| dc.description.abstract | Hasil perhitungan Human Development Index (HDI) tahun 2001 menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia berada di posisi 112 dari 175 negara di dunia. Posisi ini menunjukkan rendahnya kualitas manusia Indonesia di antara negara-negara dunia, bahkan berada jauh di bawah negara Asean lainnya seperti Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia. Rendahnya kualitas manusia Indonesia juga terlihat dari lemahnya interpersonal skills seperti rendahnya daya saing untuk berkompetisi secara positif, tumpulnya kreatifitas dan rendahnya produktivitas. Kondisi ini menunjukkan adanya sesuatu yang tidak berkembang dengan baik dalam sistem pendidikan di Indonesia. Hal ini dikarenakan fungsi dari pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagai salah satu indikator pengembangan kualitas manusia.
Menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia, yang berakibat pada menurunnya kualitas sumber daya manusia, melahirkan alternatif-alternatif baru di dalam dunia pendidikan. Model pendidikan tersebut umumnya menggabungkan dan mengembangkan aspek intelektual, emosional, spiritual serta berbagai ketrampilan hidup siswa. Salah satu lembaga pendidikan yang menggabungkan ketiga aspek tersebut dalam kegiatan belajar-mengajarnya adalah Sekolah Alam Ciganjur. Lembaga ini menerapkan pola pembelajaran di alam terbuka untuk melatih aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa dengan tiga materi utama yaitu ketakwaan, keilmuan dan kepemimpinan, yang diterapkan dengan metode keteladanan, pengembangan logika yang dilakukan dengan mengaplikasikan teori dalam bentuk praktek, serta outbound training. Namun demikian, hingga saat ini Sekolah Alam Ciganjur belum mendapatkan ijin untuk menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar dari pemerintah. Salah satu penyebab tertundanya perijinan tersebut adalah penggunaan saung yang menggantikan fungsi gedung sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran. Kondisi ini tidak menyurutkan minat orang tua murid untuk tetap menjadi konsumen Sekolah Alam Ciganjur. Bahkan sebagian besar orang tua murid aktif mensosialisasikan keberadaan sekolah kepada publik dengan mengikutsertakan sekolah di dalam event-event pendidikan. Namun demikian, sejauhmana sebenarnya kepuasan orang tua murid selaku konsumen Sekolah Alam Ciganjur, mengingat metode pembelajaran yang digunakan merupakan metode pendidikan formal alternatif eksperimental, yang menjadikan putra/putri mereka sebagai ‘kelinci percobaan’ dari sebuah metode belajar yang digunakan.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi karakteristik demografi konsumen lembaga pendidikan Sekolah Alam Ciganjur, (2) menganalisa kepuasan konsumen terhadap layanan jasa lembaga pendidikan Sekolah Alam Ciganjur serta (3) merumuskan implikasi manajerial bagi pengembangan Sekolah Alam Ciganjur berdasarkan analisis kepuasan konsumen.
Penelitian dilakukan di lembaga pendidikan Sekolah Alam Ciganjur pada bulan Juli sampai dengan Nopember 2004. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada lembaga pendidikan Sekolah Alam. Sedangkan pengambilan data dilakukan dengan pendekatan survei, yang diperoleh melalui hasil wawancara, penyebaran kuesioner serta pengamatan. Adapun data yang dimaksud adalah data mengenai kepuasan konsumen berdasarkan komponen pengukuran kualitas jasa. Data dianalisa dengan menggunakan importance performance analysis, penalty-reward analysis, analisis diagonal serta uji Chi-Square. Sedangkan jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 54 orang untuk kelompok responden orang tua murid dan enam orang responden untuk kelompok eks orang tua murid. Pengambilan sampel kedua kelompok responden dilakukan dengan menggunakan metode non probability sampling melalui teknik convenience sampling.
Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik demografi sebagian besar konsumen Sekolah Alam Ciganjur dilihat dari tingkat pendapatannya tergolong masyarakat menengah ke atas dengan latar belakang pendidikan terbanyak adalah sarjana strata satu. Namun dari hasil uji chi-square, tidak terdapat korelasi antara karakteristik demografi dengan kepuasan responden secara keseluruhan. Keterkaitan hanya terjadi antara karakteristik demografi (usia, pendidikan akhir dan jenis pekerjaan) dengan kepuasan responden terhadap masing-masing atribut.
Hasil penelitian dengan menggunakan importance and performance analysis pada kelompok responden orang tua murid menunjukkan bahwa atribut kebersihan, kerapihan dan kenyamana suasana/lingkungan sekolah serta atribut kemampuan yayasan dalam menanggapi dan menangani keluhan orang tua merupakan atribut yang berada di kuadran I. Hal ini menunjukkan bahwa pihak sekolah perlu berupaya meningkatkan kepuasan konsumen dengan melakukan perbaikan secara terus-menerus agar performance kedua atribut ini meningkat. Sedangkan pada kelompok responden eks orang tua murid, terdapat sembilan atribut yang masuk ke dalam kuadran I. Atribut-atribut tersebut adalah kelengkapan sarana, media belajar dan fasilitas penunjang; program dan kurikulum sekolah; kesesuaian program dan kurikulum dengan perkembangan yang dicapai anak; kemampuan yayasan dalam menanggapi dan menangani keluhan orang tua; kemudahan orang tua berkomunikasi dengan yayasan; kemampuan yayasan dalam mengelola sekolah; kemampuan yayasan dalam memberikan pelayanan secara ramah, sopan dan rasa aman; serta kemampuan guru dalam memahami dan menangani kondisi anak. Sedangkan atribut yang berhubungan dengan kinerja guru, sebagian besar berada di kuadran II, yang berarti bahwa kinerja atribut-atribut tersebut perlu dipertahankan.
Analisis selanjutnya dilakukan dengan menggunakan penalty-reward analysis. Alat analisis ini hanya digunakan pada kelompok responden orang tua murid. Hal ini dikarenakan pada kelompok responden eks orang tua murid tidak terdapat satu responden pun yang menjawab pada skala 5 untuk kepuasan secara keseluruhan. Hasil analisis menujukkan bahwa atribut kemampuan yayasan dalam mengelola sekolah tidak dapat ditentukan kategorinya karena pola jawaban yang tidak terdapat dalam ketentuan pengkategorian atribut. Tiga belas atribut lainnya merupakan atribut basic, sedangkan 14 atribut lainnya merupakan atribut performance. Dari 13 atribut yang tergolong ke dalam atribut basic, delapan di antaranya merupakan atribut yang berhubungan dengan kinerja yayasan. Atribut basic merupakan atribut yang apabila tidak terpenuhi dapat mengurangi kepuasan, termasuk kategori performance, adalah atribut yang apabila tidak ada dapat mengurangi kepuasan, dan bila terpenuhi dapat meningkatkan kepuasan. Oleh karenanya, peningkatan kinerja atribut-atribut ini dapat meningkatkan kepuasan bagi konsumen.
Berdasarkan analisis diagonal pada kelompok responden orang tua murid, seluruh atribut berada di bawah garis efficient service. Begitu pula pada kelompok eks orang tua murid, seluruh atribut berada di bawah garis efisiensi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa layanan yang diberikan pihak sekolah masih belum efisien, sehingga pihak yayasan dan guru harus meningkatkan kinerja atribut-atribut tersebut untuk meningkatkan kepuasan konsumen.
Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas, maka pihak sekolah perlu meningkatkan kinerja yayasan dalam operasionalisasi sekolah. Hal ini dikarenakan dari hasil analisis atribut yang berhubungan dengan kinerja yayasan merupakan atribut dengan kinerja rendah, sehingga performance atribut-atribut tersebut harus ditingkatkan agar kepuasan konsumen meningkat. Pihak sekolah juga perlu mempertahankan kualitas kinerja guru. Hal ini dikarenakan dari hasil analisis, atribut-atribut yang terkait dengan kinerja guru merupakan atribut yang berada di atas rata-rata tingkat kepuasan seluruh atribut dan memiliki jarak yang relatif dekat dengan garis efisiensi. Implikasi berikutnya dari hasil penelitian ini adalah mempertahankan loyalitas konsumen dan melakukan promosi secara berkala, serta melakukan penelitian secara mendalam guna mengkaji konsep pendidikan (blue print) yang digunakan, dengan membuat strategy map. Namun untuk dapat melakukan hal tersebut perlu dilakukan penelitian lanjutan yang menganalisa kondisi internal dan eksternal Sekolah Alam Ciganjur, sehingga dapat diidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi.
namun bila terpenuhi tidak akan meningkatkan kepuasan. Sedangkan atribut yang ....dst, | |