| dc.description.abstract | Ketertarikan fisik merupakan perhatian utama individu. Dalam hal apapun, penampilan dapat menentukan kesan tersendiri. Kelman dalam Tarjono (2003) membuktikan bahwa ketertarikan fisik merupakan salah satu dimensi penting yang cukup mempengaruhi receiver dalam upaya penyampaian suatu pesan. Sama halnya dengan hubungan negosiasi antara produsen dan konsumen. Namun, tidak semua individu memperhatikan penampilan saat bernegosiasi, padahal ketertarikan fisik merupakan salah satu unsur yang menunjukkan profesionalisme bernegosiasi. Ketertarikan fisik merupakan bagian dari suatu budaya, terbatasnya pengetahuan para petani akan pentingnya memahami budaya saat melakukan berinteraksi menjadi salah satu kendala bemegosiasi. Pada negosiasi antara pihak kelompok tani dengan anggota para petani lokal selaku pemasok produk pertanian dengan pihak supermarket, lintas budaya terjadi karena adanya perbedaan budaya antara keduanya. Selain itu, aspek penting yang harus diperhatikan juga adalah Service Quality (ServQual). ServQual menjadi jaminan kepercayaan terhadap kemampuan petani dalam memenuhi kesepakatan yang telah dibuat. ServQual yang tidak sesuai dengan kesepakatan akan berakibat kurang baik bagi petani. Kesemuanya ini akan berpengaruh terhadap minat untuk terus menjalin kerjasama antara petani dengan pihak supermarket. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis terdapatnya hubungan antara ketertarikan fisik dengan standar penerimaan serta kesepakatan pemasok dengan pihak supermarket XYZ, (2) menganalisis terdapatnya hubungan lintas budaya antara budaya pemasok dengan budaya supermarket dengan negosiasi antara keduanya, (3) menguji kemungkinan adanya hubungan antara standar penerimaan dengan minat supermarket XYZ terhadap pemasok, dan (4) menganalisis kemungkinan adanya hubungan antara gender dengan minat pihak supermarket XYZ untuk bekerjasama dengan pemasok. Penelitian ini dilakukan pada beberapa kelompok tani yang berlokasi di Desa Cibodas, Lembang, Bandung. Untuk pihak supermarket, penelitian dilakukan pada PT. XYZ, Tbk di Jakarta. Kelompok tani yang menjadi objek penelitian merupakan pemasok sayuran segar pada PT. XYZ, Tbk. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober hingga Desember tahun 2005. Metode penelitian menggunakan survei. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari diperoleh langsung dari responden baik dengan menggunakan serangkaian pertanyaan dan pernyataan dalam sebuh kuesioner maupun melalui wawancara sedangkan data sekunder diperoleh melalui kajian penelitian terdahulu, studi literatur, bahan-bahan kepustakaan, dan jurnal- jumal yang berkaitan dengan objek penelitian. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada kelompok tani lokal yang menjalin kerjasama dengan pihak supermarket dan pihak supermarket yang berinteraksi dengan petani lokal. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, dapat diketahui bahwa bahwa untuk tujuh kelompok petani yang merupakan pemasok sayuran segar pada supermarket XYZ, 30 persen diantaranya adalah wanita dan 70 persen sisanya adalah pria. Usia mayoritas responden adalah sekitar 41 hingga 50 tahun. Analisis gap yang telah dilakukan berdasarkan pada dua sudut pandang yaitu pihak pemasok dengan pihak supermarket. Hasil analisis menunjukkan adanya tingkat kesenjangan yang tinggi pada setiap dimensi, Dimensi yang paling perlu untuk diperhatikan adalah dimensi service quality dimana nilai tingkat kesenjangan pada setiap indikatornya termasuk tinggi. Berdasarkan hasil analisis ini dapat diketahui pula bahwa terdapat ketidakpuasan antara kedua belah pihak namun pada unsur yang berbeda. Pada pihak supermarket terdapat ketidakpuasan yang tinggi terhadap service quality atau pelayanan yang diberikan dari segi ketepatan waktu pengiriman maupun kualitas dan kuantitas yang tidak konsisten. Sementara, dari pihak petani terdapat ketidakpuasan atas sistem yang diberlakukan oleh supermarket. Analisis hubungan yang telah dilakukan dalam penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang lemah antar variabel penelitian. Lemahnya hubungan tersebut dikarenakan oleh keterbatasan jumlah responden serta sebagian responden tidak berhubungan secara langsung dengan pihak supermarket Analisis crosstab bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara gender terhadap seluruh variabel penelitian. Analisis ini menunjukkan ada atau tidaknya hubungan gender dalam menghadapi proses negosiasi dan komunikasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam beberapa dimensi faktor gender memang mempengaruhi terutama dalam dimensi ketertarikan fisik dimana hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan pihak supermarket yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan perlakuan antara pria dan wanita. Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan, maka terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, baik oleh pihak pemasok produk sayuran segar yaitu para petani lokal dengan pihak supermarket. Pada analisis tingkat kesenjangan pada setiap dimensi, terlihat bahwa para petani lokal memiliki kelebihan juga kekurangan. Kelebihan para petani ini adalah hasil produk sayuran segar yang berkualitas, dengan penampakan fisik produk yang juga menarik. Kekurangan dari para petani lokal ini adalah kurangnya pemahaman mereka akan teknologi dan ilmu pengetahuan pertanian yang memerlukan bimbingan lebih banyak lagi. Tidak hanya itu, diperlukan juga bimbingan penyuluhan mengenai proses menjalin hubungan kerjasama dengan saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak. Sementara itu, dari sisi pihak supermarket pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pihak supermarket diantaranya kemampuan dalam menyalurkan produk yang diterima pemasok hingga ke tangan konsumen, serta kemampuan untuk menilai produk mana yang dapat diterima oleh konsumen dan yang mana yang tidak. Kekurangan dari pihak supermarket adalah kurangnya toleransi atas para petani lokal ini mengingat para petani ini memiliki keterbatasan ilmu pengetahuan sehingga muncul pembedaan perlakuan tertentu berdasarkan ketertarikan fisik. Dengan demikian melalui analisis kesenjangan ini terlihat adanya ketidakpuasan dari masing-masing pihak. Untuk memperbaikinya menuju tingkat kepuasan yang maksimal diperlukan proses pembelajaran dari masing-masing pihak, seperti adanya penyuluhan yang menyeluruh terhadap para petani agar siap untuk melakukan interaksi dengan komunikasi yang lebih baik. Dengan analisis hubungan dapat dilihat bahwa para petani menganggap korelasi antara ketertarikan fisik dengan standar sangat lemah walaupun tidak bernilai nol. Hal ini dikarenakan para petani yang merupakan responden sebagiannya adalah para petani yang tidak berhubungan secara langsung dengan pihak supermarket. Walaupun analisis korelasi ini tidak menghasilkan informasi seperti yang diharapkan, namun dari analisis ini dapat tergambar ilmu pengetahuan yang dimiliki petani lokal ini. Pihak-pihak yang terkait seperti BBDAH hendaknya perlu lebih memperhatikan penyaluran informasi kepada para petani sehingga walaupun tidak memiliki pendidikan tinggi namun tetap memperoleh pengetahuan secara informal, Melalui analisis crosstab diperoleh hasil bahwa gender cukup berperan serta berpengaruh terhadap awal proses negosiasi. Bahkan pihak supermarket melalui hasil wawancara menekankan pula akan adanya perbedaan perlakuan antara pria dan wanita. Hal ini perlu mendapat perhatian, bahwa gender seharusnya tidak perlu berpengaruh terhadap proses negosiasi. Kemampuan harus lebih diutamakan daripada gender. | |