Show simple item record

dc.contributor.advisorMa'Arif, Syamsul
dc.contributor.advisorHarjanto, Nazir
dc.contributor.authorEfenly, Destika
dc.date.accessioned2024-12-05T07:39:12Z
dc.date.available2024-12-05T07:39:12Z
dc.date.issued2006
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160023
dc.description.abstractPerubahan tatanan pemerintahan di Indonesia telah memberi peluang bagi daerah untuk memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki melalui pemberdayaan masyarakat. Peluang tersebut akan dapat dimanfaatkan apabila daerah tersebut memiliki kebijakan-kebijakan yang terarah dan berkesinambungan. Kebijakan pembangunan pertanian melalui pendekatan produksi telah mampu meningkatkan produksi hasil-hasil pertanian, Akan tetapi hakekat pembangunan pertanian itu sendiri yaitu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani beserta keluarganya belum pemah tercapai. Bertitik tolak dari kenyataan tersebut paradigma pembangunan pertanian beralih dari pendekatan produksi ke pendekatan sistem agribisnis dan menempatkan petani sebagai subjek. Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu merupakan suatu metode penyuluhan yang memadukan teori dan pengalaman petani dalam melakukan kegiatan usaha tani. Konsep ini dilandasi oleh kesadaran petani akan arti pentingnya tuntutan ekologis dan pemanfaatan sumberdaya manusia dalam pengendalian hama. Pada prinsipnya. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) berusaha untuk bekerjasama dengan alam, bukan melawannya. Sedangkan aktivitas kelompok fani menggambarkan, bagaimana petani dalam kelompoknya merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat teknis, sosial maupun ekonomi secara bersama. Indikator keaktifan kelompok tani tersebut diukur melalui lima jurus kemampuan kelompok tani. Kabupaten Belitung merupakan salah satu lokasi pelaksanaan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu tanaman lada. Kegiatan tersebut dibiayai oleh Pemerintah melalui dana dekonsentrasi selama satu Tahun Anggaran. Mengingat karakteristik tanaman lada merupakan tanaman tahunan, sehingga membutuhkan waktu yang panjang terhadap perlindungan tanaman. Berdasarkan pertimbangan di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang: "Analisis Pelaksanaan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu dan Hubungannya dengan Aktivitas Kelompok Tani di Kabupaten Belitung". Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pelaksanaan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu, efektifitas pencapaian sasaran, hubungan antara pelaksanaan dengan efektifitas pencapaian sasaran dan efektifitas pencapaian sasaran dengan aktivitas kelompok tani. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan pada tanggal 4 Februari sampai dengan 7 Maret 2005. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pelaksanaan, pencapaian sasaran sekolah lapang pengendalian harma terpadu dan hubungannya dengan aktivitas kelompok tani. Berdasarkan hasil pembahasan, beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Pelaksanaan sekolah lapang pengendalain hama terpadu pada tanaman lada Tahun Anggaran 2003 di Kabupaten Belitung belum sesuai dengan yang diharapkan. 2. Pencapaian sasaran yaitu tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikap jika dibandingkan dengan sebelum mengikuti sekolah lapang pengendalian hama terpadu terjadi peningkatan, akan tetapi belum optimal. 3. Terdapat hubungan antara pelaksanaan sekolah lapang dengan pengetahuan dan keterampilan, sedangkan terhadap sikap tidak terdapat hubungan. 4. Karakteristik responden jenis kelamin mempunyai hubungan dengan pengetahuan dan keterampilan responden, sedangkan pendidikan mempunyai hubungan dengan sikap responden. 5. Pengetahuan dan keterampilan mempunyai hubungan dengan aktivitas kelompok tani. Rekomendasi yang dapat dikemukakan menyangkut pelaksanaan sekolah lapang kepada Dinas Pertanian dan Kehutanan adalah hal-hal sebagai berikut: 1. Ditinjau dari segi waktu pelaksanaan dan jumlah pertemuan petani dengan pemandu dan dihubungkan dengan karakteristik tanaman lada dirasakan sangat singkat. Hal ini dikarenakan tanaman lada yang merupakan tanaman tahunan, sehingga untuk mengaplikasikan teknologi yang disampaikan oleh pemandu belum terlihat dampaknya, sementara kegiatan proyek telah berakhir. Dengan demikian pelaksanaan sekolah lapang pengendalian hama terpadu dibiayai oleh pemerintah paling tidak selama tiga tahun. 2. Cakupan materi teknis, ekonomi dan organisasi paling tidak mendapatkan porsi yang seimbang. Dengan porsi yang seimbang. petani diharapkan memiliki pengetahuan dibidang ekonomi dan organisasi yang bermanfaat untuk mengembangkan kelompok tani sebagai organisasi petani dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Pada sisi lain mengindikasikan bahwa pelaksanaan sekolah lapang pengendalian hama terpadu dilaksanakan melalui pendekatan sistem agribisnis.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Sumber Daya Manusiaid
dc.titleAnalisis Pelaksanaan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu dan Hubungannya Dengan Aktivitas Kelompok Tani Di Kabupaten Belitungid
dc.subject.keywordSekolah Lapang Pengendalian Hama Terpaduid
dc.subject.keywordLadaid
dc.subject.keywordManajemen Sumberdaya Manusiaid
dc.subject.keywordKabupaten Belitungid
dc.subject.keywordUji Validitas Dan Releabilitasid
dc.subject.keywordTeknik Pengolahan Dataid
dc.subject.keywordTeknik Rentang Kriteriaid
dc.subject.keywordUji Chi-Squareid
dc.subject.keywordSekolah Lapang Pengendalian Hama Terpaduid
dc.subject.keywordLadaid
dc.subject.keywordManajemen Sumberdaya Manusiaid
dc.subject.keywordKabupaten Belitung.id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record