View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Business
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Business
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Analisis Daya Saing Kakao Indonesia Di Pasar Internasional

      Thumbnail
      View/Open
      full text (41.06Mb)
      Date
      2007
      Author
      Daryanto
      Harianto
      Djamaludin, Md
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Pada era perdagangan bebas berbagai kebijakan proteksi secara internasional akan dihapuskan. Penghapusan kebijakan proteksi secara internasional akan membuka peluang pasar yang lebih besar bagi produk-produk agribisnis. Indonesia sebenarnya mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan peluang-peluang pasar produk agribisnis internasional. Sub sektor perkebunan merupakan salah satu sub sektor yang berpeluang untuk menguasai pasar internasional. Hal ini dikarenakan komoditas perkebunan pada umumnya merupakan komoditas ekspor. Alasan lainnya yang menunjang peryataan tersebut adalah bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam banyak komoditas perkebunan. Kakao merupakan salah satu komoditi unggulan perkebunan yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia, khususnya penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Pada saat ini sebagian besar produksi kakao Indonesia diekspor dan hanya sebagian kecil yang dikonsumsi di dalam negeri. Produk yang diekspor sebagian besar dalam bentuk biji kering. Perkebunan kakao yang didominasi oleh perkebunan rakyat pada umumnya tidak dikelola dengan baik. Hal ini tentunya membawa konsekuensi terhadap mutu kakao yang dihasilkan. Permasalahan lainya yang dihadapi agribisnis kakao Indonesia adalah berkaitan dengan produktifitas kebun yang masih rendah. Besar kecilnya peluang kakao Indonesia di pasar Internasional, tergantung dari kemampuan produsen kakao Indonesia dalam memenuhi permintaan konsumen kakao. Tingkat konsumsi kakao dunia yang menunjukkan trend yang terus meningkat, merupakan suatu pertanda bahwa prospek kakao dunia kedepan akan terus meningkat. Produsen kakao Indonesia tentunya harus mampu bersaing dengan produsen kakao dari negara-negara lain untuk menguasai pasar dunia.Kemampuan bersaing tidak hanya dalam segi jumlah produksi, tetapi juga berbagi faktor lainnya yang salah satunya adalah mutu dari kakao yang diproduksi. Berdasarkan kondisi dan fakta yang ada, perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Bagaimana posisi daya saing kakao Indonesia di pasar internasional ?, 2) Faktor-faktor apa yang menentukan keunggulan daya saing kakao Indonesia di pasar internasional?, 3) Alternatif-alternatif strategi apa yang dapat di ambil untuk meningkatkan daya saing kakao Indonesia di pasar Internasional ?. Berkaitan dengan perumusan masalah, maka yang menjadi tujuan pada penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi posisi daya saing kakao Indonesia di pasar internasional, 2) mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan keunggulan daya saing kakao Indonesia di pasar Internasional dan 3) Menentukan prioritas strategi daya saing kakao Indonesia di pasar Internasional. Pada penelitian ini tidak menghitung seluruh negara produsen kakao, hanya negara-negara produsen kakao terbesar. Analisis faktor-faktor penentu keunggulan daya saing yang dilakukan dilihat dari sudut pandang Indonesia. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui kuisioner yang diisi para pakar yang ahli dibidang kakao, sedangkan data sekunder menggunakan data ekspor negara-negara penghasil kakao terbesar dan data ekspor dunia. Alat analisis yang digunankan untuk mengolah data-data tersebut adalah Revealed Comparative Advantage Index, pembobotan faktor-faktor penentu keunggulan dan analisis hierarki proses. Berdasarkan analisis RCA pada tahun 2000 sampai 2003 Pantai Gading merupakan negara yang memiliki keunngulan yang paling tinggi, tapi pada tahun 2004 sampai 2005 posisi Pantai Gading tergeser oleh Ghana. Posisi daya saing Indonesia berdasarkan nilai RCA masih rendah dibandingkan negara-negara produsen kakao lainnya. Kemampuan daya saing kakao Indonesia masih dibawah Pantai Gading, Ghana dan Nigeria. Namun dibandingkan Brazil posisi daya saing kakao Indonesia masih lebih baik. Faktor-faktor yang menentukan keunggulan daya saing kakao Indonesia di pasar Internasional berdasarkan pendapat para pakar dengan melakukan pembobotan pada faktor-faktor penentu keunggulan Diamond Porter diperoleh enam faktor yang paling menentukan. Pada kondisi faktor hal yang paling menentukan adalah ketersediaan dan kemudahan akses terhadap sumber permodalan. Kedua, pada kondisi permintaan faktor yang paling menentukan adalah tingkat konsumsi dalam negeri. Ketiga, pada industri terkait dan pendukung faktor yang paling menentukan keunggulan daya saing kakao Indonesia adalah industri benih/pembibitan kakao. Keempat, pada strategi, struktur dan persaingan , faktor yang paling menentukan adalah intensitas persaingan antara produsen kakao dalam negeri. Kelima, berkaitan dengan peranan pemerintah faktor yang paling menentukan adalah standarisasi mutu. Terakhir berkaitan dengan kesempatan atau peluang, faktor yang paling menentukan keunggulan daya saing kakao Indonesia di pasar internasional adalah trend konsumsi kakao dunia yang terus meningkat. Berdasarkan analisis RCA dan analisis faktor-faktor penentu keunggulan diperoleh alternatif-alternatif strategi. Alternatif-alternatif strategi tersebut diantaranya : 1) promosi ekspor dan membuka akses ke pasar baru, 2) pengembangan pembiayaan pertanian dan pengembangan lembaga keuangan non-bank, 3) penciptaan iklim usaha yang kondusif, 4) peningkatan mutu kakao dan 5) pembangunan industri benih atau bibit. Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas strategi, dimana hal ini dilakukan dengan analisis hierarki proses (AHP). Berdasarkan pendapat para pakar melalui analisis AHP, strategi yang menjadi prioritas utama adalah peningkatan mutu kakao. Urutan prioritas selanjutnya adalah promosi ekspor dan membuka akses ke pasar baru, penciptaan iklim usaha yang kondusif, pengembangan kredit pertanian dan lembaga keuangan non-bank dan pembangunan industri benih/bibit. Strategi peningkatan mutu menjadi prioritas utama sangatlah beralasan, karena mutu kakao Indonesia dikenal kurang baik, sedangkan untuk bersaing dipasar internasional mutu merupakan salah satu faktor kunci. Keberhasilan dalam peningkatan daya saing kakao Indonesia tidak terlepas juga dari faktor-faktor yang mendukungnya, para pelaku yang terlibat didalammya serta sasaran atau tujuan yang ingin dicapai. Faktor utama yang dapat mendukung keberhasilan dari peningkatan daya saing kakao Indonesia adalah startegi, struktur dan persaingan. Aktor yang paling berperan dalam meningkatkan daya saing kako Indonesia di pasar internasional adalah pihak swasta, sedangkan tujuan utama dari peningkatan daya saing kakao Indonesia di pasar internasional adalah meningkatkan posisi tawar. Implikasi manajerial dari penelitian ini adalah bahwa dalam peningkatan mutu kakao dapat dilakukan dengan mengaktifkan para penyuluh pertanian serta membangun unit-unit pengolahan di sentra-sentra kakao. Promosi ekspor difokuskan pada keunggulan yang dimiliki kakao Indonesia, serta pembukaan akses ke pasar baru dengan menjajaki berbagai kerjasama serta kesepakatan dengan para importir Uni Eropa agar dapat memperluas pasarnya di pasar Eropa. Penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi agribisnis kakao dapat diwujudkan melalui kebijakan ekonomi makro yang kondusif, pembangunan infrastruktur pertanian serta kebijakan yang sesuai dengan karakteristik usaha pertanian. Hal lainnya yang tak kalah pentingnya adalah menderegulasi beberapa kebijakan, salah satunya penghapusan PPN 10 persen terhadap transaksi lokal atas biji kakao karena menghambat perkembangan industri pengolahan kakao dalam negeri. Pengembangan pembiayaan pertanian dilakukan dengan penyaluran kredit bagi para petani kakao yang disertai dengan pola subsidi bunga kredit, pola penjaminan kredit dan pendampingan. Selain penyaluran kredit, perlunya dikembangkan lembaga keuangan non-bank yang berdasarkan karakteristik ekonomi lokal. Pembangunan industri benih/bibit yang dititikberatkan ke wilayah pusat produksi atau pengembangan perkebunan kakao. Pengembangan industri sumber benih/ bibit kakao di pusat pengembangan atau produksi sejalan dengan pengembangan kawasan industri masyarakat perkebunan. Penelitian selanjutnya sebaiknya dalam mengidentifikasi posisi daya saing tidak hanya menggunakan nilai RCA. Obyek yang diamati pada penelitian selanjutnya sebaiknya tidak hanya pada biji kakao saja, tapi juga pada kakao olahan. Terakhir pada penelitian selanjutnya disarankan untuk lebih memfokuskan dalam pengkajian yang berkaitan dengan peningkatan mutu kakao.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/161973
      Collections
      • MT - Business [4057]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository