Show simple item record

dc.contributor.advisorGumbira-Sa'Id, E.
dc.contributor.advisorMaulana, Agus
dc.contributor.authorYuniati, Rita
dc.date.accessioned2025-06-05T06:56:50Z
dc.date.available2025-06-05T06:56:50Z
dc.date.issued2008
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162061
dc.description.abstractKabupaten Bintan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, dengan luas wilayah 87.777,84 Km³, sebagai daerah kepulauan 98,51 % wilayahnya adalah laut. Kawasan pengelolaan perikanan tangkapnya terdiri dari Laut Cina Selatan, Laut Natuna dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI). Baik kawasan pengelolaan perikanan tangkap maupun kawasan yang potensial untuk budidaya laut mempunyai karakteristik yang sama dengan Provinsi Kepulauan Riau. Kegiatan sub sektor perikanan laut pada tahun 2007 memberikan kontribusi kepada daerah melalui produksi perikanan laut sebesar 18.577,60 ton dengan nilai Rp 107.702.310.- Proporsi kontribusi dari sub sektor produksi perikanan laut tersebut, didominasi oleh sub sektor perikanan tangkap yakni sebesar 99% (18.392,10 Ton) sedangkan budidaya laut hanya berkontribusi 1% (185,50 Ton). Kondisi di atas menunjukkan bahwa budidaya laut belum berkembang dengan baik mengingat luas kawasan yang berpotensi untuk budidaya laut adalah 227,050 hektar, sedangkan pemanfaatannya hanya 10,42 hektar. Saat ini jumlah produksi ikan laut untuk memenuhi konsumsi Kabupaten Bintan masih cukup. Konsumsi ikan penduduk Kabupaten Bintan adalah 96,45 kilogram per orang per kapita per tahun untuk jumlah penduduk 121.303 orang (jumlah penduduk tahun 2007). Artinya, daerah hanya membutuhkan 11.699,7 ton per tahun. Sisa produksi sebesar 6.877,90 ton dari produksi tahun 2007 tersebut dapat diarahkan ke pasar antar pulau dan ekspor. Tetapi kondisi di atas tidak permanen, akan mengalami fluktuasi ketika pertambahan penduduk daerah terjadi. Bahkan cenderung mengalami kenaikan tiap tahunnya, sehingga kebutuhan ikan juga cenderung naik. Pemenuhan kebutuhan ikan bagi penduduk di masa datang yang cenderung naik, dan agar tidak terjadi kelangkaan pangan di Kabupaten Bintan, tidak hanya mengandalkan sub sektor perikanan tangkap saja. Hal ini karena adanya isu overfishing pada sekitar pengelolaan perikanan tangkap nelayan-nelayan Kabupaten Bintan Hal lain yang lebih penting adalah bahwa sumberdaya perikanan tangkap termasuk sulit untuk proses renewable. Apalagi jika pengelolaannya tidak berdasarkan pada tata kelola lingkungan yang baik, misalnya penangkapan ikan dengan menggunakan bom atau alat tangkap yang tidak diperbolehkan. Oleh karena itu peran sub sektor budidaya laut perlu ditingkatkan mengingat kontribusinya saat ini masih sangat kecil pada produksi perikanan, sementara potensi pengembangan sub sektor tersebut cukup besar. Usaha budidaya ikan laut dengan menggunakan teknik keramba jaring apung (KJA) lebih efisien dari segi biaya daripada teknik tambak di kawasan teluk atau perairan tertutup yang sifatnya permanen dan rentan terhadap konflik kepemilikan lahan atau tanah. Selain itu keramba jaring apung termasuk alat.....dst.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleStrategi Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu Dengan Teknik Keramba Jaring Apung (Kja) Di Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riauid
dc.subject.keywordIkan Kerapuid
dc.subject.keywordBudidaya Lautid
dc.subject.keywordKeramba Jaring Apung (Kja)id
dc.subject.keywordKabupaten Bintanid
dc.subject.keywordManajemen Strategiid
dc.subject.keywordMatriks Efi Dan Efeid
dc.subject.keywordAnalisa Swotid
dc.subject.keywordAnalisa Qspmid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record