| dc.description.abstract | Investasi saham dapat dilakukan dengan membeli saham di pasar perdana,
yaitu saat pelaksanaan Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering atau
IPO), atau di pasar sekunder, yaitu di bursa efek. Pada pelaksanaan IPO,
perusahaan emiten yang baru go public menjual sahamnya kepada para investor.
Setelah saham dijual di pasar perdana, selanjutnya saham dapat diperdagangkan
antara investor yang satu dengan yang lainnya di pasar sekunder. Saham yang
telah tercatat dan diperdagangkan di bursa wajib melaporkan kondisi keuangannya
secara berkala, sehingga laporan-laporan keuangan yang diperlukan investor
sebagai bahan pertimbangan dalam berinvestasi lebih mudah diperoleh. Selain itu,
investor juga dapat melihat kinerja saham tersebut di masa yang lalu untuk
memperkirakan kinerjanya di masa yang akan datang. Sebaliknya, pada penjualan
di pasar perdana, saham belum mempunyai catatan reputasi di pasar modal dan
satu-satunya informasi yang tersedia hanya berasal dari prospektus awal. Dengan
demikian investasi pada saham-saham yang baru go public mengandung resiko
ketidakpastian (Suroso dan Utama, 2006). Karena itu investor perlu mengetahui
bagaimana kecenderungan kinerja saham-saham IPO selama ini, dan faktor-faktor
resiko apa saja yang dapat mempengaruhi tingkat imbal hasil saham yang baru go
public agar dapat memperkecil resiko investasi di pasar perdana.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat imbal hasil inisial
saham-saham secara sektoral, menganalisis pengaruh faktor-faktor resiko terhadap
tingkat imbal hasil inisial saham, serta menganalisis kinerja saham dan
merumuskan strategi investasi dalam jangka panjang setelah pelaksanaan IPO
pada masing-masing sektor saham.
Hasil identifikasi tingkat imbal hasil inisial memberikan gambaran
mengenai tingkat imbal hasil inisial yang dapat diperoleh dari investasi pada
masing-masing sektor saham. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan
berbagai rumus yang mengacu pada penelitian Kooli dan Suret (2001). Hasil
identifikasi menunjukkan rata-rata tingkat imbal hasil inisial aktual yang positif,
yaitu sebesar 46,85 persen. Namun hal ini tidak berarti bahwa investasi pada pasar
perdana tidak mengandung resiko kerugian sama sekali. Pada kenyataannya, tidak
semua saham memberikan imbal hasil inisial yang positif. Dari 110 perusahaan
yang diamati pada penelitian ini, 7,3 persen di antaranya memberikan imbal hasil
inisial aktual yang negatif, dan 6,4 persen lainnya memberikan imbal hasil inisial
pada tingkat nol persen. Rata-rata tingkat imbal hasil aktual sebesar 46,85 persen
yang disajikan pada Tabel 1 menunjukkan angka yang cukup besar bila dibanding
dengan negara-negara lainnya. Penelitian Ti (2003) menyatakan bahwa rata-rata
tingkat imbal hasil inisial aktual di pasar yang sedang berkembang adalah sebesar
40,8 persen, dan pada pasar yang telah maju adalah 19,6 persen.
Identifikasi tingkat imbal hasil inisial secara sektoral menunjukkan bahwa
sektor Properti dan Real Estate memiliki rata-rata tingkat imbal hasil inisial aktualdan abnormal yang tertinggi, dengan standar deviasi yang terkecil di antara
sektor-sektor lainnya. Ini menandakan bahwa investasi pada sektor Properti dan
Real Estate mampu memberikan keuntungan yang terbesar dengan tingkat resiko
yang relatif kecil dibanding sektor lainnya.
Analisis pengaruh faktor resiko dilakukan dengan analisis regresi linier
berganda menggunakan program SPSS 13.0. Variabel tak bebas yang dianalisis
adalah tingkat imbal hasil inisial aktual yang merupakan bentuk rasio, sedangkan
faktor-faktor resiko atau variabel bebas yang digunakan adalah PBV, kapitalisasi
saham, harga perdana, dan kondisi pasar. Yang dimaksud dengan PBV adalah
rasio harga saham pada saat pelaksanaan IPO terhadap nilai buku perusahaan yang
tercantum sebagai jumlah ekuitas terakhir pada prospektus awal. Yang dimaksud
dengan kapitalisasi saham adalah hasil perkalian antara harga penawaran perdana
saham dengan jumlah saham yang diterbitkan pada saat pelaksanaan IPO.
Variabel PBV dan kondisi pasar merupakan bentuk rasio, sedangkan variabel
kapitalisasi saham dan harga perdana diolah dalam bentuk logaritma.
Sebelum dianalisis, data terlebih dahulu dikontrol dengan menghilangkan
outliers, yaitu setiap data dengan nilai residual yang 2,5 kali lebih besar daripada
standar deviasi. Penghilangan outliers dilakukan berdasarkan nilai z yang
diperoleh dari analisis statistik deskriptif. Setelah kontrol tersebut, data yang
semula berjumlah 110 pengamatan telah berkurang menjadi 100 pengamatan.
Selanjutnya dilakukan pengujian ekonometrika dengan program SPSS 13.0.
Pengujian terhadap adanya multikolinearitas dalam data regresi menggunakan
metode Variance Inflating Factor (VIF). Pada analisis ini diperoleh nilai VIF
yang kecil, bahkan mendekati nilai satu. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi
multikolinearitas pada variabel yang digunakan. Pengujian terhadap adanya
otokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson. Berdasarkan tabel Durbin-Watson
dengan jumlah variabel X sebanyak 4 buah, jumlah pengamatan sebesar 100, dan
nilai α sebesar 0,01, diperoleh nilai du sebesar 1,63. Nilai d yang diperoleh dari uji
Durbin-Watson adalah sebesar 2,162. Dengan demikian hasil uji menunjukkan
bahwa tidak terjadi otokorelasi pada data yang digunakan untuk analisis ini.
Pengujian terhadap normalitas data didasarkan pada diagram probabilitas
normal. Sebaran titik-titik data yang masih berada di sekitar garis normal
menunjukkan bahwa data yang digunakan dalam analisis ini relatif menyebar
secara normal. Pengujian adanya heteroskedastisitas didasarkan pada diagram
distribusi data. Terbentuknya suatu pola garis lurus dan adanya beberapa titik
yang menyebar jauh dari pusat data merupakan petunjuk terjadinya
heteroskedastisitas pada data yang digunakan. Hal ini dapat diakibatkan oleh
besarnya perbedaan tingkat imbal hasil inisial pada masing-masing perusahaan.
adanya heteroskedastisitas dapat menyebabkan suatu model tidak efisien.
Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa dari empat faktor
resiko yang dianalisis, hanya dua di antaranya yang memiliki pengaruh signifikan
terhadap tingkat imbal hasil inisial aktual, yaitu PBV yang signifikan pada tingkat
kepercayaan 90 persen, dan kapitalisasi saham yang signifikan pada tingkat
kepercayaan 95 persen. PBV mempunyai pengaruh yang positif terhadap tingkat
imbal hasil inisial aktual saham. Hal ini menunjukkan bahwa saham dari
perusahaan dengan PBV yang besar akan menghasilkan imbal hasil inisial yang
besar. Semakin besar PBV perusahaan, maka semakin besar pula tingkat imbal
hasil inisial yang dapat dihasilkannya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Famadan French (1992) yang menunjukkan bahwa saham dari perusahaan dengan PBV
yang tinggi akan mengalami peningkatan harga, yang berakibat pada
meningkatnya tingkat imbal hasil. Fama dan French juga menyatakan bahwa nilai
PBV dapat digunakan untuk memprediksi tingkat imbal hasil di masa datang.
Dengan demikian investor dapat memprediksi tingkat imbal hasil inisial yang
akan diterimanya berdasarkan nilai PBV perusahaan yang terdapat pada
prospektus awal. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan harga pada nilai
PBV bukan harga pasar yang terbentuk oleh aktivitas investor, melainkan harga
penawaran perdana yang ditetapkan oleh perusahaan emiten. Nilai PBV yang
tinggi menggambarkan optimisme dan janji perusahaan akan kinerja yang lebih
baik di masa mendatang. Saham dengan PBV yang tinggi akan memberikan imbal
hasil inisial yang tinggi pula, karena pada awal perdagangan di bursa perusahaan
akan berusaha menepati janjinya dan menunjukkan kinerja terbaik untuk
membangun kepercayaan investor.
Kapitalisasi saham mempunyai pengaruh yang negatif terhadap tingkat
imbal hasil inisial aktual saham. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar
kapitalisasi saham pada saat pelaksanaan IPO, maka semakin kecil tingkat imbal
hasil inisial yang dapat dihasilkannya. Nilai kapitalisasi saham yang besar dapat
disebabkan oleh banyaknya jumlah saham yang diterbitkan atau tingginya harga
saham yang ditawarkan pada pelaksanaan IPO. Sesuai dengan hukum penawaran
dan permintaan, semakin banyak jumlah barang yang ditawarkan, maka harga
yang terbentuk akan cenderung lebih rendah. Sedangkan tingginya harga yang
ditawarkan akan memperkecil kemungkinan harga untuk naik ke tingkat yang
lebih tinggi pada perdagangan di bursa. Demikianlah kedua hal ini dapat
menyebabkan rendahnya tingkat imbal hasil inisial pada saham yang memiliki
kapitalisasi besar.
Nilai konstanta yang sangat besar bila dibandingkan dengan koefisien
variabel-variabel yang ada juga menerangkan bahwa masih banyak faktor lain
yang mempengaruhi tingkat imbal hasil inisial aktual selain faktor-faktor yang
digunakan dalam analisis ini. Nilai koefisien determinasi (R-square) yang rendah
menunjukkan bahwa hanya 12,4 persen dari variasi tingkat imbal hasil inisial
aktual saham yang dapat diterangkan oleh faktor-faktor yang secara signifikan
mempengaruhinya. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh faktor psikologis
investor yang tidak dapat dijelaskan oleh data kuantitatif.
Analisis tingkat imbal hasil aktual saham dalam jangka panjang secara
deskriptif dilakukan untuk menyusun strategi investasi, sedangkan analisis tingkat
imbal hasil abnormal jangka panjang dilakukan untuk menganalisis kinerja saham
dalam jangka panjang. Perhitungan tingkat imbal hasil jangka panjang
menggunakan berbagai rumus, mengacu pada penelitian Kooli dan Suret (2001).
Data yang digunakan untuk analisis tingkat imbal hasil jangka panjang ini
diperoleh dari pengamatan harga saham bulanan sejak Januari 1999 hingga
Oktober 2006 yang kemudian diolah menjadi data tingkat imbal hasil dalam
bentuk rasio, dan diambil hingga maksimal pengamatan 60 bulan untuk masingmasing saham individu. Dalam periode pengamatan harga saham selama 60 bulan
ini ada kemungkinan terjadinya peristiwa pemecahan saham (stock split) atau
penggabungan saham (reverse split) yang dapat menyebabkan perubahan harga
saham secara tiba-tiba. Karenanya harga saham yang dianalisis perlu disesuaikan
terlebih dahulu dengan peristiwa-peristiwa ini.Nilai imbal hasil yang diamati telah dikontrol dengan menghilangkan
outliers, yaitu setiap data dengan nilai residual yang 2,5 kali lebih besar daripada
standar deviasi, berdasarkan nilai z yang diperoleh dari analisis statistik deskriptif
dengan program SPSS 13.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum ada
tiga sektor yang pergerakan tingkat imbal hasilnya memotong sumbu X dalam
jangka panjang, yaitu sektor Pertanian, sektor Industri Barang Konsumsi, dan
sektor Perdagangan, Jasa, dan Investasi. Enam sektor lainnya memiliki pergerakan
tingkat imbal hasil yang senantiasa berada di daerah positif. Keseluruhan grafik
yang berada di area positif menunjukkan bahwa investor yang membeli saham
dari ketujuh sektor tersebut pada saat pelaksanaan IPO tidak akan mengalami
kerugian atau memperoleh tingkat imbal hasil yang negatif, kapanpun investor
ingin melepas saham tersebut di bursa.
Grafik pola pergerakan tingkat imbal hasil jangka panjang menunjukkan
bahwa investasi jangka panjang paling baik dilakukan pada saham dari sektor
Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi karena akan memperoleh tingkat imbal
hasil yang paling tinggi dibanding sektor-sektor lainnya, yaitu sebesar 193,5
persen pada akhir bulan ke-38 setelah diperdagangkan di bursa.
Hasil analisis tingkat imbal hasil abnormal dalam jangka panjang
menunjukkan bahwa secara umum saham mengalami penurunan kinerja yang
ditunjukkan oleh penurunan tingkat imbal hasil abnormal dalam jangka panjang.
Kinerja saham yang cenderung menurun pada hampir semua sektor ini tidak
sejalan dengan pola pergerakan tingkat imbal hasil aktualnya. Tingkat imbal hasil
abnormal saham secara umum tampak terkoreksi ke bawah oleh kinerja pasar. Hal
ini merupakan indikasi kinerja pasar yang mengalami peningkatan. Kinerja IHSG
memang mengalami peningkatan pada akhir periode pengamatan. Sebagian besar
saham tidak mampu mengimbangi laju peningkatan kinerja pasar ini sehingga
memiliki kinerja jangka panjang yang negatif.
Hasil ini cenderung mendukung Fads Hypothesis yang menyatakan bahwa
dalam jangka panjang pasar akan mengkoreksi penilaian yang berlebihan terhadap
saham IPO yang terjadi pada awal perdagangan di bursa. Hipotesis ini
memprediksi bahwa semakin besar tingkat imbal hasil inisial abnormal, maka
semakin besar koreksi atas overpricing yang telah dilakukan investor, sehingga
menyebabkan tingkat imbal hasil abnormal dalam jangka panjang semakin rendah
(De Bondt dan Thaler, 1985).
Hasil analisis menunjukkan bahwa hipotesis ini ternyata hanya berlaku
untuk lima sektor, sementara empat sektor lainnya tampak tidak sesuai dengan
hipotesis ini. Lima sektor yang dimaksud adalah sektor Pertanian, sektor Industri
Dasar dan Kimia, sektor Industri Barang Konsumsi, sektor Keuangan, dan sektor
Perdagangan, Jasa dan Investasi. Kelima sektor tersebut tampak berjalan seiring,
pergerakannya terus menurun dan mulai memasuki wilayah negatif sejak bulan
ke-13. Di antara kelima sektor tersebut, sektor Perdagangan, Jasa dan Investasi
memiliki tingkat imbal hasil inisial abnormal yang tertinggi, karenanya sektor ini
kemudian tampak memiliki kinerja yang paling buruk pada akhir periode
pengamatan. Sektor ini mengalami penurunan kinerja yang paling besar dibanding
sektor-sektor lainnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa sektor Perdagangan,
Jasa, dan Investasi memiliki kinerja jangka panjang yang paling buruk.
Berlawanan dengan Fads Hypothesis, dua sektor yang memiliki tingkat
imbal hasil inisial abnormal tertinggi, yaitu sektor Aneka Industri serta sektorProperti dan Real Estate, justru hanya mengalami penurunan tingkat imbal hasil
abnormal yang relatif kecil dibanding dengan kelima sektor tadi. Pada akhir
periode pengamatan kedua sektor ini masih memiliki tingkat imbal hasil abnormal
yang positif. Hal ini merupakan petunjuk bahwa kedua sektor tersebut memang
memiliki kinerja yang baik secara fundamental. Kinerja yang lebih baik lagi
ditunjukkan oleh satu-satunya sektor yang mengalami pergerakan meningkat,
yaitu sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi. Kinerja yang baik ini
tercermin pada tingkat imbal hasil aktualnya yang relatif tinggi dan cenderung
meningkat hingga akhir periode pengamatan.
Dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa rata-rata
tingkat imbal hasil inisial adalah positif pada semua sektor. Faktor resiko yang
memiliki pengaruh terhadap tingkat imbal hasil inisial adalah PBV dan
kapitalisasi saham. PBV memiliki pengaruh positif, sedangkan kapitalisasi saham
memiliki pengaruh negatif. Strategi investasi jangka panjang sebaiknya dilakukan
pada sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi, yaitu dengan membeli saham
pada pelaksanaan IPO, dan menjualnya kembali setelah bulan ke-38 saham
diperdagangkan di bursa. Dengan demikian investor akan memperoleh imbal hasil
sebesar 193,5 persen. Strategi ini didukung oleh hasil analisis tingkat imbal hasil
abnormal dalam jangka panjang yang menunjukkan bahwa sektor Infrastruktur,
Utilitas, dan Transportasi memiliki kinerja jangka panjang yang terbaik di antara
sektor-sektor lainnya. Kinerja jangka panjang terburuk ditunjukkan oleh sektor
Perdagangan, Jasa, dan Investasi yang mengalami penurunan tingkat imbal hasil
terbesar dalam jangka panjang.
Hasil dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam
menyusun strategi investasi saham oleh investor dan calon investor. Investasi di
pasar perdana yang bertujuan untuk dijual kembali pada awal perdagangan di
bursa sebaiknya dilakukan pada saham yang memiliki kapitalisasi saham kecil,
dan berasal dari perusahaan dengan PBV besar. Dengan demikian diharapkan
investor akan memperoleh imbal hasil inisial yang besar.
Dari hasil identifikasi tingkat imbal hasil inisial diperoleh gambaran
mengenai tingkat imbal hasil inisial yang dapat diperoleh dari investasi saham
pada masing-masing sektor. Berdasarkan gambaran ini, investor dapat
mempertimbangkan investasi pada saham dari sektor Properti dan Real Estate
karena sektor ini mampu memberikan keuntungan yang paling besar dengan
tingkat resiko yang terkecil di antara sektor-sektor lainnya.
Investasi saham yang dilakukan pada saat pelaksanaan IPO tidak harus
diakhiri pada hari pertama saham diperdagangkan di bursa. Investor dapat
menahan sahamnya hingga jangka waktu tertentu untuk memperoleh keuntungan
yang optimal. Strategi jangka panjang sebaiknya dilakukan pada sektor
Infrastruktur, dan abnormal yang tertinggi, dengan standar deviasi yang terkecil di antara
sektor-sektor lainnya. Ini menandakan bahwa investasi pada sektor Properti dan
Real Estate mampu memberikan keuntungan yang terbesar dengan tingkat resiko
yang relatif kecil dibanding sektor lainnya.
Analisis pengaruh faktor resiko dilakukan dengan analisis regresi linier
berganda menggunakan program SPSS 13.0. Variabel tak bebas yang dianalisis
adalah tingkat imbal hasil inisial aktual yang merupakan bentuk rasio, sedangkan
faktor-faktor resiko atau variabel bebas yang digunakan adalah PBV, kapitalisasi
saham, harga perdana, dan kondisi pasar. Yang dimaksud dengan PBV adalah
rasio harga saham pada saat pelaksanaan IPO terhadap nilai buku perusahaan yang
tercantum sebagai jumlah ekuitas terakhir pada prospektus awal. Yang dimaksud
dengan kapitalisasi saham adalah hasil perkalian antara harga penawaran perdana
saham dengan jumlah saham yang diterbitkan pada saat pelaksanaan IPO.
Variabel PBV dan kondisi pasar merupakan bentuk rasio, sedangkan variabel
kapitalisasi saham dan harga perdana diolah dalam bentuk logaritma.
Sebelum dianalisis, data terlebih dahulu dikontrol dengan menghilangkan
outliers, yaitu setiap data dengan nilai residual yang 2,5 kali lebih besar daripada
standar deviasi. Penghilangan outliers dilakukan berdasarkan nilai z yang
diperoleh dari analisis statistik deskriptif. Setelah kontrol tersebut, data yang
semula berjumlah 110 pengamatan telah berkurang menjadi 100 pengamatan.
Selanjutnya dilakukan pengujian ekonometrika dengan program SPSS 13.0.
Pengujian terhadap adanya multikolinearitas dalam data regresi menggunakan
metode Variance Inflating Factor (VIF). Pada analisis ini diperoleh nilai VIF
yang kecil, bahkan mendekati nilai satu. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi
multikolinearitas pada variabel yang digunakan. Pengujian terhadap adanya
otokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson. Berdasarkan tabel Durbin-Watson
dengan jumlah variabel X sebanyak 4 buah, jumlah pengamatan sebesar 100, dan
nilai α sebesar 0,01, diperoleh nilai du sebesar 1,63. Nilai d yang diperoleh dari uji
Durbin-Watson adalah sebesar 2,162. Dengan demikian hasil uji menunjukkan
bahwa tidak terjadi otokorelasi pada data yang digunakan untuk analisis ini.
Pengujian terhadap normalitas data didasarkan pada diagram probabilitas
normal. Sebaran titik-titik data yang masih berada di sekitar garis normal
menunjukkan bahwa data yang digunakan dalam analisis ini relatif menyebar
secara normal. Pengujian adanya heteroskedastisitas didasarkan pada diagram
distribusi data. Terbentuknya suatu pola garis lurus dan adanya beberapa titik
yang menyebar jauh dari pusat data merupakan petunjuk terjadinya
heteroskedastisitas pada data yang digunakan. Hal ini dapat diakibatkan oleh
besarnya perbedaan tingkat imbal hasil inisial pada masing-masing perusahaan.
adanya heteroskedastisitas dapat menyebabkan suatu model tidak efisien.
Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa dari empat faktor
resiko yang dianalisis, hanya dua di antaranya yang memiliki pengaruh signifikan
terhadap tingkat imbal hasil inisial aktual, yaitu PBV yang signifikan pada tingkat
kepercayaan 90 persen, dan kapitalisasi saham yang signifikan pada tingkat
kepercayaan 95 persen. PBV mempunyai pengaruh yang positif terhadap tingkat
imbal hasil inisial aktual saham. Hal ini menunjukkan bahwa saham dari
perusahaan dengan PBV yang besar akan menghasilkan imbal hasil inisial yang
besar. Semakin besar PBV perusahaan, maka semakin besar pula tingkat imbal
hasil inisial yang dapat dihasilkannya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Fama dan French (1992) yang menunjukkan bahwa saham dari perusahaan dengan PBV
yang tinggi akan mengalami peningkatan harga, yang berakibat pada
meningkatnya tingkat imbal hasil. Fama dan French juga menyatakan bahwa nilai
PBV dapat digunakan untuk memprediksi tingkat imbal hasil di masa datang.
Dengan demikian investor dapat memprediksi tingkat imbal hasil inisial yang
akan diterimanya berdasarkan nilai PBV perusahaan yang terdapat pada
prospektus awal. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan harga pada nilai
PBV bukan harga pasar yang terbentuk oleh aktivitas investor, melainkan harga
penawaran perdana yang ditetapkan oleh perusahaan emiten. Nilai PBV yang
tinggi menggambarkan optimisme dan janji perusahaan akan kinerja yang lebih
baik di masa mendatang. Saham dengan PBV yang tinggi akan memberikan imbal
hasil inisial yang tinggi pula, karena pada awal perdagangan di bursa perusahaan
akan berusaha menepati janjinya dan menunjukkan kinerja terbaik untuk
membangun kepercayaan investor.
Kapitalisasi saham mempunyai pengaruh yang negatif terhadap tingkat
imbal hasil inisial aktual saham. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar
kapitalisasi saham pada saat pelaksanaan IPO, maka semakin kecil tingkat imbal
hasil inisial yang dapat dihasilkannya. Nilai kapitalisasi saham yang besar dapat
disebabkan oleh banyaknya jumlah saham yang diterbitkan atau tingginya harga
saham yang ditawarkan pada pelaksanaan IPO. Sesuai dengan hukum penawaran
dan permintaan, semakin banyak jumlah barang yang ditawarkan, maka harga
yang terbentuk akan cenderung lebih rendah. Sedangkan tingginya harga yang
ditawarkan akan memperkecil kemungkinan harga untuk naik ke tingkat yang
lebih tinggi pada perdagangan di bursa. Demikianlah kedua hal ini dapat
menyebabkan rendahnya tingkat imbal hasil inisial pada saham yang memiliki
kapitalisasi besar.
Nilai konstanta yang sangat besar bila dibandingkan dengan koefisien
variabel-variabel yang ada juga menerangkan bahwa masih banyak faktor lain
yang mempengaruhi tingkat imbal hasil inisial aktual selain faktor-faktor yang
digunakan dalam analisis ini. Nilai koefisien determinasi (R-square) yang rendah
menunjukkan bahwa hanya 12,4 persen dari variasi tingkat imbal hasil inisial
aktual saham yang dapat diterangkan oleh faktor-faktor yang secara signifikan
mempengaruhinya. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh faktor psikologis
investor yang tidak dapat dijelaskan oleh data kuantitatif.
Analisis tingkat imbal hasil aktual saham dalam jangka panjang secara
deskriptif dilakukan untuk menyusun strategi investasi, sedangkan analisis tingkat
imbal hasil abnormal jangka panjang dilakukan untuk menganalisis kinerja saham
dalam jangka panjang. Perhitungan tingkat imbal hasil jangka panjang
menggunakan berbagai rumus, mengacu pada penelitian Kooli dan Suret (2001).
Data yang digunakan untuk analisis tingkat imbal hasil jangka panjang ini
diperoleh dari pengamatan harga saham bulanan sejak Januari 1999 hingga
Oktober 2006 yang kemudian diolah menjadi data tingkat imbal hasil dalam
bentuk rasio, dan diambil hingga maksimal pengamatan 60 bulan untuk masingmasing saham individu. Dalam periode pengamatan harga saham selama 60 bulan
ini ada kemungkinan terjadinya peristiwa pemecahan saham (stock split) atau
penggabungan saham (reverse split) yang dapat menyebabkan perubahan harga
saham secara tiba-tiba. Karenanya harga saham yang dianalisis perlu disesuaikan
terlebih dahulu dengan peristiwa-peristiwa ini.
Nilai imbal hasil yang diamati telah dikontrol dengan menghilangkan
outliers, yaitu setiap data dengan nilai residual yang 2,5 kali lebih besar daripada
standar deviasi, berdasarkan nilai z yang diperoleh dari analisis statistik deskriptif
dengan program SPSS 13.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum ada
tiga sektor yang pergerakan tingkat imbal hasilnya memotong sumbu X dalam
jangka panjang, yaitu sektor Pertanian, sektor Industri Barang Konsumsi, dan
sektor Perdagangan, Jasa, dan Investasi. Enam sektor lainnya memiliki pergerakan
tingkat imbal hasil yang senantiasa berada di daerah positif. Keseluruhan grafik
yang berada di area positif menunjukkan bahwa investor yang membeli saham
dari ketujuh sektor tersebut pada saat pelaksanaan IPO tidak akan mengalami
kerugian atau memperoleh tingkat imbal hasil yang negatif, kapanpun investor
ingin melepas saham tersebut di bursa.
Grafik pola pergerakan tingkat imbal hasil jangka panjang menunjukkan
bahwa investasi jangka panjang paling baik dilakukan pada saham dari sektor
Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi karena akan memperoleh tingkat imbal
hasil yang paling tinggi dibanding sektor-sektor lainnya, yaitu sebesar 193,5
persen pada akhir bulan ke-38 setelah diperdagangkan di bursa.
Hasil analisis tingkat imbal hasil abnormal dalam jangka panjang
menunjukkan bahwa secara umum saham mengalami penurunan kinerja yang
ditunjukkan oleh penurunan tingkat imbal hasil abnormal dalam jangka panjang.
Kinerja saham yang cenderung menurun pada hampir semua sektor ini tidak
sejalan dengan pola pergerakan tingkat imbal hasil aktualnya. Tingkat imbal hasil
abnormal saham secara umum tampak terkoreksi ke bawah oleh kinerja pasar. Hal
ini merupakan indikasi kinerja pasar yang mengalami peningkatan. Kinerja IHSG
memang mengalami peningkatan pada akhir periode pengamatan. Sebagian besar
saham tidak mampu mengimbangi laju peningkatan kinerja pasar ini sehingga
memiliki kinerja jangka panjang yang negatif.
Hasil ini cenderung mendukung Fads Hypothesis yang menyatakan bahwa
dalam jangka panjang pasar akan mengkoreksi penilaian yang berlebihan terhadap
saham IPO yang terjadi pada awal perdagangan di bursa. Hipotesis ini
memprediksi bahwa semakin besar tingkat imbal hasil inisial abnormal, maka
semakin besar koreksi atas overpricing yang telah dilakukan investor, sehingga
menyebabkan tingkat imbal hasil abnormal dalam jangka panjang semakin rendah
(De Bondt dan Thaler, 1985).
Hasil analisis menunjukkan bahwa hipotesis ini ternyata hanya berlaku
untuk lima sektor, sementara empat sektor lainnya tampak tidak sesuai dengan
hipotesis ini. Lima sektor yang dimaksud adalah sektor Pertanian, sektor Industri
Dasar dan Kimia, sektor Industri Barang Konsumsi, sektor Keuangan, dan sektor
Perdagangan, Jasa dan Investasi. Kelima sektor tersebut tampak berjalan seiring,
pergerakannya terus menurun dan mulai memasuki wilayah negatif sejak bulan
ke-13. Di antara kelima sektor tersebut, sektor Perdagangan, Jasa dan Investasi
memiliki tingkat imbal hasil inisial abnormal yang tertinggi, karenanya sektor ini
kemudian tampak memiliki kinerja yang paling buruk pada akhir periode
pengamatan. Sektor ini mengalami penurunan kinerja yang paling besar dibanding
sektor-sektor lainnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa sektor Perdagangan,
Jasa, dan Investasi memiliki kinerja jangka panjang yang paling buruk.
Berlawanan dengan Fads Hypothesis, dua sektor yang memiliki tingkat
imbal hasil inisial abnormal tertinggi, yaitu sektor Aneka Industri serta sektor Properti dan Real Estate, justru hanya mengalami penurunan tingkat imbal hasil
abnormal yang relatif kecil dibanding dengan kelima sektor tadi. Pada akhir
periode pengamatan kedua sektor ini masih memiliki tingkat imbal hasil abnormal
yang positif. Hal ini merupakan petunjuk bahwa kedua sektor tersebut memang
memiliki kinerja yang baik secara fundamental. Kinerja yang lebih baik lagi
ditunjukkan oleh satu-satunya sektor yang mengalami pergerakan meningkat,
yaitu sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi. Kinerja yang baik ini
tercermin pada tingkat imbal hasil aktualnya yang relatif tinggi dan cenderung
meningkat hingga akhir periode pengamatan.
Dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa rata-rata
tingkat imbal hasil inisial adalah positif pada semua sektor. Faktor resiko yang
memiliki pengaruh terhadap tingkat imbal hasil inisial adalah PBV dan
kapitalisasi saham. PBV memiliki pengaruh positif, sedangkan kapitalisasi saham
memiliki pengaruh negatif. Strategi investasi jangka panjang sebaiknya dilakukan
pada sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi, yaitu dengan membeli saham
pada pelaksanaan IPO, dan menjualnya kembali setelah bulan ke-38 saham
diperdagangkan di bursa. Dengan demikian investor akan memperoleh imbal hasil
sebesar 193,5 persen. Strategi ini didukung oleh hasil analisis tingkat imbal hasil
abnormal dalam jangka panjang yang menunjukkan bahwa sektor Infrastruktur,
Utilitas, dan Transportasi memiliki kinerja jangka panjang yang terbaik di antara
sektor-sektor lainnya. Kinerja jangka panjang terburuk ditunjukkan oleh sektor
Perdagangan, Jasa, dan Investasi yang mengalami penurunan tingkat imbal hasil
terbesar dalam jangka panjang.
Hasil dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam
menyusun strategi investasi saham oleh investor dan calon investor. Investasi di
pasar perdana yang bertujuan untuk dijual kembali pada awal perdagangan di
bursa sebaiknya dilakukan pada saham yang memiliki kapitalisasi saham kecil,
dan berasal dari perusahaan dengan PBV besar. Dengan demikian diharapkan
investor akan memperoleh imbal hasil inisial yang besar.
Dari hasil identifikasi tingkat imbal hasil inisial diperoleh gambaran
mengenai tingkat imbal hasil inisial yang dapat diperoleh dari investasi saham
pada masing-masing sektor. Berdasarkan gambaran ini, investor dapat
mempertimbangkan investasi pada saham dari sektor Properti dan Real Estate
karena sektor ini mampu memberikan keuntungan yang paling besar dengan
tingkat resiko yang terkecil di antara sektor-sektor lainnya.
Investasi saham yang dilakukan pada saat pelaksanaan IPO tidak harus
diakhiri pada hari pertama saham diperdagangkan di bursa. Investor dapat
menahan sahamnya hingga jangka waktu tertentu untuk memperoleh keuntungan
yang optimal. Strategi jangka panjang sebaiknya dilakukan pada sektor
Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi, yaitu dengan menjualnya pada akhir
bulan ke-38. | |