Show simple item record

dc.contributor.advisorSiregar, Hermanto
dc.contributor.advisorSaptono, Imam Teguh
dc.contributor.authorBuditalira
dc.date.accessioned2024-12-05T07:58:08Z
dc.date.available2024-12-05T07:58:08Z
dc.date.issued2006
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160075
dc.description.abstractPersaingan yang semakin ketat di industri botol Indonesia pada saat ini, KCI selaku salah satu dari tiga produsen besar di Indonesia dituntut untuk meningkatkan kualitas produk dan menjualnya dengan harga yang kompetitif. Kesadaran yang mulai meninggi dari produsen consumer goods dan masyarakat akan ke higienisan dan keamanan penggunaan kemasan botol menuntut produsen botol untuk besifat reaktif dan preventive. Selain itu, harus dilakukan antisipasi terhadap serbuan hotol import dengan harga murah dan ancaman kemasan lain selain botol, misal plastik dan karton yang dapat mempengaruhi tingkat penjualan. Ditambah dengan meningkatnya biaya operasional yang meliputi harga BBM, transportasi dan listrik. Peningkatan biaya yang berhubungan dengan biaya operasional akan sangat berpengaruh dengan harga penjualan, dan keuntungan yang akan diperoleh. Semua hal tersebut tak dapat dihindari dan harus disiasati agar dapat tetap eksis di dalam industri perbotolan serta dapat menguasai pasar. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode pengukuran kegiatan operasional dan kondisi perusahaan agar dapat mengatasi, mengevaluasi, dan menentukan langkah-langkah strategis yang akan diambil. Dengan diterapkannya Balanced Scorecard, diharapkan dapat dijadikan kerangka kerja utama proses manajerial penting perusahaan, antara lain penetapan tujuan perorangan dan tim, kompensasi, alokasi sumber daya, penganggaran dan perencanaan, serta umpan halik dan pembelajaran strategis. Berdasarkan kondisi perusahaan saat ini, maka dapat dirumuskan permasalahan yang ada adalah (1) Bagaimana proses pembangunan dan penerapan Balanced Scorecard yang dilaksanakan pada PT. Kangar Consolidated Industries? (2) Apa saja kelebihan dan kekurangan Balanced Scorecard, hambatan dan pendorong penerapan Balanced Scorecard serta hasil penerapan Balanced Scorecard pada PT Kangar Consolidated Industries Berdasarkan rumusan permasalahan tersebut, tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan proses pembangunan Balanced Scorecard yang dilaksanakan oleh PT. Kangar Consolidated Industries, (2) Mendeskripsikan keunggulan dan kendala penerapan Balanced Scoreeurd pada PT Kangar Consolidated Industries. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah (1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi pihak manajemen perusahaan dalam strategi bersaing, (2) Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan bagi perencanaan perusahaan, dan (3) Sebagai sarana untuk mengiplementasikan ilmu serta pengalaman dalam manajemen strategis bagi penulis. Metode penelitian menggunakan analisis kuantitatif dan analisis deskriptif. Analisis deskriptif digunakan terhadap proses penyusunan Balanced Scorecard yang bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan sehingga memperoleh gambaran kinerja PT. Kangar Consolidated Industries dalam penetapan sistem penilaian kinerja secara luas guna menunjang strategi bisnis perusahaan. Metode Balanced Scorecard yang dilakukan pada analisis didasarkan pada riset dan logika berfikir secara ilmiah Sedangkan analisis kuantitatif menggunakan metode Paired Comparison untuk pembobotannya dan analises The Baldrige Criteria untuk mengukur seberapa siap penerapan Balanced Scorecard pada PT Kangar Consolidated Industries. Pengumpulan data dilakukan dengan cara obeersuri, wawancara, dan penyebaran kuesinner serta data-data yang dapat diperoleh dari perusahaan. Tahap-tahap yang diterapkan dalam analisis dan pengolahan data meliputi (1) Menerjemahkan visi, misi dan bianis strategi perusahaan: Perumusan Pets Strategi. (2) Balanced Scorecard sebagai sistem pengendalian strategis Berdasarkan analisis penulis, ada baiknya KCI memiliki visi "Menjadikan KCI sebagai produsen botol gelas terpercaya di Asia dengan standar yang tinggi dan pelayanan bertaruf international" Sedangkan misinya adalalı (1) Mampu bersaing secara global berdasarkan kompentensi seperti pengadaan bahan haku, produk yang berkualitas dengan mempergunakan peralatan yang canggih, memahami situasi pasar global, dan pelayanan dengan standar internasional (2) Menghasilkan inovasi jenis botol untuk memenuhi selera pasar, (3) Memberikan pelayanan terbaik pada konsumen, distributor dan parent company. (4) Memberikan kesejahteraan/profit hagi karyawan dan parent company sebagai mitra usaha dalam mencapai kemajuan bersama, dan (5) Memiliki tanggung jawah sosial (Corporate Social Responsihility CSR) pada masyarakat akan akan berdampak pada eurporate image building. Setelah penentuan strategi dengan melihat empat perspektif Balanced Scorecard ditentukan, dilakukan Canae Effect Relationship yang terdiri dari Lagging Indicator (indikator akibat ukuran hatil) dan Leading Indicator indikator sebabyukuran pemacu kinerja). Yang kemudian dilanjutkan dengan penentuan Key Performance Indicator atas tolak ukur kinerja, yaitu ukuran yang digunakan untuk menggambarkan keberhasilan pencapaian sasaran. Kamadian dibuatlah Strategy Map yang merupakan penjabaran dari vini, misi, strategi bisnis perusahaan dan ukur ukuran kinerja perusahaan Penggunaan Metode Ballrige Criteria yang mencakup evaluasi terhadap berbagai tolak ukur dan sistem pengukuran yang digunakan perusahaan saat ini. Dengan melengkapi berbagai instrumen yang didasarkan padu The Baldrige Criteria akan terlihat karakteristik suatu sistem pengukuran yang efektif dan seberapa jaah organisasi atau perusahaan terlibat dalam standard dan praktik balanced scorecard yang ada. Dari penjabaran hasil Baldrige Criteria yang dilakukan, terlihat bahwa KCI memiliki nilai 240 yang berarti perusahaan memiliki pendekatan yang sistematik dalanı pengukuran dan dapat mencapai suatu kesimhangan yang baik, naman perusahaan memiliki kelemahan dalam mengukur kepuasan pelanggan dan pegawai. Perusahaan juga kurang dapat menggabungkan scorecard individu ke dalam ringkasan statistik dan menganalisis data untuk meningkatkan kinerja organisasi Setelah Metode Baldrige Criteria, untuk menentukan bahwa setiap perspektif dan masing-masing tolak ukur kinerjanya mempunyai bobot yang berbeda sesuai dengan hasil yang ingin dicapai oleh perusahaan, digunakanlah metode Paired Comparison untuk memperoleh besamya skor dari masing-masing perspektif yang hasilnya memperlihatkan bahwa perspektif yang mempunyai bobot yang paling besar adalah perspektif keuangan (27.98 persen), ditunul perspektif pelanggan (27.38 persen), persepektif proses binnis internal (25 perses) dan persepektif pertumbuhan dan pembelajaran (19.64 persen). Pada perspektif keuangan, Sales (26,79 persen) memiliki hobot kepentingan tertinggi, diikuti oleh collection (26.19 persen), kemadian inventory turn over (23.81 persm), dan yang tuxakhir efesionai biaya (23.21 persen). Apabila diperhatikan secara seksama, bobot sales dan collection memiliki perisadaan yang tipis, begitupun halnya dengan bobot imvatory turn over dengan efestensi biaya. Sehingga walaupun memiliki urutan yang lebih tinggi, boleh dikatakan saler dan collection serta bobot inventory non over dan efesiensi biaya memiliki pengaruh yung hampir sama. Untuk urutan tingkat hobet kepentingan tertinggi di dalam grup KPI sales adalah local sales (53.57 persen) dan berikutnya adulah export sales (46.43 persen) Sedangkan urutan tingkat bobot kepentingan tertinggi di dalam grup KPI collection diduduki olch A/R Collection (38.10 persen), diikuti oleh billing receipt by customer (32.14 persen), dan terakhir ditempati oleh net collection (29.76 persen). Pada perspektif pelanggan, Contimur order (28.57 persen) memiliki pengarıdı yang paling besar, diikuti oleh market share (24.40 persen), kemudian customer relationship (23.81 persen), dan terakhit customer satisfaction (23.21 persen). Pada customer relationship, terdapat dua KPI yang pertama diduduki oleh malding the corporate image (64.29 persen) kemudian new cuatroner (35,71 persen). Pada perspektif proans bisnis internal, Warehunese management (29.71 persen) memiliki pengaruh yang besar. Pengarah berikutnya ditempati oleh R&D (25.60 persen), kemudian diikuti oleh after sales servier (23.81 persen), dan terakhir ditempati oleh hubungan dengan pemasok (21.43 persen). Walaupun warehouse management memberikan kontribusi yang paling tinggi bagi perspektif proses bianis intermal, ketiga grup KPI yang lainnya tidak dapat dipandang sebelah mats, karma justru dari hagus atau tidaknya kinerja grup KPI tersebut akan berpengaruh pula pada benarnya kontribusi perspektif ini di dalam Halanced Scorecard, Grup KPI warehouse management memiliki dua KPI, yang pertama sangat dipengaruhi oleh updated stock position (57.14 persen), dan yang kedus oleh lokasi dan penyusunan stok (42.86 persen). Selain itu, after sales service pun memiliki KPI yang terdiri dari problem solding (34.52 persen), respond terhadap keluhan (34.53 persen), dan keyakinan bortransaksi dengan 0-1 Jakarta Plant (30.93 persen). Dapat dilihat baha problem solving dan respond terhadap keluhan memiliki bobot yang sama (34.52 persen), dapat dikatakan hahwa kodus KPI ini sangat berpengaruh pada grup KPI afier sales service. Sedangkan pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran dipengaruhi oleh grup KPI motivasi (27.98 persen), Kepuasan karyawan (26.19 persen) menempati urutan kedua yang berpengarah, ketiga kompetensi (25.60 persen), dan yang terakhir loyalitas (20.24 persen). Motivasi, tak pelak merupakan grup KPI yang sangat berpengaruh pada perspektif ini. Terlihat bahwa grup KPI ini akan terpengaruh oleh bagus tidaknya tiga grup KPI lainnya. Motivasi tidak dapat berfiri sendiri tanpa ditopang oleh kepuanın karyawan, kompetensi, dan loyalitas. Terdapat faktor pendukung yang dapat mendorong penerapan Balanced Scorecard pada PT KCI yang terdiri dari (1) Memiliki sistem yang terintegrasi, yaitu SAP, (2) Memiliki sumber daya yang kompeten di bidangnya, (3) Memiliki dukungın yang kust dari grup. Dulcangan ini sangat penting untuk memudahkan implementasi Balanced Scorecard di KCI Sehingga pihak grup akan mengawasi jalannya implementasi dan memberikan masukan serta sarun. Sedangkan kendala yang mungkin terjadi dalam penerapan Balanced Scorecard pada PT KCI adalah (1) Karyawan mempunyai rasu memiliki yang kurang terhadap perusaham. Leadership yang kurang, dan (3) Afirz communication. Implikasi manajerial yang dapat dilakukan oleh KCI yang berkaitan dengan masalah internal adalah meningkatkan kerjasama tim yang selama ini terabaikan, sehingga penerapan Balanced Scorecard dapat berjalan dengan baik dan terjalin komunikasi dan kritik yang membangun. Implikati manajerial yang dapat dilakukan oleh KCI yang berkaitan dengan karyawan adalah memberikan pelatihan dan pemahaman mengmai Balanced Scorecard, sehingga seluruh karywwat mengetahui dan memahami tagaanya masing- masing yang sejalan dengan visi dan misi KCL Implikasi manajerial yang dapat dilakukan oleh KCI yang berkaitan dengan software yaitu memaksimalkan penggunaan sofware SAP. Selama ini para user senantiasa terpaku dengan rutinitas modul yang digunakan, padahal masih banyak modul lain yang dapat digunakan untuk memonitir hasil kerjaannya sendiri, flow chunt process, overview dan lain sebagainya. Sehingga di kala implementasi Halanced Scorecard karyawan memiliki pengetahuan yang baik akan proses dan danpuk dari satu pensas ke proses lainnya. Di sini peran HR Department berfungsi untuk melakukan tuning yang meningkatkan komampuan dan pengetahuan akan apa yang dikerjakannya. Implikasi manajerial yang dapat dilakukan oleh KCI yang berkaitan dengan customer adalah memperhatikan what customer needs and wants ! Dengan lebih mengenali karakumistik customer, segala keluhan dan tuntutan eustomer akan diketahui sehingga akan tercipta customer relationship dan customer antisfaction serta good communication yang akan berdampak pada meningkatnya loyalitas customer.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleAnalisis Rencana Penerapan Balanced Scorecard Pada Pt. Kangar Consolidated Industriesid
dc.subject.keywordKciid
dc.subject.keywordStrategiid
dc.subject.keywordPaired Comparisondid
dc.subject.keywordBaldrige Criteriaid
dc.subject.keywordBalanced Scorecardid
dc.subject.keywordKebijkan Mutuid
dc.subject.keywordTolok Ukur Kinerjaid
dc.subject.keywordStrategy MapKCIid
dc.subject.keywordStrategiid
dc.subject.keywordPaired Comparisonid
dc.subject.keywordBallrige Criteria Balanced Scorecardid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record