| dc.description.abstract | Adanya trend penurunan suku bunga Bank Indonesia memicu peningkatan obligasi yang cukup pesat. Selama kuartal II 2011, pertumbuhan penerbitan obligasi korporasi Indonesia tertinggi diantara negara-negara Asia yaitu sebesar 8.9 persen dibandingkan dengan rata rata Asia sebesar 4.4 persen.
Lebih dari 90 persen pembeli obligasi adalah lembaga seperti perusahaan sekuritas, asuransi, dana pensiun dan Bank. Krisis utang negara Eropa dan Amerika yang memicu krisis global. mendorong perusahaan asing untuk berinvestasi di negara emerging market seperti Indonesia dan pada produk pasar modal yang memiliki risiko relatif kecil. Peningkatan investasi pada obligasi mencerminkan perubahan preferensi atas tingkat risiko dan imbal hasil (renan) yang ingin dicapai investor. Tujuan investor adalah untuk mendapat remen yang tinggi. Obligasi korporasi memiliki yield yang lebih tinggi dibandingkan Surat Utang Negara.
Peningkatan emisi obligasi tersebut, terkait dengan potensi pertumbuhan korporasi untuk melakukan ekspansi. Sektor energi dan pertambangan merupakan sektor yang sangat besar kontribusinya terhadap pendapatan negara tetapi dukungan perbankan terhadap sektor ini masih sangat kecil. Karakteristik pertambangan yang non-renewable, mempunyai dampak lingkungan, cadangan terbukti berkurang dengan produksi dan bertambah dengan adanya penemuan. menyebabkan pertambangan memiliki risiko yang relatif tinggi. Risiko tersebut berpotensi terjadinya gagal bayar (credit risk).
Selain return, investor juga harus mempertimbangkan risiko investasi yaitu besamya peluang terjadiya risiko dan besarnya nilai kerugian apabila risiko tersebut benar benar terjadi. Return yang didapat dalam berinvestasi di obligasi adalah yield. Held adalah ukuran pendapatan obligasi yang akan diterima investor, dimana jumlahınya akan berubah seiring berjalannya waktu. aktu. Semakin panjang waktunya semakin tinggi risikonya. Risiko obligasi dapat dipengaruhi oleh kondisi internal perusahaan yaitu kinerja keuangan, potensi pertumbuhan dan kondisi eksternal yaitu kondisi perekonomian makro.
Kinerja keuangan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya. Berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam membayar kupon dan nilai pokok obligasi maka analisis rasio yang dilakukan adalah analisis rasio likuiditas dan solvabilitas. Disisi lain, peluang pertumbuhan sektor pertambangan dan energi di Indonesia masih terbuka lebar, membuat ekspektasi meningkat karena investasi yang ditanamkan diharapkan mendapat renan yang lebih tinggi dimasa yang akan datang. Pertumbuhan perusahaan dapat diproksikan dengan berbagai macam kombinasi nilai set kesempatan investasi (Investments Opportunity Ser) dengan menggunakan proksi berbasis investasi yaitu rasio imesament net sales, fix asser dan capital expenditnare to book value asser Selain itu, dalam sistem perekonomian terbuka, perkembangan ekonomi
makro saling mempengaruhi antar variabel, sehingga kinerja perusahaan dan
investasi akan terpengaruh oleh kondisi makro dan kebijakan atas variabel
variabelnya. Variabel ekonomi makro sulit untuk dihindari karena banyaknya
faktor yang mempengaruhi, sulit dikendalikan dan tergantung situasi serta kondisi
pasar. Dalam membuat keputusan investasi yang menguntungkan, investor harus
mempertimbangkan beberapa indikator ekonomi makro seperti inflasi, suku bunga
nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini berfokus pada
analisis kinerja keuangan perusahaan dari sisi likuiditas dan solvabilitas, prospek
pertumbuhan yang diukur menggunakan IOS, perkembangan ekonomi makro
Indonesia dilihat dari inflasi, suku bunga, nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi
tahun 2007 – 2010 dan bagaimana pengaruh kinerja keuangan, pertumbuhan dan
kondisi makro ekonomi terhadap yield obligasi perusahaan tambang dan energi.
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan deskriptif
dan ekonometrik yaitu regresi data panel. Jumlah seri obligasi yang dijadikan
obyek penelitian sebanyak 14 seri obligasi dengan time series mulai dari quartal I
tahun 2007 sampai quartal III tahun 2010, karena data masing-masing crosssection memiliki observasi time series yang tidak sama banyaknya sehingga data
panel yang dilakukan adalah unbalanced data panel.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah yield obligasi dan variabel
independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio likuiditas (Cash flow
ratio dan Cash flow to capital expenditures), rasio solvabilitas (Interest Coverage
dan Cash Flow to Debt), proksi IOS berbasis investasi (Investment to Net Sales,
Fix Asset, Capital Expenditure to Book Value Asset) dan variabel makro (inflasi,
suku bunga, nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi).
Hasil analisis deskriptif pada kinerja keuangan dilihat dari rasio likuiditas
dan solvabilitas. Kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka
pendeknya dapat dilihat dari rasio likuiditas yaitu ratio cash flow dan Cash flow to
capital expenditure. Rata rata rasio CF sebesar 0,3165 artinya rata rata arus kas
yang dihasilkan perusahaan hanya bisa membiayai 31,65% kewajiban jangka
pendeknya dan rata rata rasio CFC adalah 0.9309, artinya 93% pengeluaran modal
dapat dibiayai dari arus kas. Rasio Solvabilitas dilihat dari rasio Intereset
Coverage (IC) dan Cash flow to Debt (CFOD). Rata rata IC perusahaan tambang
dan energi sebesar 1,075, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak memiliki
kesulitan untuk membayar bunga hutangnya karena laba perusahaan dari kegiatan
operasi dapat membayar bunga hutangnya dan rata rata rasio CFOD sebesar
0,0939 artinya secara umum, hanya 10% hutang dapat dibiayai dari arus kas
produksi sehingga data disimpulkan bahwa rasio likuiditas dan sovabilitas
perusahaan masih rendah, meskipun demikian, perusahaan tidak mengalami
kesulitan untuk membayar bunga hutang dan kewajibannya.
Hasil analisis deskriptif pertumbuhan perusahaan menunjukkan dengan
proksi IOS menunjukkan rata rata ratio fix asset sebesar 0,531. rata rata
Investment to sales sebesar 0,3959 dan rata rata capital expenditure to book value
asset sebesar 0,3406. Hal ini menunjukkan bahwa hampir 40-50% pendapatan dan
penjualan digunakan untuk berinvestasi dan tingkat aktivitas investasi perusahaan
tambang dan energi cukup tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan
pertambangan dan energi adalah perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan yang terlihat dari peningkatan nilai IOS yang mengidikasikan bahwa
perusahaan melakukan peluang investasi baru dengan menambahkan pengeluaran
modal untuk menangkap kesempatan investasi dimasa yang akan datang.
Sedangkan analisis perkembangan ekonomi ekonomi makro Indonesia sepanjang
tahun 2007–2010 relatif stabil dan terkendali. Selama periode tersebut banyak
peristiwa penting terjadi seperti krisis keuangan Amerika, krisis utang Yunani,
kenaikan harga minyak dan komoditas pangan dunia yang mempengaruhi kondisi
perekonomian global.
Berdasarkan hasil uji asumsi klasik data telah terdistribusi normal, tidak
terdapat multikolinieritas dan heteroskedastisitas tetapi mengandung autokolerasi,
sehingga pengujian dilakukan dengan cross section SUR untuk menghilangkan
autokolerasi. Dari hasil pengujian regresi data panel didapatkan bahwa model
yang tepat adalah model efek tetap (MET). Asumsi pada model MET adalah
adanya perbedaan diantara karakteristik obligasi perusahaan tambang dan energi
yang didasarkan oleh adanya perbedaan intersep antara obligasi perusahaan
namun intersep antar waktu sama. Obligasi PPLN07 dan APEX02 B memberikan
rata rata perubahan yield paling besar tetapi dengan arah yang berbeda.
Koefisien determinasi sebesar 0,96577 artinya kemampuan variabel
dependen untuk menjelaskan variabel indenpenden sebesar 96%. Berdasarkan
hasil uji F didapatkan F hitung sebesar 0,000000, dengan tingkat signifikansi α
5% maka F hitung < F Tabel sehingga Ho ditolak atau Hi
diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa secara bersama sama variabel Cash flow to capital
expenditures, Interest coverage, proksi IOS yaitu ratio investment to net sales,
capital expenditure to book value asset dan fix asset, variable makro yaitu suku
bunga, inflasi, nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap yield
obligasi. Berdasarkan uji parsial t didapatkan yang berpengaruh terhadap yield
obligasi pada signifikansi α 1% adalah pertumbuhan ekonomi, signifikasi α 5%
adalah perubahan nilai tukar dan pada signifikansi α 10% adalah interest coverage
ratio dan capital expenditure to book value asset.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut direkomendasikan pada investor
untuk memasukkan obligasi pertambangan dan energi kedalam portofolio
investasi karena memberikan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
reksadana ataupun deposito. Semakin tinggi kupon maka sensitivitas yield
semakin rendah, meskipun obligasi disimpan dalam jangka panjang, tidak terjadi
fluktuasi penurunan yield yang signifikan. Perusahaan yang sedang tumbuh
memberikan yield obligasi yang lebih tinggi. Bagi emiten, kondisi perekonomian
yang membaik harus dijadikan peluang bagi perusahaan untuk menangkap
peluang investasi. Perusahaan juga harus memperhatikan pergerakan nilai tukar
dan pertumbuhan ekonomi. Perubahan nilai tukar sangat sensitif bagi perusahaan
yang bergerak dibidang ekspor impor seperti pertambangan. Pemerintah sebagai
regulator harus senantiasa mendukung penciptaan iklim investasi yang kondusif
yaitu dengan membuat kebijakan yang mampu meminimalisir volatilitas nilai
tukar dan peningkatan pertumbuhan ekonomi. | |