| dc.description.abstract | One day price drop adalah peristiwa kejatuhan harga saham secara besar besaran dalam satu hari perdagangan Peristiwa ini terjadi karena adanya informasi yang masuk ke pasar dan informasi tersebut memberikan efek negatif terhadap pasar. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya azymetri information di kalangan investor sehingga pihak BEI sendiri perlu mengeluarkan regulasi untuk mengatur perubahan harga saham dalam satu hari perdagangan.
Salah satu tonggak dalam ilmu keuangan diperkenalkan oleh Fama (1970), Fama memperkenalkan Efficient Market Hypotesis (EMH). Pasar yang effisien menurut Fama, adalah pasar yang harganya mencerminkan semua informasi yang tersedia di pasar. Peristiwa one day dop price merupakan bentuk informasi setengah kuat. Jika pasar dalam bentuk setengah kuat maka seharusnya tidak ada yang mendapat abnormal return dari peristiwa ini.
Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk menganalisis kandungan informasi dan overreaction hypothesis dari peristiwa One day price drop. Kandungan informasi dari peristiwa dianalisis dengan menggunakan average abnormal return (AAR) dan cumulative average abnormal return (CAAR). Analisis abnormal return dari peristiwa ini dibagi ke dalam tiga pengamatan. Pertama: menganalisis peristiwa one day price drop pada periode 2005-2010. Kedua: menganalisis peristiwa one day price drop pada periode 2005-2008. Ketiga menganalisis abnormal return peristiwa one day price drop pada periode 2008-2010. Dari ketiga pengamatan tersebut kemudian dirumuskan suatu implikasi manajerial untuk peristiwa one day price drop tersebut. Data yang digunakan berupa data sekunder, yaitu data harga saham harian dan data perusahaan yang mengalami peristiwa one day price drop selama periode Januari 2005 sampai dengan Desember 2010 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harian selama periode tersebut.
Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling, dimana perusahaan yang dipilih untuk menjadi sampel harus terdaftar selama periode tersebut. Penurunan dalam satu hari minimal 10% dan harga saham minimal 100 rupiah. Sampel yang dipilih tidak mengalami pembalikan pada hari berikutnya. Dalam satu hari perdagangan hanya dipilih satu sampel. Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik event study. Teknik ini mampu menganalisis dampak dari suatu pengumuman terhadap harga saham. Model expected return yang digunkan dalam penelitian ini adalah market model. Periode yang digunakan dalam menghitung expected return selama 200 hari sedangkan periode pengamatan yang digunakan selama 41 hari yaitu 20 hari sebelum kejadian sampai 20 hari setelah kejadian. Setelah diperoleh abnormal return kemudian dilakukan pengujian signifikansi dengan uji-t untuk menguji
apakah abnormal return yang dihasilkan berbeda dengan nol atau tidak.
Hasil pengujian menunjukan untuk peristiwa one day price drop pada
periode 2005-2010 menunjukan adanya kenaikan CAAR secara tajam sampai
pada H-1 sebesar 0,024583 kemudian diikuti dengan penuruan besar besaran pada
H0 sebesar -0,103067 penurunan ini diikuti dengan pembalikan kearah
sebaliknya sebesar 0,059843 pada H+1. Pengujian dengan uji-t menunjukan
adanya signifikansi pada hari sebelum kejadian pada H-2, H-1. Hal ini
menunjukan adanya kebocoran informasi di sebagian investor, sehingga mereka
bisa memanfaatkan informasi ini untuk memperoleh abnormal return. Setelah
terjadi kejadian one day price drop setelah pembalikan pada H+1 yang tajam dan
signifikan pada α = 1% menurut DeBondt dan Thaler (1985) pembalikan ini
diakibatkan oleh reaksi berlebihan dari investor. Ketika terjadi return yang tajam
pada periode H-1 diikuti dengan penurunan besar besaran pada hari berikutnya
mereka menyadari telah melakukan reaksi berlebihan terhadap suatu informasi.
hal ini menyebabkan terjadi penyesuaian yang tajam pada hari berikutnya.
Untuk menentukan lamanya reaksi berlebihan digunakan periode yang
dipakai oleh Cox dan Peterson (1994) dan Yu dan Leistikow (2011). Pengujian
dilakukan pada periode [+1,+3] dan [+4,+20]. Hasil pengujian menunjukan untuk
periode [+1,+3] terjadi signifikansi AAR sebesar 0,007372 dan CAAR sebesar
0,071496 sedangkan pada periode pada periode [+4,+20] sebesar 0,010033 untuk
AAR dan CAAR sebesar 0,0073 baik AAR dan CAAR menunjukan signifikansi
pada α = 1%. Signifikansi ini menunjukan overreaction dari investor berlangsung
dalam jangka panjang. Penelitian yang dilakukan oleh Cox dan Peterson (1994),
Atkins dan Dyl (1990), Bremer dan Sweney (1991) dan Pam Vu Thang Long
(2008) yang menemukan pembalikan dalam jangka pendek tetapi penelitian
DeBondt dan Thaler (1985) menemukan pembalikan juga bisa terjadi dalam
jangka panjang.
Hasil pengujian periode 2005-2008 menunjukan adanya kenaikan CAAR
sampai pada H-1 sebesar 0,011564 dan mengalami penuruanan terbesar pada
periode H0 sebesar -0,099799 dan mengalami kenaikan yang tajam pada H+1
sebesar 0,052604. Pengujian dengan uji t menunjukan signifikansi pada H+1 dan
H+6. Adanya pembalikan ini juga diakibatkan oleh overreaction dari par a
investor ketika menerima suatu informasi, sehingga harga yang ditetapkan keliru.
Besarnya pembalikan ini ditentukan oleh besarnya kejatuhan yang terjadi.
Semakin besar kejatuhan harganya maka semakin besar pembalikan yang terjadi.
Lamanya reaksi berlebihan pada periode ini ditentukan seperti pada kasus
sebelumnya dengan menggunakan periode [+1,+3] dan [+4,+20]. Pengujian
dengan uji t menunjukan pada periode [+1,+3] terjadi signifikansi dengan α=10%
kemudian terjadi pembalikan pada periode [+4,+20] dengan nilai -0,01471 tetapi
tidak signifikan. Berbeda dengan periode 2005-2010 pada periode ini
overreaction terjadi dalam jangka pendek. Pada periode ini juga menunjukan peristiwa overreaction mendukung efficient market hypothesis dimana
signifikansi hanya terjadi pada H+1dan H+7. Hal ini menunjukan informasi dari
peristiwa cepat diserap pasar
Pengujian selanjutnya dilakukan pada periode setelah krisis 2008-2010.
Sama seperti pengujian pada dua periode sebelumnya. Pada periode ini juga hasil
pengujian juga menunjukan sebelum terjadi peristiwa terjadi signifikansi pada
periode H-16, H-13, H-10, H-2, H-1 sedangkan pada peristiwa setelah krisis
terjadi pembalikan pada H+1 sebesar 0,072038 signifikansi setelah krisis juga
terjadi pada H+3, H+5, H+7 dan H+15 lamanya signifikansi menunjukan bahwa
peristiwa ini dapat dimanfaatkan untuk memperoleh abnormal return dalam
jangka waktu yang lama. Hal ini menunjukan bahwa setelah peristiwa krisis
informasi one day price drop tidak mendukung efficient market hypothesis.
Lamanya reaksi berlebihan pada periode ini diuji dengan metode yang
sama hasil pengujiannya juga menunjukan bahwa pada periode [+1,+3] terjadi
signifikansi dengan nilai AAR dan CAAR berturut turut 0,008404 dan 0,036345
keduanya signifikan pada α=1%. Hal ini menunjukan bahwa pada periode 2005-
2010 menunjukan terjadi pembalikan pada jangka panjang. Pembalikan ini dapat
dimanfaatkan investor untuk mendapatkan abnormal return. Hasil pengujian
dengan uji berpasangan menunjukan bahwa CAAR setelah krisis berbeda nyata
dengan CAAR sebelum krisis. Setelah krisis investor dapat memperoleh tambahan
kesejahteraan yang lebih dalam menyikapi peristiwa one day price drop.
Implikasi manajerial yang dapat diambil dalam peristiwa ini bahwa
investor dalam menyikapi peristiwa One day price drop tidak perlu melakukan
panic selling karena setelah peristiwa akan diikuti dengan pembalikan pada hari
berikutnya. Investor juga dapat memanfaatkan peristiwa ini untuk mendapatkan
AR yang signifikan dengan berinvestasi pada saat peristiwa dan mendapatkan AR
secara signifikan pada satu hari setelah peristiwa.
Kesimpulan dari penelitian ini pada peristiwa one day price drop terjadi
karena overreaction investor terhadap suatu informasi ketika investor menyadari
mereka telah bereaksi berlebihan maka terjadi pembalikan pada hari setelahnya.
Pembalikan ini bisa berlangsung dalam jangka panjang maupun jangka pendek.
pada periode 2005-2010 dan periode 2008-2010 pembalikan terjadi dalam jangka
panjang sedangkan pada periode krisis 2005-2008 pembalikan terjadi dalam
jangka pendek. Penemuan ini juga menunjukan telah terjadi pertentangan pada
efficient market hypothesis dimana harga setelah peristiwa bisa diprediksi akan
terjadi pembalikan pada H+1. | |