| dc.description.abstract | Berinvestasi saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian orang yang tahu memanfaatkan peluang untuk memperoleh keuntungan maksimal dari harta yang dimilikinya. Berbagai alternatif jenis investasi dapat dilakukan pada instrumen keuangan mulai dari yang berisiko kecil (pasar uang) seperti deposito, emas, valas, sampai dengan investasi yang berisiko besar (pasar modal) yaitu investasi dalam bentuk saham, obligasi dan lainnya. Investor selalu dihadapkan pada dua hal yang saling berlawanan yaitu memaksimalkan keuntungan yang diharapkan serta meminimumkan tingkat risiko yang dihadapi. Risiko yang dihadapi oleh investor dibagi dalam dua bagian yaitu risiko tidak sistematis (unsystematic risk) dan risiko sistematis (systematic risk). Risiko tersebut dapat diminimalisir dengan diversifikasi pada portofolio saham. Pada penulisan tesis ini dilakukan kajian terhadap 7 saham-saham Jakarta Islamic Index (JII) yang telah lolos seleksi pemilihan saham selama periode 2007-2010, meliputi saham AALI, ANTM, INTP, INCO, TLKM, UNVR dan KLBF. Data yang digunakan adalah data harga penutupan harian saham-saham JII, IHSG dan BI Rate sebagai aset bebas risiko.
Pembentukan portofolio dilakukan dengan dua model, yaitu Single Index Model (SIM) dan model Markowi. Kedua model ini dibandingkan satu sama lain sehingga diperoleh model mana yang memberikan kinerja pembentukan portofolio optimal yang lebih baik Kinerja portofolio diukur dengan menggunakan 4 (empat) metode, yaitu Treynor Ratio, Sharpe Ratio, Jensen Rario dan Information Ratio (IR)/Appraisal Ratio. Kombinasi saham yang diperoleh dari pembentukan portofolio optimal dan mempunyai kinerja yang lebih baik, selanjutnya dihitung berapa besarnya kerugian maksimal yang ditanggung oleh investor jika ia menanamkan dananya dengan holding period tertentu sesuai preferensi investor.
Di samping itu, pada SIM, proses pemilihan kandidat saham pembentuk portofolio dilakukan sebelum portofolio terbentuk atau dengan kata lain sudah terbentuk pada saat perhitungan excess return to bera (ERB). Metode Markowitz digunakan untuk penentuan portofolio optimal dilakukan pada saat telah terbentuknya beberapa kombinasi portofolio pada grafik efficient frontier. Selanjutnya, portofolio optimal diperoleh dari persinggungan garis Capital Alocation Pricing Model (CAPM) dengan grafik efficient frontier.
Pembentukan portofolio optimal pada SIM diperoleh melalui dua tahap, yaitu pemilihan kandidat portofolio optimal sebagai tahap pertama dan tahap kedua adalah pembentukan portofolio optimal. Tahap pertama, diperoleh dengan cara mencari rata-rata expected return dari masing-masing saham yang diteliti, return pasar dan return dari IHSG. Selanjutnya dicari beta saham dengan proses regresi linier biasa, tingkat risiko masing-masing saham, rasio ERB, dan cut off point (C*). Dari tahapan tersebut diperoleh saham-saham yang masuk dalam kandidat portofolio optimal. Rasio ERB dan cut off point (C*) memberikan saham
yang termasuk dalam kandidat saham optimal dan saham yang tidak optimal. Pada
penelitian ini, ada dua saham dari tujuh saham JII yang diteliti, yang masuk dalam
kandidat portofolio optimal, yaitu saham AALI dan saham KLBF. Dari tahap
pertama, diperoleh return untuk saham AALI sebesar 0,135% dan return saham
KLBF sebesar 2,728%, sedangkan risiko saham AALI adalah sebesar 3,5% dan
risiko saham KLBF sebesar 64, 99%. Setelah diperoleh risk and return dari
kandidat portofolio optimal, selanjutnya dilakukan tahap kedua yaitu
pembentukan portofolio optimal. Penentuan proporsi dana terhadap saham
dilakukan pada tahap kedua sebagai nilai yang menentukan besarnya risk and
return portofolio optimal. Proporsi dana yang diperoleh untuk saham AALI
adalah sebesar 93,52% dan proporsi dana untuk saham KLBF adalah sebesar
6,48%, sehingga diperoleh return portofolio optimal sebesar 0,3% dan risiko
portofolio optimal sebesar 5,3%. Dari proporsi dana ini juga dihitung beberapa
alternatif investasi dengan return pada berbagai tingkat risiko. Hal ini dilakukan
sebagai upaya untuk memenuhi keinginan investor.
Model Markowitz adalah model kedua yang digunakan dalam pembentukan
portofolio optimal pada 7 saham JII yang akan diteliti. Portofolio optimal
diperoleh dari titik persinggungan antara Capital Allocation Line (CAL) atau garis
CAPM dengan grafik efficient frontier. CAL merupakan garis dari return aset
bebas risiko, dimana dalam penelitian ini adalah tingkat suku bunga Bank
Indonesia (BI Rate).
Terdapat beberapa titik yang masuk ke dalam portofolio efisien pada grafik
efficient frontier. Dari beberapa titik portofolio efisien tersebut akan dihitung satu
titik persinggungan antara CAL dengan grafik efficient frontier yang akan
membentuk portofolio optimal. Model Markowitz pada penelitian ini dilakukan
melalui 3 tahap, yaitu memilih kombinasi portofolio yang memberikan risiko
paling kecil pada tingkat return tertentu. Dari 3 portofolio efisien yang dipilih,
yaitu portofolio yang terdiri dari 7 kombinasi saham, 6 kombinasi saham dan 5
kombinasi saham, maka diperoleh bahwa kombinasi portofolio dari 7 kombinasi
saham adalah yang optimal karena bersinggungan dengan garis CAL, dengan
proporsi 79,76% untuk saham AALI dan 11,41% untuk saham ANTM, 2,5%
untuk saham INTP, 5,51% untuk saham INCO, 0,71% untuk saham TLKM, 0,1%
untuk saham UNVR dan 0,00% untuk saham KLBF. Return portofolio yang
dihasilkan dari portofolio optimal tersebut adalah sebesar 0,2% dan tingkat
risikonya sebesar 3,1%. Pada portofolio optimal dengan model Markowitz ini
memberikan return yang lebih kecil bila dibandingkan dengan SIM, namun risiko
yang dihasikan juga lebih kecil daripada risiko pada SIM.
Setelah diperoleh risk and return optimal dari kedua model SIM dan model
Markowitz, maka kedua model tersebut diukur kinerjanya sehingga diperoleh
model terbaik dalam pembentukan portofolio optimal untuk penelitian ini. Ukuran
kinerja yang dipakai adalah Treynor Ratio, Sharpe Ratio, Jensen Ratio dan
Information Ratio (IR)/Appraisal Ratio. Tiga (3) dari empat (4) ukuran kinerja,
yaitu Treynor Ratio, Jensen Ratio dan Information Ratio (IR), memberikan hasil
bahwa kinerja pembentukan portofolio optimal dengan menggunakan SIM lebih
baik daripada model Markowitz.
Selanjutnya, penelitian juga melakukan perhitungan besarnya kerugian
maksimal dengan holding period tertentu yang dihasilkan dari portofolio optimal
yang dihasilkan dari metode dengan kinerja terbaik di atas, yaitu metode SIM.
Perhitungan tersebut dilakukan dengan pendekatan atau metode Value at Risk
(VaR). Metode VaR diukur dengan pengujian data return saham. Pengujian data
return tersebut melalui 3 uji statistik, meliputi uji stasioneritas, uji normalitas, dan
uji heteroskedastisitas. Dari Uji stasioneritas, diperoleh bahwa kedua saham AALI
dan KLBF memiliki saham yang stasioner. Uji stasioneritas return dilakukan
dengan Augmented Dickey Fuller (ADF) test untuk memastikan bahwa data sudah
stasioner. Data dalam keadaan stasioner berarti tidak terdapat perubahan yang
sistematis dalam varians, sehingga proses differencing tidak perlu dilakukan. Pada
uji stasioner ini juga dihitung model ARMA/ARIMA terbaik melalui proses trial
and error. Model ARMA/ARIMA ini sebagai dasar dalam perhitungan mencari
standar deviasi pada uji heteroskedastisitas untuk data yang bersifat
heteroskedastisitas melalui program minitab. Untuk saham AALI, model ARIMA
terbaik adalah ARIMA(1,0,1)25 dan model ARIMA terbaik untuk saham KLBF
adalah ARIMA(1,01)15. Uji statistik yang kedua adalah uji normalitas, dimana
diperoleh bahwa data kedua saham tidak terdistribusi secara normal. Jarque-Bera
adalah uji statistik untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau
tidak. Pada uji statistik yang ke-3, yaitu uji heteroskedastisitas, diperoleh bahwa
saham AALI bersifat heteroskedastis dan saham KLBF bersifat homoskedastis.
Uji heteroskedastisitas ini adalah untuk menetukan besarnya standar deviasi suatu
saham. Data saham AALI yang bersifat heteroskedastisitas terlebih dahulu harus
di homoskedastis melalui model ARCH/GARCH, sehingga diperoleh varian dan
standar deviasi dengan model terpilih/terbaik adalah GARCH (2,0,2)25 yang
diperoleh dari proses trial and error dengan program Eviews 6, sehingga data
tersebut bersifat homoskedastisitas. Standar deviasi untuk saham KLBF
menggunakan standar deviasi biasa yang diperoleh sama dengan perhitungan SIM
karena data sudah bersifat homoskedastis. Standar deviasi untuk saham AALI
adalah sebesar 2,51% dan standar deviasi untuk saham KLBF adalah sebesar
64,99%. Dari standar deviasi tersebut dapat dihitung besarnya kerugian maksimal
dari portofolio yang akan ditanggung oleh investor. Dari hasil perhitungan
diperoleh nilai VaR portofolio adalah sebesar 4,81% dengan holding period
tertentu.
Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa SIM adalah model kinerja
pembentukan portofolio optimal yang lebih baik daripada model Markowitz, yang
diukur dengan 4 (empat) ratio pengukuran kinerja. Sedangkan risiko holding
period dihitung dengan metode Value at Risk (VaR). Saran untuk penelitian
berikutnya adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membentuk
portofolio optimal dengan menggunakan metode yang lain seperti multi index
model sebagai perbandingan. | |