor-faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi pengembangan
KPS Bogor. (3) Merekomendasikan strategi prioritas dalam pengembangan KPS
Bogor di masa yang akan datang.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif
yaitu menjawab permasalahan yang sedang dihadapi perusahaan dalam bentuk
studi kasus, sehingga didapatkan gambaran yang luas dan mendalam selama
periode tertentu yang sedang berlangsung pada saat penelitian ini dilakukan. Data
yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari
kuesioner, wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka
berbagai sumber yang relevan. Teknik pengambilan contoh dilakukan dengan cara
sengaja (purposive sampling). Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa
responden yang bersangkutan memiliki keahlian dan kompeten dibidangnya.
Analisis rantai nilai dilakukan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal
yang berpengaruh dalam pengembangan KPS Bogor. Analisi PEST dan analisis
Industri (pendekatan porter’s five forces) juga digunakan untuk membantu
menggambarkan kondisi lingkungan eksternal KPS Bogor.
Produksi susu KPS Bogor saat ini sudah mencapai 14.000-15.000 liter per
hari dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hampir seluruh produksi
susu tersebut dibeli oleh PT. Indolakto Jakarta dengan kisaran harga Rp 3.400-
3.700. Peralatan yang digunakan oleh KPS Bogor dalam melakukan kegiatan
operasionalnya sudah cukup lengkap sehingga praktek cold chain distribution
dapat dilakukan dengan baik. Namun demikian berdasarkan standar kualitas yang
di tetapkan oleh PT. Indolakto, maka kualitas susu KPS Bogor masih tergolong
rendah, khususnya dalam jumlah TPC yang terkandung di dalamnya sehingga
mendapatkan sangsi berupa pemotongan harga. Hal ini juga bisa disebabkan
sebaran peternak yang cukup luas, dimana terdapat peternak dari Depok, Ciawi,
Parung, Tajur Halang dan Cilebut sehingga fungsi pengawasn dan pembinaan oleh
koperasi tidak optimal. Berdasarkan analisis pengelolaan rantai nilai, maka terlihat
bahwa hubungan antara KPS Bogor dengan PT. Indolakto bersifat captive, yang
menunjukan bahwa KPS Bogor memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi
terhadap PT. Indolakto. Namun rencana pembangunan pabrik pengolahan susu
PT. Cimory di sentul dapat memberikan pasar alternatif bagi KPS Bogor untuk
menjual produksi susunya.
Faktor-faktor lingkungan internal yang berpengaruh dalam peyususnan
strategi pengembangan KPS BOGOR terdiri dari faktor kekuatan dan faktor
kelemahan. Berdasarkan hasil analisis rantai nilai, faktor-faktor lingkungan
internal yang menjadi kekuatan adalah : a) Mampu memproduksi pakan
konsentrat ternak sendiri dengan harga yang lebih ekonomis, b) Adanya kunak
sebagai wilayah peternak sapi yang terkonsentrasi dengan kapasitas lahan yang
belum habis terpakai, c) Produksi susu sapi peternak terus meningkat, d) Fasilitas produksi relatif memadai. Di lain pihak faktor-faktor lingkungan internal yang
menjadi kelemahan adalah : a) Ketergantungan kepada penjualan susu segar, b)
Kurang optimalnya pengelolaan unit pengolahan susu pasteurisasi, c) Cakupan
wilayah sebaran sebagian anggota relatif luas, d) Kualitas susu yang rendah.
Faktor-faktor lingkungan eksternal yang berpengaruh dalam penyusunan
strategi pengembangan terdiri dari faktor peluang dan faktor ancaman.
Berdasarkan hasil analisis Industri dan PEST, faktor-faktor lingkungan eksternal
yang menjadi peluang adalah : a) Jaminan pasar terkait kuota permintaan susu
yang cukup besar dari PT. Indolakto, dimana belum terpenuhi seluruhnya oleh
KPS bogor, b) Meningkatnya konsumsi susu masyarakat akan setiap tahun, c)
Akan dibukanya pabrik pengolahan susu PT. Cimory di sentul, Faktor-faktor
lingkungan eksternal yang menjadi ancaman adalah : a) Kebijakan pemerintah
mengenai Impor susu, b) Sulitnya kredit dari lembaga keuangan, c) Harga pakan
yang meningkat.
Berdasarkan analisis SWOT maka di dapatkan enam alternative strategi
yaitu: (a) Promosi investasi bagi para investor terkait prospek usaha ternak sapi
perah, (b) Membangun aliansi strategis dengan peternak besar dan industri
pengolahan susu, (c) Pengembangan produk dan Optimalisasi unit pengolahan
susu pasteurisasi, (d) Supervisi yang terintegrasi oleh KPS kepada peternak, (e)
Forum diskusi periodik antara semua stakeholder, (f) Optimalisasi koordinasi
wilayah. Dari hasil analisis dengan menggunakan AHP didaptkan tiga strategi
prioritas yang mendapatkan bobot paling tinggi yaitu supervisi yang terintegrasi,
optimalisasi koordinasi wilayah dan aliansi dengan peternak besar dan IPS. | |