| dc.description.abstract | Perum Perhutani merupakan perusahaan yang memiliki dua industri utama yaitu industri kayu dan non kayu. Industri kayu sampai hari ini adalah sumber pendapatan utama dari Perum Perhutani terutama hasil dari industri kayu jati, namun industri kayu sedang mengalami tekanan besar dari isu global seperti pemanasan global, penebangan liar hingga penerapan ecolabelling untuk ekspor ke banyak negara. Kenaikan harga gondorukem dari Rp.4.737/Kg menjadi Rp.8.251/Kg pada tahun 2006 telah membuat gondorukem menjadi sumber pendapatan potensial baru bagi Perum Perhutani, terbukti bahwa pada tahun itu kontribusi gondorukem sebagai produk non kayu terhadap pendapatan total Perum Perhutani meningkat menjadi di atas 20%.
Peningkatan harga gondorukem dunia seharusnya diikuti pula oleh peningkatan jumlah produksi gondorukem agar Perum Perhutani dapat memperoleh keuntungan maksimal, namun ternyata peningkatan harga yang terjadi tidak diikuti oleh meningkatnya produksi gondorukem, produksi gondorukem dari tahun 2003 2007 cenderung stagnan di kisaran 50.000 ton/tahun. Perlu dicermati mengapa produksi gondorukem Perum Perhutani stagnan, apakah ada yang salah dengan kondisi industrinya maupun faktor-faktor produksinya. Beberapa rumusan masalah yang hendak dipertanyakan adalah (1) Bagaimana kondisi industri gondorukem Perum Perhutani?, (2) Apa saja yang mempengaruhi produksi gondorukem Perum Perhutani ?, dan (3) Apakah strategi yang tepat untuk meningkatkan produksi gondorukem Perum Perhutani?
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan kondisi industri gondorukem Perum Perhutani; (2) Mengindentifikasikan faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan industri gondorukem Perum Perhutani; (3) Menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan industri gondorukem Perum Perhutani; dan (4) Merumuskan strategi untuk meningkatkan produksi Perum Perhutani. Ruang lingkup penelitian ini meliputi (1) Mengidentifikasi Visi, Misi dan Tujuan Perum Perhutani yang merupakan penghasil hampir seluruh gondorukem produksi Indonesia, dan (2) Informasi yang digunakan diperoleh dari dalam Perum Perhutani, dari sektor produksi, pengolahan hingga pemasaran gondorukem.
Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2008 dengan metode penelitian deskriptif. Metode ini menjelaskan sifat-sifat (karakteristik) permasalahan yang ada didalam industri gondorukem Perum Perhutani melalui survey, observasi dan wawancara. Informasi diperoleh dari wawancara, membangun struktur AHP, dan pengisian kuisioner dengan para ahli untuk mendapatkan jawaban dari kondisi industri godorukem Perum Perhutani dan penentuan prioritas dari AHP. Responden (para ahli) dipilih dengan sengaja (purposive sampling method) untuk diwawancara. Informasi mengenai faktor produksi yang diperoleh digunakan untuk membangun struktur AHP (analytical hierarhchy process) bersama dengan ahli yang berpengalaman langsung dengan faktor produksi, lalu dari struktur yang telah dibangun dibuat kuisioner yang bertujuan untuk mendapatkan prioritas strategi yang telah ditentukan. ....dst. | |