Show simple item record

dc.contributor.advisorFahmi, Idqan
dc.contributor.advisorSuharjo, Budi
dc.contributor.authorOcvilia, Isra
dc.date.accessioned2024-12-05T07:11:14Z
dc.date.available2024-12-05T07:11:14Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159935
dc.description.abstractMadu merupakan produk perlebahan bergizi tinggi memiliki banyak manfaat yang tidak hanya sebagai obat tetapi juga dapat digunakan sebagai food supplement. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, seharusnya membutuhkan madu yang cukup banyak. Namun demikian menurut Pusat Perlebahan Nasional, konsumsi madu perkapita di Indonesia masih sangat rendah yaitu sebesar 0,3 kg pertahun, sedangkan negara Jerman dan Jepang sudah mencapai 1,3 kg pertahun. Menurut Departemen Kehutanan Republik Indonesia, saat ini telah berkembang ratusan peternak lebah lokal, baik yang dikelola dalam skala besar maupun yang berskala kecil sebagai usaha sampingan. Banyaknya pesaing dalam memproduksi madu menyebabkan pengembangan madu serta pemasaran madu harus mampu menciptakan nilai tambah dari produknya sehingga mampu bersaing dengan produsen lain. Untuk itu diperlukan analisis perilaku konsumen madu sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan oleh pelaku bisnis dalam pengembangan produk madu. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini difokuskan pada perumusan masalah sebagai berikut : a. Bagaimana karakteristik konsumen madu dilihat dari sisi psikografis dan demografi, b. Bagaimana perilaku konsumen dalam mengkonsumsi madu, c. faktor-faktor apa yang mempengaruhi preferensi konsumen dalam mengkonsumsi madu, d. Strategi apa yang harus diterapkan dalam rangka pengembangan produk madu. Berdasarkan perumusan masalah tersebut secara khusus penelitian ini bertujuan : a. Menganalisa karakteristik konsumen madu dilihat dari sisi psikografis dan demografi, b. Menganalisa perilaku konsumen dalam mengkonsumsi madu, c. Menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen dalam mengkonsumsi madu berdasarkan atribut yang dikehendaki, d. Merumuskan strategi pengembangan produk madu. Penelitian ini dibatasi oleh ruang lingkup bahasan preferensi konsumen madu rumah tangga . Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan melibatkan 90 responden yang terdiri dari 30 responden yang mengkonsumsi madu bermerek, 30 responden yang mengkonsumsi madu curah dan 30 responden yang tidak pernah mengkonsumsi madu selama tiga bulan terakhir. Teknik pengambil sampel yang digunakan yaitu teknik non propability sampling dengan cara convenience sampling. Wawancara dilakukan dengan panduan kuesioner terstruktur guna mendapatkan data primer. Untuk melengkapi informasi tersebut juga dikumpulkan data sekunder dari Pusbahnas dan literatur yang relevan. Untuk menggali informasi dari data, metode yang digunakan meliputi tabulasi data, analisis gerombol, analisis thurstone, analisis tabulasi silang (crosstab) dan analisis korespondensi. Tabulasi data digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang karakteristik dan profil konsumen, analisis gerombol digunakan untuk mengklasifikasikan responden berdasarkan ukuran kemiripan sehingga diperoleh segmentasi responden, analisis biplot berguna untuk menterjemahkan segmen yang telah terbentuk atau mengenali ciri-ciri psikografis yang dominan pada setiap segmen, analisis thurstone untuk mengetahui urutan peringkat kepentingan atribut, analisis tabulasi silang digunakan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara baris dengan kolom dari sebuah tabulasi silang dan analisis korespondensi digunakan untuk membantu melihat kedekatan suatu profil dari satu kategori terhadap profil dari kategori lainnya. Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang perilaku konsumen madu yang dilakukan di Bogor maka dapat disimpulkan bahwa segmentasi konsumen madu diperoleh tiga segmen yaitu segmen 1 sebanyak 45.6%, segmen 2 sebanyak 37.8% dan segmen 3 sebanyak 16.7%. Apabila dilihat dari sisi demografi, variabel yang mempunyai keterkaitan dengan segmentasi konsumen hanya status pernikahan. Namun demikian variabel tersebut tetap sulit digunakan untuk membedakan ketiga segmen. Perilaku konsumen sangat berkaitan dengan penilaian konsumen akan keyakinan dan persepsi terhadap madu. Persepsi responden terhadap harga madu sama saja dengan harga madu curah. Perilaku konsumen madu baik konsumen madu bermerek maupun madu curah adalah relatif sama. Akan tetapi konsumen madu bermerek lebih sering membeli madu di supermarket sedangkan konsumen madu curah membeli madu langsung ke peternak lebah. Selain itu, konsumen madu bermerek biasa mengkonsumsi madu yang mengandung royal jelly+pollen dengan ukuran kurang dari 500 ml, sedangkan konsumen madu curah biasa mengkonsumsi madu randu dengan ukuran kurang dari 1000 ml. Pada dasarnya konsumen mengetahui bahwa madu tidak hanya bermanfaat sebagai obat tetapi juga dapat digunakan sebagai food supplement. Atribut madu yang paling diprioritaskan dan dianggap sangat penting oleh responden secara keseluruhan yaitu keaslian, kandungan gizi, dan manfaat, sementara tiga prioritas terakhir yaitu merek, ukuran kemasan dan bentuk kemasan. Atribut madu yang paling diprioritaskan oleh segmen 1 yaitu keaslian, kandungan gizi dan khasiat. Tiga prioritas utama bagi segmen 2 yaitu keaslian, kandungan gizi dan kebersihan. Tiga prioritas utama bagi segmen 3 yaitu keaslian, khasiat dan kandungan gizi. Berdasarkan tiga kelompok responden yaitu responden yang mengkonsumsi madu bermerek, curah dan tidak mengkonsumsi madu selama tiga bulan terakhir maka ketiga kelompok responden tersebut memiliki urutan prioritas atribut yang hampir sama. Untuk responden yang mengkonsumsi madu bermerek, tiga prioritas atribut madu yang dianggap penting yaitu keaslian, kebersihan dan khasiat. Sedangkan responden yang mengkonsumsi madu curah dan yang tidak mengkonsumsi selama tiga bulan terakhir, tiga prioritas atribut madu yang dianggap penting yaitu keaslian, kandungan gizi dan khasiat. Atribut madu yang paling disukai konsumen yaitu kemasan dalam bentuk botol yang berukuran 250 ml - 500 ml dari merek yang sudah dikenal, jenis madu yang disenangi konsumen yaitu madu royal jelly dan pollen, sebagian lagi adalah madu randu. Adapun Warna madu yang paling disukai responden yaitu berwarna coklat muda dengan rasa manis dan kental. Konsumen lebih menyukai membeli madu di supermarket dan langsung ke peternak lebah. Informasi yang diinginkan responden terdapat pada label yaitu waktu diproduksi, waktu kadaluarsa, manfaat madu, kandungan gizi dan jenis madu. Implikasi strategi yang harus dilakukan produsen yaitu melakukan pengembangan produk madu dengan cara membuat produk yang lebih spesifik berdasarkan masing-masing segmen. Untuk meningkatkan keyakinan responden terhadap madu yang diproduksi, maka produsen perlu mempertahankan dan meningkatkan mutu produk madu, serta lebih menonjolkan keaslian madu yang dihasilkan, menjaga kebersihan tempat produksi. Selalu membuat produk sesuai dengan keinginan konsumen dan membuat madu dengan berbagai rasa.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Pemasaranid
dc.titleAnalisis Perilaku Konsumen Madu dan Implikasinya Terhadap Pengembangan Produk Madu Di Bogorid
dc.subject.keywordPerilaku Konsumenid
dc.subject.keywordPreferensi Konsumenid
dc.subject.keywordMaduid
dc.subject.keywordPengembangan Produkid
dc.subject.keywordAtribut Produkid
dc.subject.keywordClusterid
dc.subject.keywordBiplotid
dc.subject.keywordThurstoneid
dc.subject.keywordCrosstabid
dc.subject.keywordKorespondensiid
dc.subject.keywordPerilaku Konsumen, Preferensi Konsumen, Madu, Pengembangan Produk, Atribut Produk, Cluster, Biplot, Thurstone, crosstab, Korespondensi.id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record