| dc.description.abstract | Indonesia merupakan Negara Kepulauan terbesar di dunia, memiliki daya tarik pariwisata pada kekayaan dan keindahan alam yang membedakan dengan negara lainnya. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 5.8 juta km² yang terdiri dari perairan laut territorial degan luas 0.8 juta km², laut nusantara dengan luas 2.3 juta km². Selain itu Indonesia juga mempunyai hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber daya kelautan dan berbagai kepentingan terkait seluas 2.7 km² pada perairan Zona Ekslusif (ZEE) sampai dengan 200 mil dari garis pangkal. Indonesia memiliki kekayaan bahari yang begitu besar, dimana 75 persen dari total wilayah Indonesia merupakan lautan dan ditaburi sekitar 17.480 pulau yang dikelilingi oleh 95.181 km garis pantai dengan potensi ekonomi yang sangat besar. Potensi kelautan yang sangat besar ini harus dikelola dan dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan tetap menjaga kelestariannya, salah satunya melalui sektor pariwisata bahari.
Pertumbuhan ekowisata yang diduga lebih pesat dari wisata lainnya, terutama selama beberapa tahun terakhir ini membuat keberadaan ekowisata menjadi penting. Sehingga seharusnya keberadaan ekowisata dikelola dengan optimal untuk meraih kesempatan dalam pasar ekowisata yang terus tumbuh (Durst and Ingram dalam Fennel, 1999). Berdasarkan laporan World Travel Tourism Council (WTTC) tahun 2004, pertumbuhan rata-rata ekowisata sebesar 10 persen per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan rata-rata per tahun untuk pariwisata pada umumnya yaitu sebesar 4,6 persen per tahun.
Salah satu kawasan yang memiliki potensi ekowisata yang dapat dikembangkan adalah Kepulauan Seribu. Kawasan Kepulauan Seribu telah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam dengan Fungsi Cagar Alam Laut Pulau Seribu melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 527/Kpts/Um/7/1982 dengan luas 108.000 ha. Sebagai daerah yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan dan di dalamnya juga terdapat zona konservasi, maka tidaklah mengherankan bilamana pengembangan wilayah kabupaten ini lebih ditekankan pada pengembangan budidaya laut dan ekowisata. Dua sektor ini diharapkan menjadi prime mover pembangunan masyarakat dan wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Meskipun demikian, ternyata dalam perkembangannya kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kepulauan seribu mengalami kecenderungan penurunan.
Terkait dengan tujuan wisata ke Kabupaten Kepulauan Seribu, secara lebih spesifik kabupaten ini memiliki sebuah zona konservasi berupa taman nasional laut bernama Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS). Taman nasional sebagai kawasan pelestarian alam yang memiliki potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya melimpah menjadi salah satu bagian pengembangan ekowisata. Taman nasional yang menawarkan wisata ekologis banyak diminati wisatawan, hal ini karena adanya pergeseran paradigma kepariwisataan massal (mass tourism) ke wisata minat khusus (alternative tourism). Pada wisatawan minat khusus wisatawan menginginkan perjalanan yang lebih bermakna, berkualitas dan menambah pengalaman hidupnya serta memperoleh pengalaman baru. Namun ternyata pengelolaan TNKpS sepertinya belum dilakukan dengan baik. Berdasarkan data pengunjung periode 2003-2007 yang dikeluarkan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (BTNKpS), jumlah pengunjung TNKpS setiap tahunnya mengalami fluktuasi jumlah pengunjung yang cukup tajam dan tergolong sangat rendah.
Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi karakteristik demografi dan psikografi responden kawasan TNKpS, (2) menganalisis atribut apa saja yang dipertimbangkan oleh responden ketika akan melakukan kunjungan wisata ke kawasan TNKpS, (3) menganalisis persepsi responden TNKpS, (4) menganalisis preferensi responden terhadap TNKpS dan posisi TNKpS dimata responden dibandingkan kawasan sejenis, dan (5) merumuskan implikasi manajerial yang tepat untuk pengembangan TNKpS ditinjau dari segi strategi pemasaran.
Penelitian dilakukan di TNKpS terutama pada kawasan yang diperuntukkan bagi pengembangan ekowisata, dari bulan April sampai dengan Juni 2009 dan dilanjutkan dengan pengolahan data serta penulisan laporan karya tulis ilmiah. Pendekatan penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif melalui pendekatan survei. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung, penyebaran kuesioner, dan wawancara dengan responden. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang terkait dengan penelitian. Teknik pengambilan contoh yang dilakukan adalah non probability sampling (sampling tidak berpeluang) dengan menggunakan metode convenience sampling yaitu sampel diambil berdasarkan ketersediaan dan kemudahan untuk mendapatkannya
Metode pengolahan dan analisis data penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis cluster, analisis cochran, analisis biplot, dan analisis konjoin. Dimana analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik umum konsumen. Analisis cluster memberikan informasi mengenai segmentasi dan psikografis konsumen. Analisis cochan memberikan informasi atribut yang paling mencirikan TNKpS. Analisis biplot memberikan informasi mengenai atribut apa saja yang dipertimbangkan oleh responden dalam melakukan kunjungan wisata. Analisis konjoin untuk mengukur preferensi konsumen terhadap kawasan TNKpS dan posisi TNKpS dibandingkan kawasan sejenis.
Berdasarkan analisis deskriptif karakteristik umum responden TNKpS secara keseluruhan adalah berjenis kelamin laki-laki berusia 21-30 tahun, memiliki latar belakang pendidikan S1, berprofesi sebagai mahasiswa/pelajar dengan rata-rata pendapatan perbulan 1-3 juta. Berdasarkan analisis cluster membagi responden menjadi tiga segmen, segmen petualang, segmen wisatawan, dan segmen pencinta alam. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan analisis cochran, maka diperoleh atribut-atribut yang paling mencirikan TNKpS adalah (X4) tersedia pondok wisata atau penginapan, (X3) kekayaan sumber daya alam dan ekosistemnya, (X7) panorama alam, dan (X6) kekayaan flora dan fauna.
Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan analisis biplot, diperoleh gambaran bahwa menurut cluster 1 yaitu petualang atribut yang dipertimbangkan dalam melakukan kunjungan wisata ke TNKpS adalah (X13) layanan yang diberikan sudah sesuai dengan keinginan konsumen, selanjutnya menurut mereka (X20) jaminan keamanan terhadap barang-barang milik pribadi konsumen sudah baik, selain itu mereka mempersepsikan positif terhadap (X16) pemandu wisata didalam kawasan, (X21) pengelola dan pemandu wisata bersedia memperhatikan keluhan/komplain dari konsumen, dan (X19) pengelola dan pemandu wisata mampu memahami dan peduli terhadap kebutuhan yang dikemukakan oleh konsumen sesuai dengan aturan yang berlaku. Menurut kelompok cluster 2 yaitu wisatawan, atribut yang dipertimbangkan dalam melakukan kunjungan wisata ke TNKPS adalah (X4) tersedianya pondok wisata dan penginapannya, selain itu mereka mempunyai persepsi positif terhadap (X18) pengelola dan pemandu wisata bersikap komunikatif dalam melayani konsumen, (X9) tersedianya petugas pemandu wisata yang handal/professional, dan (X14) pengelola dan pemandu wisata serius dalam menanggapi kesalahan yang dilakukan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sedangkan menurut kelompok cluster 3 yaitu pencinta alam jauh dari atribut-atributnya bahkan bertolak belakang. Responden pencinta alam mempersepsikan negatif terhadap atribut (X19) yaitu pengelola dan pemandu wisata belum mampu memahami dan peduli terhadap kebutuhan yang dikemukakan oleh konsumen sesuai dengan aturan yang berlaku, (X21) pengelola dan pemandu wisata belum memperhatikan keluhan/komplain dari konsumen, dan (X14) pengelola dan pemandu wisata belum serius dalam menanggapi kesalahan yang dilakukan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan analisis konjoin, atribut utama TNKpS menunjukan bahwa kombinasi atribut yang paling banyak disukai responden adalah kekayaan sumber daya alam dan ekosistem, wisata pantai dan pesisir, dan pusat informasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepuasan konsumen terhadap ekowisata TNKpS dapat diperoleh dengan menikmati kekayaan sumber daya alam dan ekosistem dalam bentuk wisata pantai dan pesisir dengan menggunakan pusat informasi.
Implikasi manajerial yang dapat diambil berdasarkan hasil penelitian yaitu: (1) Penerapan strategi pemasaran berdasarkan prinsip Segmenting, Targeting dan Positioning. (2) Perluasan bauran pemasaran yang meliputi Product, Price, Place, Promotion, People, Process dan Physical evidence. Berdasarkan implikasi manajerial saran yang diberikan pada penelitian ini adalah: (1) Manajemen perlu melakukan perbaikan dan peningkatan manajemen pengelolaan, melalui peningkatan kapasitas SDM dan fasilitas pendukung lainnya terhadap kawasan TNKpS melalui kebijakan manajerial yang tepat dan responsif; (2) Manajemen perlu melakukan kajian lebih dalam mengenai faktor-faktor lain (finansial, manajemen pengelolaan, dan konsep tata ruang kawasan zonasi yang tepat) terhadap kawasan TNKpS; dan (3) Penentuan atribut-atribut dalam penelitian ini dirasakan masih terdapat kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian mengenai analisis kepuasan pengunjung dengan menambah atribut-atribut yang belum teridentifikasi dalam penelitian ini. | |