| dc.description.abstract | Pembangunan sektor peternakan merupakan bagian integral dari
pembangunan pertanian dan pembangunan nasional. Sektor peternakan di
beberapa daerah di Indonesia telah memberikan hasil yang cukup baik, namun
secara keseluruhan sektor peternakan di Indonesia belum mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat.
Peternakan memiliki peran strategis dalam penyediaan bahan pangan dan
pemberdayaan masyarakat yang menjadi isu dominan sejak terjadinya krisis
ekonomi. Peternakan berperan sebagai penghasil pangan dan sebagai alternatif
lapangan usaha yang cukup membantu masyarakat. Peternakan sapi potong
merupakan salah satu cabang usaha yang berperan besar dalam penyediaan bahan
pangan berupa daging. Jumlah penduduk Indonesia yang menggantungkan
hidupnya dari sektor peternakan cukup tinggi, namun sebagian besar masih
berskala peternakan rakyat.
Jumlah penduduk di Indonesia cenderung mempunyai tren yang selalu
meningkat dalam setiap tahunnya, dan kenaikan jumlah penduduk ini berdampak
dengan meningkatnya jumlah permintaan akan kebutuhan protein. Pertambahan
penduduk pada setiap propinsi di Indonesia menunjukkan tren yang terus
meningkat, terutama di beberapa propinsi dengan kota besar seperti Sumatera
Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan lainnya.
Tingginya angka pertambahan penduduk Indonesia serta semakin
meningkatnya tingkat pendidikan/pengetahuan masyarakat meningkatkan
permintaan akan protein hewani, namun hal ini tidak diimbangi dengan hasil
produksi peternakan di Indonesia. Pertumbuhan penduduk, pertumbuhan
ekonomi, peningkatan pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya
makanan bergizi, baik secara langsung maupun tidak langsung telah mendorong
peningkatan permintaan daging tiap tahunnya. Peningkatan jumlah penduduk dan
permintaan akan produk peternakan (terutama daging) tidak bisa diimbangi
dengan peningkatan jumlah populasi ternak di Indonesia.
Peningkatan jumlah populasi sapi potong di Indonesia cenderung
mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun tidak setinggi peningkatan
jumlah penduduk Indonesia. Hal ini berakibat dengan langsung dengan produksi
daging sapi di Indonesia yang tidak dapat memenuhi permintaan masyarakat.
Produksi daging sapi memang cenderung meningkat dari tahun 2000 hingga tahun
2004, namun belum mampu memenuhi kebutuhan daging sapi masyarakat
Indonesia. Hal ini terlihat dari rata-rata peningkatan produksi daging sapi belum
setinggi peningkatan permintaan akan daging sapi. Hal ini juga ditandai dengan
semakin tingginya laju impor daging sapi setiap tahunnya. Kondisi ini
menunjukkan bahwa pengembangan peternakan sapi potong di Indonesia masih
cukup besar.
Permintaan akan daging sapi cenderung cukup tinggi di Propinsi dengan
jumlah penduduk besar di Indonesia, diantaranya ialah DKI Jakarta, Sumatera Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan lainnya. Kelebihan dan kekurangan
untuk setiap daerah cenderung berbeda-beda, namun jika dilihat dari peluangnya
maka Sumatera Utara merupakan salah satu dengan peluang pengembangan
peternakan sapi potong yang cukup potensial. Hal ini dikarenakan berbagai hal,
antara lain ialah minimnya peternakan sapi potong yang intensif, karena lebih dari
95% peternakan sapi potong di Sumatera Utara merupakan peternakan rakyat
dengan skala kecil.
Potensi peternakan yang cukup besar didukung sumberdaya alam yang
mendukung antara lain: padang rumput/padang pengembalaan seluas 1.311.159
ha, lahan perkebunan ± 1.192.172 ha, limbah pertanian melimpah berupa dedak
3.351.136 ton/thn, jerami padi 7.062.272 ton/thn, jerami kacang tanah 68.145
ton/thn, limbah pengolahan sawit 4.159.203 ton/thn dan jerami tebu 14.664 ton.
Pemasukan sapi impor di propinsi Sumatera Utara cenderung masih cukup tinggi,
dari data yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian bahwa pemasukan sapi dari
Australia berjumlah 7.465 ekor pada tahun 2003. Jumlah sapi lokal masih belum
mencukupi permintaan akan daging sapi di propinsi ini.
Tujuan penelitian adalah menganalisis kelayakan usaha peternakan sapi
potong di kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ruang lingkup dari penelitian
ini mencakup aspek pasar, aspek teknis, aspek lingkungan, aspek sumber daya
manusia dan aspek fiansial.
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Gunung Rintih, Kabupaten
Deli Serdang, Sumatera Utara dan kota-kota disekitarnya dalam Propinsi
Sumatera Utara dari bulan Juni 2005 sampai bulan Agustus 2005. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif dari hasil observasi
dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Pembahasan dilakukan mulai dari
identifikasi faktor yang mempengaruhi keberhasilan peternakan sapi potong
disertai dengan wawancara kepada praktisi pakar yang telah berpengalaman
dalam bidang penggemukan sapi potong di Sumatera Utara, kemudian dilanjutkan
dengan analisis kelayakan usaha dengan menganalisis beberapa aspek yaitu aspek
pasar (pemasaran), teknis, sumber daya manusia dan manajemen, sosial ekonomi
dan finansial serta melakukan peramalan jumlah kebutuhan daging mulai tahun
2006.
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa dari aspek pasar,
teknis, sumber daya manusia dan organisasi, lingkungan dan finansial
menunjukkan bahwa usaha penggemukan sapi potong di kabupaten Deli Serdang
layak dilakukan. Peluang pasar pendirian suatu peternakan sapi potong masih
cukup besar mengingat tingginya permintaan, luasan wilayah dan pakan limbah
pertanian. Perkiraan permintaan akan daging sapi pada tahun 2005 dan 2006
adalah 17.881 ton dan 18.250 ton dan ada kecenderungan meningkat dalam setiap
tahunnya. Berdasarkan data historis pada tahun 2004, produksi daging sapi dari
dalam propinsi hanya mampu memenuhi sekitar 40 % dari permintaan, sedangkan
sisanya dari luar propinsi dan impor.
Faktor-faktor inti yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha
penggemukan sapi potong ialah ketersediaan bakalan, kualitas bakalan, bahan
pakan, tehnik pemberian pakan, lahan dan agroklimat serta ketersediaan bahan
pakan pendukung. Tingginya limbah pertanian di propinsi Sumatera Utara adalah
suatu nilai tambah bagi usaha peternakan sapi potong. Kombinasi dari keseluruhan faktor tersebut akan mendukung keberhasilan usaha peternakan sapi
potong di Sumatera Utara.
Hasil perhitungan yang dilakukan terhadap pendirian usaha sapi potong di
kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara menghasilkan kesimpulan bahwa usaha
penggemukan sapi potong layak dilakukan dengan nilai NPV positif, nilai IRR
berkisar 30 % dan PBP membutuhkan waktu sekitar 3 tahun. Analisa sensitivitas
yang dilakukan menyimpulkan bahwa penurunan pertambahan bobot badan
(PBB) harian hingga 0,65 kg/hari, kenaikan bahan pakan hingga 2.8 kali,
penjualan kotoran ternak hingga 0 persen, kenaikan biaya gaji sebesar 2.65 kali,
kenaikan biaya operasional hingga 2.55 kali menyimpulkan usaha tetap layak.
Perhitungan kelayakan tersebut didasari oleh perhitungan individual tiap faktor
tersebut. Bila tiap faktor tersebut mengalami kenaikan atau penurunan lebih dari
perhitungan maka usaha penggemukan sapi potong di kabupaten Deli Serdang
dinyatakan tidak layak | |
| dc.subject.keyword | Kelayakan Usaha, Peternakan Sapi Potong, Daging Sapi, Bakalan,
Pakan, Konsumsi, Permintaan, Impor, Ekspor, Penduduk,
Pertambahan Bobot Badan, Limbah Ternak, Limbah Pertanian,
Peramalan, Analisis Sensitivitas | id |