Show simple item record

dc.contributor.advisorDaryanto, Heny K
dc.contributor.advisorFahmi, Idqan
dc.contributor.authorSanyoto, Eko Budi
dc.date.accessioned2025-06-05T06:36:41Z
dc.date.available2025-06-05T06:36:41Z
dc.date.issued2007
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/161969
dc.description.abstractPertumbuhan bisnis ritel di Indonesia diperkirakan akan semakin meningkat seiring dengan semakin luasnya kesempatan untuk dapat lebih berkembang. Hal tersebut terkait dengan semakin tingginya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bila pasar ritel moderen menunjukkan pertumbuhan yang baik, pasar tradisional justru sebaliknya. Pangsa pasar tradisional semakin lama semakin berkurang dengan kehadiran pasar ritel moderen. Bahkan selama periode tahun 2001-2006, pangsa pasar tradisional mengalami pertumbuhan negatif sebesar 9,6 persen. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan pasar ritel moderen yang kian ekspansif dan perubahan perilaku belanja konsumen. Kondisi yang terjadi di Bogor tidak terlalu jauh berbeda. Bogor yang merupakan daerah penyangga ibu kota Indonesia, Jakarta, merupakan daerah yang secara ekonomi memberikan peluang bisnis yang menjanjikan. Apalagi dengan adanya wacana pembentukan daerah Megapolitan yang turut melibatkan Bogor di dalamnya. Jumlah penduduk Kota Bogor pada tahun 2006 sebesar 750.250 jiwa (www.kotabogor.go.id) merupakan pasar potensial yang layak dijadikan peluang oleh pelaku bisnis ritel moderen. Sampai sekarang, keberadaan pasar tradisional di Bogor semakin terdesak oleh maraknya kehadiran pasar moderen baik itu hipermarket, supermarket maupun minimarket. Agar dapat bertahan ditengah persaingan dengan pasar moderen, pengelola pasar tradisional harus bisa berbenah. Pemilihan strategi pengembangan pasar tradisional harus disesuaikan dengan apa yang menjadi preferensi konsumen sehingga hal ini menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa preferensi dan sikap konsumen terhadap pasar moderen dan pasar tradisional di Kota Bogor, menganalisa karakteristik demografi, perilaku konsumen dan segmentasi konsumen Kota Bogor dalam berbelanja di pasar tradisional dan pasar moderen dan merumuskan strategi pengembangan pasar tradisional bagi para pengambil keputusan. Analisis terhadap segmentasi dilakukan dengan menggunakan alat analisis CHAID, sedangkan sikap konsumen dianalisis dengan alat analisis Multi Atribut Fishbein. Preferensi konsumen dianalisis dengan menggunakan Conjoint Analysis. Untuk mengetahui kebiasaan perilaku berbelanja konsumen di pasar tradisional dan pasar moderen, digunakan analisis deskriptif tabulasi silang. Demografi konsumen sebagian besar didominasi oleh kaum perempuan sebanyak 87 persen dan hanya 13 persen pria. Berdasarkan status pernikahan, sebanyak 93 persen responden bersatatus menikah. Sementara itu responden yang belum menikah berjumlah sebesar 3 persen, sedangkan 4 persen responden lainnya berstatus duda/janda. Berdasarkan jumlah pengeluaran untuk keperluan konsumsi makanan pokok, responden terbanyak berada pada kelompok pengeluaran 2-2,5 juta rupiah, yakni sebanyak 40 persen. Disusul responden dengan pengeluaran 1,5-2 juta rupiah sebanyak 26 persen dan pengeluaran 1-1,5 juta rupiah sebesar 15 persen responden. Responden dengan proporsi pengeluaran terkecil sebanyak 2 persen berada pada kelompok pengeluaran di bawah 0,5 juta rupiah. Secara umum, perilaku berbelanja responden yang berbelanja di pasar tradisional maupun di pasar moderen tidak jauh berbeda. Namun demikian, responden pasar tradisional lebih sering mendatangi tempat berbelanja dalam satu minggu jika dibandingkan dengan responden pasar moderen. Dalam hal nominal uang yang dibelanjakan setiap kali datang ke tempat berbelanja, responden pasar moderen lebih banyak menghabiskan uang daripada responden pasar tradisional. Begitu pula dengan kendaraan yang digunakan ke tempat berbelanja, responden pasar moderen umumnya menggunakan kendaraan pribadi. Berbeda dengan responden pasar tradisional yang lebih banyak menggunakan angkutan umum. Kelompok responden berdasarkan aspek demografi terbagi ke dalam dua kelompok yaitu Kelompok 1 dan Kelompok 2. Pembagian ini didasarkan kepada demografi konsumen, yaitu usia dan pengeluaran untuk konsumsi. Kelompok 1 berjumlah 81 (39 persen) orang responden sedangkan Kelompok 2 berjumlah 125 orang (61 persen). Mayoritas responden berada di Kelompok 2. Dari dua kelompok tersebut, responden terbagi lagi ke dalam enam segmen yang berbeda. Sebagian besar responden berada di segmen 6. Ciri penanda segmen ini adalah memiliki tingkat pengeluaran konsumsi per bulan di atas Rp 1.000.000 dan tergolong usia di atas separuh baya (lebih dari 31 tahun). Nilai Fishbein pasar tradisional (0,002) sangat rendah bila dibandingkan dengan nilai Fishbein supermarket (6,42) dan hipermarket (5,54). Ini berarti responden lebih menyukai berbelanja di supermarket dan hipermarket daripada berbelanja di pasar tradisional. Namun pada kenyataannya, lebih banyak responden yang berbelanja di pasar tradisional. Rendahnya nilai Fishbein pasar tradisional disebabkan oleh pemilihan atribut pasar yang digunakan berasal dari penelitian terdahulu tentang pasar moderen. Hasil evaluasi nilai kepentingan 13 atribut pasar yang dilakukan oleh responden menunjukkan ada enam atribut yang dianggap penting oleh konsumen dan bernilai lebih dari satu. Keenam atribut tersebut secara berurutan adalah keamanan, fasilitas, harga, kebersihan dan kelengkapan barang serta keragaman barang yang dijual. Analisis nilai average importance menunjukkan tingkat kepentingan yang dianggap konsumen sebagai faktor yang paling penting. Secara berurutan nilai average importance untuk sarana, parkir, lokasi dan harga adalah 26,17 persen, 19,87 persen, 24,29 persen dan 29,67 persen. Dengan membandingkan nilai average importance untuk setiap faktor, konsumen lebih menganggap penting faktor atribut harga bila dibandingkan dengan tiga faktor atibut lainnya. Faktor atribut yang dianggap penting dalam menentukan tempat berbelanja yang baik kemudian adalah sarana penunjang, lokasi tempat berbelanja dan kondisi parkir. Konsumen masih lebih mementingkan harga daripada ketiga faktor atribut lainnya. Bila hasil analisis average importance digabungkan dengan hasil analisis utility-nya maka kombinasi terbaik yang paling disenangi oleh konsumen adalah harga yang masih bisa ditawar, adanya toilet yang baik kondisinya, lokasi yang tidak jauh dari rumah dan area parkir yang aman. Upaya merevitalisasi pasar tradisional memerlukan keseriusan dari pemerintah Kota Bogor. Selain dukungan regulasi juga diperlukan komitmen dan visi pengembangan ekonomi yang berpihak kepada masyarakat banyak. Perlu penanganan manajemen pasar tradisional yang cukup baik. Jika perlu, maka lebih baik manajemen pasar tradisional berada di bawah pihak swasta seperti halnya manajemen pasar Bumi Serpong Damai. Perlu dilakukan peremajaan fisik bangunan pasar tradisional di beberapa tempat, misalnya di pasar Cimanggu dan Kemang. Selain itu, pengaturan tata letak ruang kota perlu dicermati ulang agar pembangunan pusat pasar moderen tidak menggangu keberadaan pedagang kecil di pasar tradisional. Pola hubungan yang mengatur pedagang kecil di pasar tradisional dan pedagang besar pasar moderen hendaknya dipertegas kembali melalui peraturan daerah Kota Bogor. Dalam perda tersebut diupayakan pemberdayaan pasar tradisional dengan memfasilitasi pedagang pasar tradisional agar mendapatkan iklim usaha yang kondusif.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Pemasaranid
dc.titleAnalisis Segmentasi, Preferensi dan Sikap Konsumen Di Kota Bogor Dalam Berbelanja Di Pasar Serta Implikasinya Terhadap Perkembangan Pasar Tradisonalid
dc.subject.keywordPasar Tradisionalid
dc.subject.keywordPasar Modernid
dc.subject.keywordPrefensiid
dc.subject.keywordSikapid
dc.subject.keywordSegmentasiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record