| dc.description.abstract | WWF Indonesia melalui Program Nusa Hijau atau Indonesia Forest and Trade Network sedang membuka pintu program pendekatan bertahap sertifikasi (step wise approach towards certification). Peluncuran program Nusa Hijau pada tahun 2003 adalah dimaksudkan untuk memfasilitasi pencapaian perusahaan yang bersertifikat hutan lestari dan sertifikasi rantai perdagangan (Chain of Custody). Perusahaan yang menjadi anggota Nusa Hijau akan mendapat insentif atas pencapaian standard GFTN pada tahapan-tahapan yang telah ditentukan. Dengan menjadi anggota Nusa Hijau, Produsen akan dihubungkan ke jaringan perdagangan Internasional (Global Forest and Trade Network) agar dapat akses yang mudah dalam menjual produknya meskipun masih berada dalam tahap perbaikan menuju sertifikasi ekolabel. Mekanisme ini juga memberikan keyakinan pada konsumen bahwa produsen sedang menjalankan prinsip-prinsip pengelolaan hutan bertanggung jawab sehingga mereka perlu dihargai melalui insentif bisnis berupa akses pasar dan harga premium. Obyek penelitian adalah industri mebel Jepara anggota ASMINDO Komda Jepara.
Faktor pendorong yang ingin dilihat melalui studi ini adalah bagaimana pandangan dan preferensi para industri mebel Jepara (Processor) terhadap Program Nusa Hijau WWF Indonesia. Pemetaan perilaku konsumen serta hasil analisis persepsi dan preferensi Industri mebel Jepara dapat menetaskan beberapa Rekomendasi pemasaran Program Nusa Hijau yang diperlukan oleh WWF Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk: (1). Menganalisis preferensi industri mebel terhadap program Nusa Hijau WWF, (2). Mengkaji faktor-faktor yang mendorong industri mebel (prosesor) untuk mengambilan keputusan menjadi anggota Nusa Hijau WWF (Indonesia Forest Trade and Network) dan (3). Merumuskan rekomendasi pemasaran yang diperlukan oleh WWF Indonesia untuk mengembangkan program Nusa Hijau.
Responden penelitian adalah para pengambil keputusan perusahaan manufaktur mebel (furniture) di daerah Jepara Jawa Tengah yang tergabung dalam Asosiasi Mebel Indonesia (ASMINDO) KOMDA Jepara. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara convenience sampling dan untuk masing-masing kategori ditetapkan secara proporsional, kemudian dipilih responden yang representatif. Penentuan contoh diperoleh dari 313 industri mebel besar dan menengah dengan orientasi ekspor yang aktif menjadi anggota ASMINDO. Jumlah sampel yang dipilih adalah sebanyak 30 perusahaan dengan pertimbangan perlu memilih perusahaan yang mengenal dengan baik program Nusa Hijau WWF. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan sumber data primer yang diperoleh melalui pengisian kuisioner dan wawancara.
Beberapa variabel yang merupakan karakteristik obyek penelitian ini adalah variabel demografi, perilaku, persepsi, preferensi dan kinerja atribut. Variabel demografi pada industri mebel adalah yang menggambarkan suatu pengelompokan responden ke dalam katagori-katagori: bentuk badan usaha, status kepemilikan, total aset, skala perusahaan yang didekati dengan jumlah pekerja industri. Variabel perilaku terdiri dari: tujuan pasar, orientasi pembelian bahan baku kayu, desain produk yang bersaing, keinginan menjadi anggota Nusa Hijau, bagaimana memperoleh bahan baku kayu, dan bagaimana menghadapi kendala pemenuhan bahan baku kayu. Variabel perilaku digunakan untuk memahami serta mengetahui hal apa saja yang menjadi pertimbangan produsen mebel dalam mengambil keputusan untuk mempergunakan barang dan jasa yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk mebel. Kedua variabel di atas dianalisis secara deskriptif dengan cara mentabulasikan data yang diperoleh dan dihitung prosentasenya.
Variabel Persepsi dapat memberikan informasi sejauh mana responden melihat program Nusa Hijau dari sisi atribut-atribut yang melekat pada program ini mengacu pada hasil penelitian Simula et al. (2005). Pengukuran variabel persepsi dilakukan dengan menggunakan analisis Cochran. Sedangkan variabel preferensi digunakan untuk memberikan informasi tentang tingkat kepentingan relatif berdasarkan persepsi dan keinginan responden terhadap Program Nusa Hujau WWF Indonesia. Pengukuran variabel preferensi dilakukan dengan menggunakan analisis Conjoin. Variabel kinerja atribut dipergunakan untuk memberikan informasi tentang kinerja atribut-atribut yang melekat Program Nusa Hijau WWF. Harapan produsen kayu lapis dan realitas yang ada terhadap atribut-atribut tersebut diketahui dari variabel ini. Dengan analisis Importance Performance Analysis (IPA) perbandingan antar keduanya akan dirangkum dalam Diagram kartesius yang terbagi dalam empat kuadran.
Dengan menggunakan alat analisis Cochran, Conjoint, IPA, dan Deskriptif, dapat disimpulkan bahwa:
1. Preferensi konsumen (produsen mebel Jepara) adalah: menghendaki Program Nusa Hijau yang standarnya mudah diterapkan, standarnya lengkap, akses pasar yang tinggi, serta adanya harga premium.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan responden memilih Nusa Hijau WWF adalah tigabelas atribut yang dipersepsikan produsen mebel sebagai brand image Program Nusa Hijau WWF. Ketigabelas atribut tersebut adalah: 1). Perbaikan terhadap standar kinerja dan kesesuaian dengan standard Internasional, 2). Penguatan kontrol sumberdaya alam (mampu mencegah Illegal logging), 3). Perbaikan sistem manajemen, termasuk mekanisme internal untuk kegiatan planning, monitoring, evaluation, and reporting, 4). Penguatan ekonomi secara permanen, membuka pasar-pasar baru, 5). Perbaikan akses pasar and harga produk yang lebih tinggi pada kondisi tertentu, 6). Perbaikan image perusahaan dan etika bisnis, 7). Memiliki perhatian terhadap masalah sosial dan kepentingan publik di dalam pengelolaan hasil hutan, 8). Partisipasi masyarakat , 9). Pengentasan kemiskinan, 10). Perbaikan dan Penguatan Peraturan dan Perundangan, 11). Konservasi Lingkungan, 12). Perbaikan keanekaragaman hayati, 13). Perbaikan dan Penguatan nilai-nilai konservasi yang tinggi dari hutan
3. Rekomendasi untuk mengembangkan Program Nusa Hijau adalah:
a. WWF Indonesia perlu meningkatkan akses pasar anggota Nusa Hijau terutama yang menuju pasar-pasar Eropa dan Amerika
b. Keanggotaan Nusa Hijau seharusnya dapat meningkatkan image bahwa mereka telah mengelola perusahaan secara bertanggung jawab
c. Harga Premium terhadap produk-produk bersertifikat akan menjadi kunci promosi terhadap program Nusa Hijau
d. WWF Indonesia perlu mengembangkan standar penilaian yang mudah diterapkan untuk memudahkan perbaikan kinerja perusahaan mebel selama periode waktu tertentu
e. WWF Indonesia beserta Institusi dan Personel pelaku kegiatan penilaian Nusa Hijau perlu memahami karakteristik konsumen yang tercermin dalam kesesuaian standar penilaian.
f. Sumberdaya organisasi WWF Indonesia perlu dicurahkan untuk mensosialisasikan program Nusa Hijau terutama ke sentra-sentra industri mebel
g. Program Nusa Hijau WWF merupakan investasi lingkungan yang harus menjadi sarana penguatan kontrol pengelolaan sumberdaya alam yang dititikberatkan pada aspek konservasi lingkungan dan legalitas
h. Kelengkapan standard yang mengacu pada konvensi Internasional akan menjamin keberterimaan pasar internasional
i. Program nusa Hijau WWF harus dapat mewujudkan prinsip continual improvement terhadap kinerja anggotanya yang dapat dievaluasi per periode tertentu
j. Anggota Nusa Hijau memiliki kewajiban untuk menjaga prinsip-prinsip konservasi yang diwujudkan dalam komitmen perusahaan dan buadaya perusahaan
k. Keterlibatan Pemerintah sebagai Pembuat Kebijakan adalah mengembangkan dan menetapkan regulasi yang mendukung pada konservasi lingkungan prakondisi bagi sertifikasi ekolabel
l. Program Nusa Hijau memungkinkan industri mebel sebagai anggota dapat meningkatkan kualitas produksi dan kualitas bahan baku
m. Standard Nusa Hijau WWF perlu mengelaborasi prinsip-prinsip sosial dan menjaga kepentingan publik
n. Proses penilaian dan pengambilan keputusan sebisa mungkin memperhatikan kepentingan publik
o. Perusahaan mebel Jepara sebagian besar memiliki kapasitas produksi yang besar dengan sumber bahan baku kayu yang berasal dari Perum Perhutani. WWF Indonesia perlu meningkatkan sosialisasi Nusa Hijau, baik kepada prosesor maupun pengelola hutan.
Penelitian ini menyarankan kepada beberapa pihak:
1. Program Nusa Hijau WWF Indonesia merupakan program sertifikasi bertahap yang mempromosikan pengelolaan hutan secara bertanggung jawab perlu ditingkatkan promosinya kepada industri-industri mebel di Jepara dan kepada pengelola hutan seperti Perum Perhutani dan hutan rakyat. Program ini juga perlu diperluas ke sentra-sentra industri mebel dan handycraft yang lain seperti di daerah Klaten dan Bali.
2. WWF Indonesia seharusnya melakukan pendekatan kepada pembeli (Buyer) di Eropa dan Amerika untuk mendesak mereka memberlakukan ketentuan produk-produk bersertifikat melalui program sertifikasi maupun sertifikasi bertahap, dan melakukan perdagangan yang adil.
3. ASMINDO Jepara dapat melakukan konsolidasi ke dalam anggota-anggotanya untuk meningkatkan soliditas dan menghindari praktek-praktek permainan harga yang akan merugikan sesama anggotanya dan menguntungkan pembeli yang tidak bertanggung jawab.
4. Pemerintah Daerah Jepara perlu mengkondisikan wilayahnya sebagai sentra industri yang memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan dan sosial, sehingga usahanya dapat dipertanggung gugatkan.
5. WWF Indonesia dapat bekerja sama dengan beberapa lembaga yang menginisiasi skema sertifikasi bertahap seperti Lembaga Ekolabel Indonesia, Forest Stewrdship Council, dan Tropical Forest Foundation.
6. Peran Lembaga Ekolabel Indonesia sebagai lembaga pengembang sistem sertifikasi nasional adalah membangun sistem yang kredibel, sederhana, layak terap, dan diterima oleh pasar luar negeri. Logo LEI harus diperjuangkan sebagai logo yang environmental friendly dan disukai oleh industri mebel dan perkayuan lainnya karena faktor keberterimaan pasar-nya. | |