Show simple item record

dc.contributor.advisorSumarwan, Ujang
dc.contributor.advisorSimanjuntak, Megawati
dc.contributor.authorWahpiyudin, Cep Abdul Baasith
dc.date.accessioned2025-05-30T22:52:54Z
dc.date.available2025-05-30T22:52:54Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/161837
dc.description.abstractKereta Cepat Whoosh (Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat) dirancang sebagai solusi transportasi efisien dan ramah lingkungan, tetapi jumlah penumpang harian yang masih jauh dari target menunjukkan adanya gap yang perlu dianalisis, sehingga penelitian ini berfokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi niat beralih ke penggunaan Kereta Cepat Whoosh, baik oleh pengguna yang sudah ada maupun calon pengguna yang belum memanfaatkan layanan ini. Penelitian ini mengintegrasikan tiga teori utama: Theory of Sustainable Transportation (TST), Theory of Push-Pull-Mooring (PPM), dan Theory of Value-Belief-Norm (VBN. Secara khusus, penelitian ini mengidentifikasi demografi dan perilaku pengguna, menganalisis perbedaan persepsi antara pengguna berpengalaman dan calon pengguna yang didasarkan pada ekspektasi awal, serta menilai pengaruh faktor push, pull, dan mooring dalam memengaruhi keputusan konsumen. Penelitian ini juga merumuskan rekomendasi kebijakan untuk pengembangan strategi promosi dan peningkatan adopsi Kereta Cepat Whoosh. Penelitian ini menggunakan desain explanatory research dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan data dilakukan menggunakan survei berbasis kuesioner skala Likert yang disebarkan melalui media sosial dan pesan langsung kepada pengguna HSR. Sampel penelitian ini berjumlah 711 responden, yang terdiri dari 365 calon pengguna dan 346 pengguna HSR. Peneliti menetapkan 346 responden dari masing-masing kelompok untuk dianalisis, sehingga total sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 692 responden. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan perangkat lunak SPSS 25 untuk analisis deskriptif, dan Partial Least Squares (PLS) dengan software SmartPLS 4 untuk menguji hubungan antar variabel laten dan manifest. Penelitian ini mengungkap karakteristik demografis dan perilaku calon pengguna serta pengguna layanan kereta cepat Whoosh rute Jakarta–Bandung. Mayoritas responden adalah laki-laki usia 20–30 tahun, berpendidikan sarjana ke atas, bekerja sebagai pelajar, mahasiswa, atau karyawan swasta, dan berdomisili di wilayah Jakarta atau Bandung. Calon pengguna umumnya berpendapatan menengah ke bawah dan bepergian untuk rekreasi, sedangkan pengguna berasal dari kelompok menengah ke atas dengan frekuensi penggunaan rendah. Kelas ekonomi premium menjadi pilihan dominan, dengan pembiayaan perjalanan mayoritas secara pribadi. Meskipun tingkat kepuasan tinggi, calon pengguna menghadapi hambatan adopsi berupa keterbatasan kesempatan mencoba, persepsi harga mahal, dan kemudahan akses moda alternatif. Faktor kenyamanan, kecepatan, harga, dan keberlanjutan memengaruhi keputusan penggunaan, dengan kenyamanan sebagai pertimbangan utama. Analisis perbedaan persepsi antara pengguna dan calon pengguna menunjukkan adanya pengaruh pengalaman aktual terhadap pembentukan persepsi layanan. Terdapat perbedaan signifikan dalam hal persepsi biaya, kesadaran informasi, persepsi nilai, norma subjektif, dan total switching cost. Pengguna menunjukkan pemahaman biaya yang lebih realistis dan kesadaran akan hambatan berpindah setelah pengalaman penggunaan langsung. Sebaliknya, calon pengguna menunjukkan ekspektasi yang lebih positif terhadap nilai dan informasi layanan, serta pengaruh sosial yang lebih besar dalam keputusan adopsi. Sementara itu, dimensi persepsi manfaat, kualitas layanan, dampak lingkungan, kepercayaan, keberlanjutan, dan daya tarik tidak menunjukkan perbedaan signifikan di antara kedua kelompok. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa switching intention calon pengguna (initial) dan pengguna aktual (continued) layanan kereta cepat Whoosh pada rute Jakarta–Bandung dipengaruhi oleh kombinasi faktor push, pull, dan mooring, dengan pola pengaruh yang berbeda. Pada calon pengguna, initial switching intention dipengaruhi oleh HSR information awareness, perceived value, attractiveness of HSR, dan subjective norm, sementara trust belum berperan penting. Sebaliknya, pada pengguna aktual, continued switching intention dipengaruhi kuat oleh trust, perceived value, dan attractiveness, sedangkan subjective norm tidak signifikan. Attractiveness menjadi konstruk paling dominan di kedua model, dibentuk oleh HSR characteristics, perceived quality, dan sustainability. Perceived value juga berperan sebagai mediator penting antara attractiveness dan trust, serta berkontribusi langsung terhadap switching intention. Efek moderasi menunjukkan bahwa HSR self-efficacy memoderasi negatif hubungan attractiveness terhadap initial switching intention, namun positif dalam model continued. Sebagian besar variabel switching cost (procedural dan relational) tidak menunjukkan efek moderasi signifikan, menandakan hambatan perpindahan belum menjadi faktor utama dalam adopsi maupun keberlanjutan. Trust juga memoderasi pengaruh subjective norm terhadap initial switching intention, namun tidak pada continued, menandakan bahwa pengaruh sosial lebih kuat dalam tahap adopsi awal jika dibarengi dengan kepercayaan. Variabel kontrol gender dan income berpengaruh signifikan dalam kedua model, dengan kecenderungan switching intention lebih tinggi pada perempuan dan individu berpenghasilan tinggi, sedangkan usia hanya signifikan dalam model pengguna aktual. Berdasarkan temuan penelitian, rekomendasi kebijakan disusun terpisah untuk mendorong initial dan continued switching intention. Pada tahap initial, strategi diarahkan pada penguatan daya tarik visual dan karakteristik fisik HSR (melalui Whoosh Experience Zone dan identitas visual nasional), peningkatan kesadaran nilai lewat kampanye edukatif “Whoosh Hemat Waktu & Energi”, serta penguatan legitimasi sosial melalui “Whoosh Pilihan Kami” dan “Green Travel Stamp”. Untuk tahap continued, fokus diberikan pada penyegaran fasilitas, program loyalitas berbasis jarak tempuh, integrasi digital seperti journey memory dan asisten AI, serta peningkatan kepercayaan melalui sertifikasi dan testimoni pengguna. Dimensi empati diterapkan di kedua tahap melalui tarif preferensial demografis, layanan pendamping, dan kios literasi digital. Seluruh kebijakan ini dirancang berbasis teori dan bukti empiris untuk mendorong adopsi dan loyalitas terhadap HSR dalam mendukung transportasi berkelanjutan di Indonesia.
dc.description.sponsorshipLembaga Pengelola Dana Pendidikan Republik Indonesia
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleModel Transisi Perilaku Pengguna Transportasi Umum Ke Kereta Cepat Jakarta-Bandung: Pendekatan Teori Push- Pull-Mooring.id
dc.title.alternativeA Transition Model of Public Transport Users to The Jakarta-Bandung High-Speed Rail: A Push-Pull-Mooring Approach
dc.typeTesis
dc.subject.keywordAdopsi Kereta Bercepatan Tinggiid
dc.subject.keywordPerilaku Pengguna Transportasiid
dc.subject.keywordTheory of Push-Pull-Mooringid
dc.subject.keywordTheory of Sustainable Transportationid
dc.subject.keywordTheory of Value-Belief-Normid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record