Analisis Strategi Bauran Ritel Berdasarkan Segemntasi, Preferensi Konsumen dan Kinerja Atribut Electronic City-Bec Bandung
Abstract
Perkembangan jaman dan perubahan pola berbelanja masyarakat menjadikan bisnis ritel yang semula dipandang hanya sebatas penyedia barang dan jasa telah berkembang menjadi tempat berekreasi dan bersosialisasi. Munculnya superstore dan department store di tahun 1960-an (Sarinah Dept. Store) dan hyperstore menjelang tahun 2000 (Carrefour dan Continent di tahun 1998) menawarkan banyak kelebihan dibandingkan dengan ritel tradisional, seperti harga pasti, suasana nyaman, lingkungan bersih, relatif aman dari tindakan kriminalitas, variasi barang lengkap, kualitas barang terjamin, pelayanan yang baik, kemudahan dalam bertransaksi, dan lainnya. Kelebihan yang ditawarkan pasar modern tersebut menjadi pendorong utama beralihnya konsumen dari ritel tradisional ke modern. Electronic City BEC-Bandung merupakan modern store untuk produk elektronik dibuka pada akhir tahun 2002. Pada saat itu persaingan antar peritel belum terlalu terasa, namun pada pertengahan 2003 beberapa hyperstore yang juga sangat fokus pada penjualan produk elektronik mulai membuka cabangnya di Bandung. Carrefour Mollis, Giant Hyperpoint, Giant Bandung Supermall dan Hypermart BIP datang dengan membawa konsep one stop shopping dan harga murahnya membuat persaingan peritel elektronik di Bandung dalam memperebutkan konsumen menjadi sangat ketat. Akibat persaingan tersebut, di akhir tahun 2004, superstore elektronik Audio Plaza Home Center menutup 2 tokonya di Bandung, sedangkan Electronic City mengalami penurunan penjualan sebesar 5% dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk dapat tetap bertahan dalam persaingan, maka evaluasi terhadap bauran ritel selama ini perlu dilakukan, agar mampu memahami dan mengakomodasi keinginan konsumen. Dengan demikian diharapkan Electronic City mampu mempertahankan konsumennya di tengah persaingan yang ada..dst
Collections
- MT - Business [4109]

