| dc.description.abstract | Ketergantungan masyarakat di kelurahan Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terhadap sumberdaya pesisir dan lautan sangat tinggi. Hal ini terlihat dari kondisi demografinya, dimana profesi nelayan mendominasi dibanding dengan lainnya. Eksploitasi pemanfaatan potensi sumber daya pesisir dan lautan berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan permintaan beberapa komoditas perikanan pada pasar domestik dan mancanegara, potensi sumber daya alam pertama yang dimanfaatkan adalah potensi sumber daya perikanan tangkap, terutama ikan karang/ikan hias. Potensi lain yang telah dimanfaatkan adalah terumbu karang yang terdapat di sekitar pulau-pulau di kelurahan Pulau Panggang. Potensi terumbu karang ini dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan bahan bangunan di pulau-pulau berpenghuni yaitu Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya, serta pulau-pulau lain yang dimanfaatkan untuk tujuan wisata/resort.
Eksploitasi ekosistem terumbu karang ini diperkirakan telah mengabrasi bagian selatan Pulau Panggang, dan diperkirakan akan dihadapi oleh pulau-pulau lainnya jika kegiatan eksploitasi terumbu karang dan kegiatan lain yang merusak tidak dihentikan, atau dilakukan upaya-upaya lain yang bersifat pencegahan. Sebagai tindak lanjut dalam menanggulangi penurunan produksi perikanan berbagai upaya telah dilakukan antara lain dengan mengembangkan terumbu buatan, masalah lain timbul dengan kurang maksimalnya pemanfaatan terumbu buatan, dimana masih rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan terumbu buatan tersebut.
Adapun tujuan dilakukannya penelitian tentang partisipasi masyarakat dalam pengelolaan terumbu buatan di Kelurahan Pulau Panggang adalah untuk :
1) Mengetahui kondisi eksisting terumbu karang maupun terumbu buatan di kelurahan Pulau Panggang – Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu;
2) Mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan terumbu buatan;
3) Mengetahui peran serta pemerintah di dalam pengelolaan terumbu buatan, mengkaji kekuatan dan kelemahan pola pengembangan yang ada saat ini dan merumuskan suatu strategi pengelolaan terumbu buatan yang tepat.
Pemilihan responden sebagai unit penelitian dilakukan dengan metode Simple Random Sampling. Responden yang diamati adalah masyarakat yang mempunyai mata pencaharian yang kegiatannya terkait langsung dengan pemanfaatan sumberdaya laut. Untuk melihat tingkat kerusakan terumbu karang dilakukan sesuai dengan prosedur yang terdapat dalam buku Survey Manual For tropical Marine Resources (English, 1997 dalam Simatupang, 1999), Sedangkan untuk memperkirakan kondisi terumbu karang di lokasi penelitian dapat dibandingkan dengan kriteria tingkat kerusakan terumbu karang yang dipakai oleh Gomez dan Alcala (1978). Untuk menganalisis kondisi terumbu buatan adalah dengan melihat banyaknya bentik menempel di terumbu dan banyaknya ikan karang disekitar daerah terumbu buatan. Alat yang digunakan untuk mengukurnya adalah dengan melihat indeks keanekaragaman (H’), Indeks Keseragaman (E) dan Dominansi (C).
Untuk melihat pengaruh dari faktor-faktor keadaan sosial masyarakat dan persepsi masyarakat digunakan analisis statistik multivariabel yang didasarkan pada Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis, PCA). Analisis Komponen Utama memungkinkan suatu representasi yang lebih mudah dibaca atau direpresentasikan pada struktur matriks data yang terdiri dari jumlah kolom dan baris yang cukup besar (Bengen, 2000).
Untuk dapat menentukan strategi pengelolaan terumbu buatan melalui partisipasi masyarakat agar pemanfaatannya dapat berkelanjutan dilakukan dengan analisis matriks SWOT. Analisis ini didasarkan pada hasil analisis faktor internal (IFE) dan juga faktor eksternal (EFE). Data dan informasi hasil identifikasi potensi dan situasi dalam pengelolaan terumbu buatan di kelurahan Pulau Panggang dipergunakan sebagai bahan mengevaluasi faktor – faktor eksternal (peluang dan ancaman) dan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan terumbu buatan. Setelah EFE (External Factor Evaluation) dan EFI (Internal Factor Evaluation) dilakukan tahap selanjutnya adalah menyusun dan mengembangkan alternatif-alternatif strategi. Formulasi alternatif strategi yang di susun didasarkan pada pemikiran yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Dalam penyusunan alternatif strategi yang akan dikembangkan dan diformulasikan dilakukan melalui matrik SWOT. Alternatif strategi dan matrik SWOT meliputi strategi SO, strategi WO, strategi ST dan strategi WT. Alternatif strategi tersebut dilakukan untuk mendayagunakan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk meraih peluang dan menghadapi ancaman yang datang dari luar serta berasal dari kelemahan yang dimiliki.
Hasil data terhadap kondisi terumbu karang menunjukkan bahwa pemanfaatan ekosistem terumbu karang sedang dan telah berlangsung secara berlebihan, sehingga cenderung mengalami kerusakan yang parah. Kondisi tutupan karang di delapan lokasi dikawasan ini memperlihatkan satu lokasi baik (54.72%); empat lokasi pada kondisi cukup (26.79%,39.95%,29.94% dan 27.68%) dan tiga lokasi pada kondisi buruk (16.79%,23.64% dan 2%), sedangkan pengamatan terhadap terumbu buatan pada modul Fish Shelter sudah mulai memperlihatkan adanya bentik yang menempel pada media terumbu dan sudah mulai adanya ikan karang namun hanya baru beberapa jenis saja.
Hasil pengamatan terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan terumbu buatan bervariasi pada setiap kegiatan antara rendah sampai sedang. Hasil pengamatan mengidentifikasikan, salah satu yang mendorong masyarakat untuk berpartisipasi adalah harapan akan manfaat atau kompensasi yang diperoleh dari kegiatan yang dilakukan. Hasil analisis komponen utama (Principle Component Analysis = PCA) faktor-faktor / variabel yang berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat meliputi variabel-variabel yang berkorelasi tinggi dengan sumbu utama pertama yaitu variabel umur, pendidikan dan jumlah anggota keluarga sedangkan faktor kedua yang berpengaruh meliputi variabel pendapatan dan lamanya tinggal
Analisis SWOT terhadap faktor-faktor internal dan eksternal, menghasilkan beberapa strategi yang perlu ditempuh dalam pengelolaan terumbu buatan yaitu :
a. Strategi SO (Strengths – Opportunities)
Meningkatkan pengembangan potensi pariwisata dengan melibatkan anggota masyarakat.
b. Strategi ST (Strengths - Threats)
Mengoptimalkan peran serta masyarakat untuk mengatasi kegiatan yang desktruktif.
c. Strategi WO (Weaknesses – Opportunities)
Meningkatkan pembinaan dan keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap pengelolaan terumbu buatan.
d. Strategi WT (Weaknesses – Threats)
Meningkatkan koordinasi dan pengawasan untuk mengatasi kegiatan yang destruktif. | |
| dc.subject.keyword | Partisipasi Masyarakat, Ekosistem Terumbu Karang, Pengelolaan Terumbu Buatan, Kelurahan Pulau Panggang, Analisis Komponen Utama, Analisis SWOT, Tingkat Partisipasi, Strategi Pengelolaan | id |