Show simple item record

dc.contributor.advisorMangkuprawira, Sjafri
dc.contributor.advisorKirbrandoko
dc.contributor.authorTriprajogo, Teguh
dc.date.accessioned2024-12-05T07:18:41Z
dc.date.available2024-12-05T07:18:41Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159961
dc.description.abstractSalah satu tugas pokok Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Metrologi DKI Jakarta adalah melakukan kegiatan tera/tera ulang yaitu kegiatan pengujian dan peneraan suatu alat ukur yang digunakan dalam metrologi legal. Alat ukur yang digunakan dalam metrologi legal, sesuai dengan UU no 2 tahun 1981 tentang Metrologi Legal, adalah alat ukur yang digunakan dalam penentuan suatu upah dan besarnya transaksi yang harus dibayar dalam kegiatan perdagangan. Inti dari kegiatan tera/tera ulang adalah pelayanan kepada masyarakat yang hendak menera/menera ulangkan alat ukur. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat adalah dengan melakukan kajian tentang kepuasan pelanggan yang merasakan pelayanan tersebut. Penelitian ini dilakukan terhadap pelayanan pengujian meter taksi di Instalasi Pengujian Meter Taksi Balai Metrologi DKI Jakarta. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana persepsi dan harapan pelanggan terhadap pelayanan pengujian meter taksi di Balai Metrologi DKI Jakarta, (2) bagaimana tingkat kepentingan pelanggan terhadap pelayanan pengujian meter taksi di Balai Metrologi DKI Jakarta, (3) bagaimana kualitas pelayanan pengujian meter taksi yang telah diberikan oleh Balai Metrologi DKI Jakarta, dan (4) upaya perbaikan apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Tujuan penelitian adalah: (1) menganalisis persepsi yang dirasakan oleh pelanggan dan harapan pelanggan terhadap pelayanan pengujian meter taksi di Balai Metrologi DKI Jakarta, (2) menganalisis tingkat kepentingan pelanggan terhadap pelayanan pengujian meter taksi di Balai Metrologi DKI Jakarta, (3) menganalisis kualitas pelayanan pengujian meter taksi di Balai Metrologi DKI Jakarta, dan (4) menentukan langkah-langkah bagi perbaikan kualitas pelayanan pengujian meter taksi di Balai Metrologi DKI Jakarta. Ruang lingkup penelitian ini adalah: (1) pelayanan yang diamati adalah pelayanan di dalam kantor pada UPT Balai Metrologi DKI Jakarta, (2) jenis pelayanan yang diamati adalah pelayanan pada unit instalasi meter taksi, (3) responden adalah pelanggan yang datang ke unit pelayanan tersebut yang hendak menera atau menera ulangkan meter taksinya (argometer), (4) hal yang diamati adalah tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan kemetrologian, yakni sejauhmana pelayanan yang diberikan dan dirasakan pelanggan (perceive service) dapat memenuhi harapan (ekspektasi) yang diinginkan pelanggan, dan (5) sebagai bahan umpan balik (feed back) bagi Balai Metrologi DKI Jakarta, perlu informasi tentang persepsi penumpang taksi terhadap unjuk kerja argometer taksi.Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data dan informasi dengan menggunakan metode survei berupa pemberian kuesioner kepada pelanggan pelayanan pengujian meter taksi. Kuesioner tersebut berupaya mengungkapkan persepsi dan harapan mereka atas pelayanan tersebut. Metode tersebut juga disertai dengan wawancara mendalam (depth interview) kepada pelanggan yang bertujuan menggali lebih jauh persepsi dan harapan pelanggan. Metode sampling yang digunakan dengan simple random sampling sebanyak 100 pelanggan dari pengemudi/pelanggan pada berbagai perusahaan taksi di Jakarta yang hendak menera/menera ulangkan argometernya. Variabel penelitian diambil dari lima dimensi kepuasan pelanggan yang diajukan oleh Zeithaml et.al. (1990), yang meliputi dimensi bukti fisik, dimensi keandalan, dimensi daya tanggap, dimensi keyakinan, dan dimensi kepedulian. Indikator dari kelima dimensi tersebut diuraikan dalam 29 atribut pernyataan. Selanjutnya data yang diperoleh, dianalisis dengan menggunakan analisis kesenjangan (gap analysis) untuk melihat kesenjangan yang terjadi akibat perbedaan nilai persepsi dan harapan pelanggan. Metode servqual digunakan untuk melihat tingkat kepuasan pelanggan atas pelayanan yang dirasakan. Untuk melihat tingkat kepentingan dan kinerja pelayanan yang dirasakan pelanggan, dilakukan analisis IPA (Importance – Performance Analysis) dengan memetakan atribut-atribut dari dimensi kepuasan pelanggan ke dalam diagram kartesian. Selanjutnya atribut tersebut dianalisis berdasarkan karakteristik keempat kuadran kartesian untuk mengetahui atribut-atribut yang menjadi prioritas utama perbaikan pelayanan, atribut yang perlu dipertahankan kinerjanya karena dinilai telah memenuhi kepuasan pelanggan, atribut dengan prioritas perbaikan rendah, dan atribut yang dinilai berlebihan dalam pelayanan tersebut (over service). dari atribut-atribut pernyataan. Untuk melihat kinerja pelayanan instalasi meter taksi berdasarkan efisiensi pelayanan, digunakan analisis diagonal suharjo yang membagi atribut-atribut tersebut ke dalam tiga daerah penilaian, yaitu daerah dengan penilaian pelayanan yang berlebihan, daerah dengan penilaian pelayanan yang efisien (pada garis diagonal), dan daerah dengan penilaian pelayanan yang kurang memadai (under service). Walaupun tingkat kepuasan pelanggan secara menyeluruh terhadap pelayanan pengujian meter taksi di Balai Metrologi DKI Jakarta cukup baik dengan tingkat kepuasan pelanggan mencapai 84,07 persen, beberapa atribut menunjukkan bahwa pelayanan masih dirasakan kurang memadai. Analisis kesenjangan yang dilakukan dengan melihat selisih antara nilai pelaksanaan (persepsi) dengan nilai harapan pelanggan pada kelima dimensi kualitas pelayanan; didapatkan bahwa pada dimensi bukti fisik memiliki kesenjangan rata-rata sebesar -1,37 dan merupakan nilai kesenjangan terbesar dibandingkan dengan kesenjangan pada dimensi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada dimensi tersebut, tingkat kepuasan pelanggan belumlah memadai. Atribut-atribut pada dimensi bukti fisik yang memiliki kesenjangan cukup besar adalah atribut tentang lokasi pengujian, ketersediaan sarana perbaikan argometer, identitas petugas yang mudah dikenali saat sedang bertugas, serta ketersediaan sarana kebersihan, ibadah dan kafetaria. Responden menilai, dibukanya kembali lokasi pengujian meter taksi di lima DKI Jakarta serta ketersediaan sarana perbaikan argometer di lokasi pengujian akan meningkatkan efisiensi waktu dan penghematan bahan bakar minyak. Selainitu, ketersediaan sarana kebersihan (WC), sarana ibadah dan kafetaria, juga menjadi penilaian yang penting bagi responden. Demikian pula halnya dengan identitas petugas yang mudah dikenali perlu mendapat perhatian, agar responden tidak salah berhubungan dengan orang lain. Selain pada dimensi fisik, analisis kesenjangan pada tiap dimensi ternyata ditemukan satu atribut pada dimensi keandalan memiliki gap yang cukup besar, yakni -1,85. Atribut tersebut adalah tentang biaya retribusi/pengujian yang dinilai terlalu mahal dan tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Dari hasil wawancara mendalam, ditemukan bahwa biaya pengujian meter taksi bisa mencapai tiga kali lipat dari peraturan yang ada. Hal ini tentu saja sangat memberatkan bagi responden. Namun demikian, berdasarkan perhitungan dengan metode servqual untuk menentukan tingkat kepuasan pelanggan, secara umum pelayanan pengujian meter taksi yang dilakukan oleh Balai Metrologi DKI Jakarta cukup baik. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah rata-rata dari tingkat kepuasan rata-rata kelima dimensi pelayanan, bernilai lebih besar dari – 1. Itu berarti bahwa gap yang terjadi antara persepsi yang dirasakan oleh pelanggan tidaklah terlalu besar dengan harapan pelanggan akan pelayanan tersebut. Analisis kepentingan dan pelaksanaan (Importance Performance Analysis) yang memetakan masing-masing atribut dalam koordinat kartesian dan membaginya ke dalam empat kuadran, ditemukan bahwa atribut-atribut yang memiliki gap cukup besar seperti yang ditemukan pada analisis kesenjangan, ternyata merupakan atribut-atribut penting yang menjadi prioritas utama perbaikan pelayanan. Atribut-atribut tersebut berada pada kuadran pertama yang berarti memiliki kepentingan yang tinggi bagi responden, namun dalam pelaksanaannya dinilai masih rendah. Atribut tersebut adalah tentang lokasi pengujian meter taksi, ketersediaan sarana perbaikan meter taksi, identitas petugas yang mudah dikenali, ketersediaan sarana kebersihan, ibadah dan kafetaria, serta besarnya retribusi pengujian yang harus dibayar oleh pelanggan. Pada kuadran kedua dengan kriteria nilai kepentingan yang cukup tinggi dan dalam pelaksanaannya pun cukup baik. Dengan demikian, atribut-atribut yang tergolong pada kuadran kedua ini patut untuk dipertahankan kinerjanya. Atribut pada kuadran ini ada pada atribut dimensi keyakinan, dimensi kepedulian, serta dimensi keandalan, kecuali pada atribut tentang biaya retribusi/pengujian. Atribut yang menyatakan tentang besarnya retribusi pengujian berada pada kuadran pertama. Ini berarti, pelanggan merasa biaya pengujian dianggap tidak wajar dan mereka merasa biaya tersebut tidak sesuai dengan ketentuan. Analisis diagonal Suharjo yang dapat menentukan kondisi pelayanan saat ini berdasarkan kenyataan yang dirasakan pelanggan dengan kepentingan pelanggan akan pelayanan tersebut, menemukan bahwa hampir semua atribut dari kelima dimensi berada di bawah diagonal Suharjo, kecuali atribut tentang ketersediaan sarana perbankan. Namun demikian, atribut ketersediaan sarana perbankan bukanlah atribut yang penting bagi pelanggan. Atribut ini tergolong atribut dengan prioritas rendah, yakni atribut dengan tingkat kepentingan yang rendah dan kenyataannya pun kurang memadai. Atribut yang berada di bawah garis diagonal Suharjo menunjukkan atribut dengan pelayanan yang kurang memadai. Makin jauh hasil pemetaan atribut dari garis diagonal, maka makin buruk pelayanan yang dirasakan pelanggan pada atribut tersebut. Atribut yang dirasakan kurang memadai adalah tentang sarana perbaikan argometer yang tidak ada,identitas petugas yang kurang jelas, dan lingkungan pengujian yang kurang bersih. Di samping itu atribut tentang lokasi pengujian dan besarnya retribusi pengujian juga dinilai kurang memuaskan. Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan ketiga alat analisis tersebut, dapat disimpulkan adanya atribut-atribut yang perlu mendapat perhatian manajemen Balai Metrologi DKI Jakarta karena atribut tersebut dinilai penting bagi pelanggan namun dirasakan belum optimal. Hal itu menunjukkan pada atribut tersebut pelayanan belumlah efisien. Perbaikan kualitas dari atribut yang dinilai penting tersebut dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang pada akhirnya meningkatkan tingkat kepuasan pelanggan. Atribut tersebut adalah lokasi pengujian yang cukup jauh, sarana perbaikan argometer di lokasi pengujian yang belum ada, petugas yang tidak menggunakan identitas, sarana kebersihan dan ibadah di lokasi pengujian, kebersihan lingkungan sekitar pengujian, dan retribusi yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan peraturan.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Pemasaranid
dc.titleKajian Pelayanan Kemetrologian dan Tingkat Kepuasan Pelanggan Pada Unit Pelaksana Teknis (Upt) Balai Metrologi Dki Jakartaid
dc.subject.keywordKepuasan Pelanggan Pengujian Meter Taksiid
dc.subject.keywordPelayanan Pengujian Meter Taksi Balai Metrologi Dki Jakartaid
dc.subject.keywordAnalisis Kesenjanganid
dc.subject.keywordMetode Servqualid
dc.subject.keywordAnalisis Kepentinganid
dc.subject.keywordDiagonal Suharjoid
dc.subject.keywordKepuasan Pelanggan Pengujian Meter Taksi, Pelayanan Pengujian Meter Taksi Balai Metrologi DKI Jakarta, Analisis Kesenjangan, Metode Servqual, Analisis Kepentingan, Diagonal Suharjoid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record