| dc.description.abstract | Sektor agribisnis merupakan sektor yang memiliki struktur keterkaitan dan kedalaman yang kuat serta memiliki daya saing yang berkelanjutan di pasar internasional, yang diharapkan menjadi penggerak perekonomian nasional. Adapun peran sektor agribisnis terhadap perekonomian, diantaranya pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), perolehan devisa, penyediaan pangan dan bahan baku industri, pengentasan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan, memberi efek pengganda sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat secara keseluruhan.
Pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan diarahkan untuk mewujudkan pertanian tanaman pangan yang maju, efisien dan tangguh dalam rangka peningkatan produksi, pendapatan petani, menyediakan kesempatan kerja, memantapkan struktur perekonomian, peningkatan PDB dan mendukung pemantapan ketahanan pangan. Hal ini bisa dirasakan dengan pengembangan sektor agribisnis yang didukung oleh sumberdaya domestik dan memiliki peluang usaha serta merupakan sinergi antara petani, agroindustri dan jasa-jasa yang menunjang pertanian. Perumusan masalah dalam penelitian ini dieksplorasi dengan pertanyaan manajemen, yaitu : (1) Faktor-faktor strategis apa yang mempengaruhi pengembangan sektor agribisnis tanaman pangan di Bogor?; (2) Apakah altenatif-alternatif strategi pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya?; (3) Dari alternatif strategi yang tersedia, strategi apa yang merupakan prioritas dari strategi pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor?; Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor. (2) Menentukan alternatif-alternatif strategi pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor. (3) Menentukan prioritas strategi pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif. Analisis yang digunakan adalah analisis eksternal, analisis internal, analisis stakeholders, penetapan tujuan dan sasaran strategic, matriks TOWS dan AHP. Alat bantu proses hierarki analitis (AHP, analytical hierarchy process) digunakan pada penelitian ini untuk menganalisa proses pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor. Penelitian deskriptif ini menggunakan metode survei dengan alat pengukuran berupa kuesioner. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk memverifikasi proposal dekomposisi hierarki, sehingga mendapatkan konfirmasi hierarki lengkap strategi pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor. Setelah itu data primer dibangkitkan melalui kuesioner terstruktur dengan matriks penilaian pairwise comparison berdasarkan skala kepentingan Saaty (1-9). Kuesioner terdiri dari 15 pertanyaan yang tersusun dalam empat bagian. Bagian pertama membutuhkan kemampuan responden untuk membuat pairwise comparison enam faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor. Bagian kedua meminta para responden membuat pairwise comparison empat kelompok pelaku yang mendukung keberhasilan pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor. Bagian ketiga meminta para responden membuat pairwise comparison empat kelompok tujuan yang ingin dicapai pelaku agribisnis dalam melakukan pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor. Bagian keempat meminta para responden membuat pairwise comparison lima alternatif strategi yang akan dipilih untuk mencapai keberhasilan pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor. Pengolahan matriks dilakukan dengan piranti lunak Expert Choice 2000.
Strategi pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor telah dianalisa dengan lima alternatif strategi, yaitu Mendorong Investasi di Bidang Tanaman Pangan, Intensifikasi Tanaman Pangan, Pembinaan Terpadu, Kemitraan, dan Pengembangan Terminal Agribisnis. Kriteria untuk menentukan keberhasilan pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan adalah adanya Keberadaan SDM Agribisnis, Aspek Pemasaran, Modal Usaha, Ketersediaan Lahan dan Sarana Pertanian, Kebijakan Pemerintah, Pemanfaatan Teknologi dan Riset Tanaman Pangan di dalam pengembangan agribisnis tersebut.
Ketika pengembangan agribisnis dikelola dengan pendekatan sistem dan usaha agribisnis, maka keberhasilan pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan ditentukan oleh Modal Usaha (0,177), Ketersediaan Lahan dan Sarana Pertanian (0,173), Pemanfaatan Teknologi dan Riset Tanaman Pangan (0,122), Keberadaan SDM Agribisnis (0,195), Aspek Pemasaran (0,183), dan Kebijakan Pemerintah (0,149). Pihak–pihak yang ikut berperan dalam menentukan keberhasilan pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan adalah Perbankan dan Lembaga Keuangan Lainnya (0,198), Pelaku Usaha/Swasta (0,267), Petani/Kelompok Tani (0,315), Pemerintahan Daerah (0,220), serta. Orientasi tujuan para pelaku tersebut adalah demi Meningkatkan Pendapatan Petani (0,318), Mewujudkan Ketahanan Pangan (0,179), Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) (0,197), dan Membuka Lapangan Kerja (0,305).
Strategi yang dipilih dalam menjalankan pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan adalah Pengembangan Terminal Agribisnis (0,146), Intensifikasi Tanaman Pangan (0,222), Mendorong Investasi di Bidang Tanaman Pangan (0,279), Pembinaan Terpadu (0,182), dan Kemitraan (0,171) . Dari kelima alternatif strategi yang dipilih dengan menggunakan metode AHP pada konteks pengembangan agribisnis berbasis tanaman pangan di Bogor, Pengembangan Terminal Agribisnis memberikan dampak tertinggi bagi keberhasilan pengembangan agribisnis. Hal ini merupakan pilihan yang rasional karena Pengembangan Terminal Agribisnis memberikan kinerja terbaik pada kriteria Keberadaan SDM Agribisnis, Aspek Pemasaran, Modal Usaha, Ketersediaan Lahan dan Sarana Pertanian, Kebijakan Pemerintah, serta Pemanfaatan Teknologi dan Riset Tanaman Pangan. | |