Show simple item record

dc.contributor.advisorErizal
dc.contributor.advisorPutra, Heriansyah
dc.contributor.authorFebrianto, Ari
dc.date.accessioned2025-01-07T02:34:56Z
dc.date.available2025-01-07T02:34:56Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160570
dc.description.abstractIndonesia merupakan negara dengan tingkat aktivitas seismik yang tinggi, mencatat 71.628 kejadian gempa bumi antara tahun 2009 hingga 2019, termasuk gempa Cianjur pada November 2022 yang dipicu oleh sesar aktif yang belum teridentifikasi. Kondisi ini mendorong pembaruan standar seismik, seperti SNI 1726:2019 yang menggantikan SNI 1726-2012, untuk memberikan panduan yang lebih komprehensif dalam perancangan bangunan tahan gempa. Namun, pembaruan ini juga meningkatkan beban gempa hingga 69% di beberapa wilayah, sehingga bangunan yang dibangun sebelum pembaruan ini memerlukan evaluasi kinerja untuk memastikan keamanannya. Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki standar evaluasi khusus untuk bangunan eksisting, sehingga evaluasi sering kali masih menggunakan standar desain yang bersifat preskriptif. Gedung XYZ, yang berlokasi di Jakarta Timur dengan delapan lantai dan dibangun pada tahun 2001, menjadi objek evaluasi menggunakan SNI 1726:2019, SNI 2847:2019, dan ASCE 41-17. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa struktur gedung ini tidak memenuhi persyaratan kedua standar dalam hal simpangan lantai Berdasarkan SNI, ditemukan 140 balok dan 120 kolom dengan nilai Demand Capacity Ratio (DCR) rata-rata masing-masing 1,10 dan 1,34, yang menunjukkan elemen-elemen ini tidak memenuhi target kinerja. Selain itu, terdapat 12 elemen dinding geser dengan DCR rata-rata 1,84, serta 146 elemen sambungan dengan DCR rata-rata 1,26. Sementara itu, berdasarkan ASCE 41-17, semua elemen memenuhi tingkat kinerja LS di bawah beban BSE-1E, namun di bawah beban BSE-2E, delapan kolom lantai dasar melebihi target CP, menunjukkan adanya risiko kegagalan pada prinsip kolom kuat-balok lemah. Penelitian ini mengungkapkan perbedaan signifikan antara pendekatan SNI 1726:2019 dan ASCE 41-17 dalam menentukan demand dan kapasitas struktur bangunan eksisting. SNI cenderung bersifat konservatif, dengan pengunaan factor safety yang tinggi, sehingga terjadi peningkatan demand dan faktor reduksi yang besar menurunkan nilai kapasitas elemen, pesyaratan SNI lainnya menerapkan mutu material minimum dan jarak tulangan minimum yang sulit dipenuhi oleh bangunan eksisting. Pendekatan ini menghasilkan tingkat defisiensi yang lebih tinggi dan memberikan tantangan lebih besar dalam memenuhi kinerja struktur eksisting. Sebaliknya, ASCE 41-17 lebih fleksibel dan proporsional dalam menentukan demand serta kapasitas, sehingga menghasilkan evaluasi yang lebih realistis dan efisien. Evaluasi gedung ini menunjukkan bahwa ASCE 41-17 tidak hanya lebih efisien, dengan mengidentifikasi hingga 77% lebih sedikit elemen tidak aman dibandingkan SNI, tetapi juga memberikan pedoman yang lebih fleksibel dan realistis untuk bangunan eksisting di Indonesia
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleEvaluasi Seismik dan Retrofit Struktur Bangunan Menggunakan ASCE 41-17 dan SNI 1726:2019id
dc.title.alternativeSeismic Evaluation and Retrofit of Building Structures Using ASCE 41-17 and SNI 1726:2019
dc.typeTesis
dc.subject.keywordASCE 41-17id
dc.subject.keywordRetrofitid
dc.subject.keywordGempa Bumiid
dc.subject.keywordSNI 1726:2019id
dc.subject.keywordStrukturid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record