| dc.description.abstract | Struktur perekonomian Indonesia pada dasarnya didominasi oleh sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Peran strategis UMKM dalam perekonomian nasional dapat dilihat dari kontribusinya dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dan penciptaan lapangan kerja serta pengentasan masalah kemiskinan di Indonesia. Selain itu, pada masa krisis, UMKM telah terbukti tangguh sebagai jaring pengaman perekonomian nasional. Ketika usaha besar tidak sanggup bangkit dari keterpurukan akibat ketergantungannya kepada pinjaman luar negeri, UMKM justru mampu mengangkat perekonomian nasional dari keterpurukan yang semakin dalam.
PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PT. PNM adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengemban amanat untuk mengembangkan Usaha Kecil Menengah Dan Koperasi (UMKM). Oleh karena itu PT. PNM memiliki visi menjadi lembaga keuangan terkemuka yang secara berkesinambungan meningkatkan nilai tambah (value added) bagi UMKM dan mampu menciptakan permodalan dari pertumbuhan maupun laba usahanya.
Dalam rangka mewujudkan misi dan visi yang telah ditetapkan khususnya di dalam upaya pemberdayaan UMKM, maka PT. PNM melakukan strategi jejarin (networking) melalui Lembaga Keuangan Mikro/Syariah (LKMS). Lembaga keuangan syariah sebagai jaringan kerja PT. PNM tersebut antara lain adalah: Bank Prekreditan Rakyat/Syariah (BPRS), Koperasi Simpan Pinjam (KSP), Usaha Simpan Pinjam (USP), Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Baitulmaal wat Tamwil (BMT) dan bentuk LKMS lainnya. Strategi jejaring tersebut dilakukan karena LKMS memiliki akses langsung kepada para pelaku UMKM di seluruh pelosok nusantara.
Salah satu solusi yang mungkin dapat mengatasi kendala rendahnya akselerasi pemberdayaan UMKM oleh dukungan lembaga selain bank nasional yakni LKMS adalah melalui Teknologi Informasi (TI). Sejalan dengan hal itu Ibrahim (2004) menyatakan bahwa untuk memperkuat lembaga BPR salah satunya adalah membangun suatu sistem TI yang memenuhi kebutuhan operasional BPR sesuai karakteristiknya.
Perjalanan layanan yang sudah berlangsung selama lebih kurang 2 tahun (mulai 2003), jumlah LKMS yang telah mendapatkan layanan adalah lebih kurang 83 LKMS di seluruh Indonesia. Jumlah ini terlihat jauh dari potensi yang sebenarnya dapat diperoleh yaitu lebih dari 54.000 LKMS di seluruh Indonesia. Berdasarkan hal itulah, maka akan lebih baik bagi PNM jika diperoleh penyempurnaan model bisnis layanan TI bagi LKMS. Dengan adanya penyempurnaan model bisnis, maka diharapkan akan memberikan manfaat positif baik bagi PNM maupun bagi LKMS. Bagi PNM semakin banyak LKMS yang telah mendapatkan layanan TI, maka akan secara langsung memberikan manfaat berupa pendapatan perusahaan sekaligus memenuhi visi dan misinya. Bagi LKMS sendiri adanya layanan TI ini, maka akan menciptakan adanya peluang baru untuk memberikan layanan lebih optimal sehingga dapat dicapai kinerja lebih baik.
Sebagaimana layaknya suatu bisnis, maka bisnis layanan TI kepada LKMS perlu dilakukan dengan baik atau layak (proper) dan fokus. Dalam kaitan itulah, maka adanya model bisnis yang unggul dalam bisnis layanan TI merupakan faktor kunci. Secara lebih khusus, strategi yang diperlukan salah satunya adalah membuat suatu ‘model bisnis layanan bisnis TI kepada LKMS’.
Dalam rangka mengembangkan usaha menengah, kecil dan koperasi (UMKM) di Indonesia diperlukan sebuah model bisnis layanan TI yang tepat untuk mendukung aktivitas usaha yang semakin dinamis di masa yang akan datang. Model bisnis sebagai layanan TI kepada LKMS sebagai jejaring aktivitas pemberdayaan UMKM oleh PT. PNM sebagaimana diuraikan tersebut di atas, maka beberapa masalah yang dapat diidentifikasikan adalah sebagai berikut : Pertama, dengan banyaknya jenis dan jumlah LKMS, menimbulkan peluang sekaligus tantangan. Dalam kerangka Sistem Informasi, maka keragaman organisasi menimbulkan koskuensi adanya keragaman proses bisnis dan sistem informasi yang diperlukan. Dalam kaitan ini, maka adanya layanan TI yang sesuai kebutuhan merupakan faktor kunci (key succes factor). Kedua, sebaran LKMS yang luas dan yang terdiri lembaga-lembaga bisnis kecil yang berdiri sendiri memberikan peluang dan tantangan untuk adanya bisnis yang melayani LKMS dimaksud.
Berdasarkan fakta tersebut di atas maka dibutuhkan sebuah strategi yang diarahkan oleh PT. PNM untuk merancang sebuah model bisnis layanan TI kepada LKMS. Strategi pembentukan model bisnis tersebut diarahkan bagi penciptaan kemampuan bersaing bagi LKMS dalam rangka menumbuhkan sektor UMKM dengan daya dukung teknologi informasi dan sistem jejaring yang efektif dan efisien.
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Menganalisis bagaimana model bisnis layanan TI untuk LKMS yang dioperasionalisasikan oleh PT. PNM. (2) Memformulasikan strategi alternatif layanan TI bagi LKMS yang akan dioperasionalisasikan oleh PT. PNM sesuai model bisnis yang telah dirancang.
Lokasi penelitian adalah PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dan secara khusus dilaksanakan di beberapa Divisi yaitu Divisi Regional I, Divisi Pengembangan Usaha, dan Divisi Manajemen Teknologi Informasi. Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan 2 (dua) bulan, yakni sejak mulai pertengahan April sampai Mei 2005. Disain penelitian adalah melakukan formulasi strategi model bisnis sebagai layanan TI untuk LKMS yang akan dilaksanakan oleh PNM. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Deskriptif Eksplanatoris. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah : Analisis Rentang Kriteria, dan Proses Hirarki Analisis
Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling, atau pengambilan sample dengan cara disengaja kepada lima orang pakar yang berkompeten sesuai dengan focus penelitian. Para pakar yang dijadikan sample akan dimintai pendapat dalam mengisi pembobotan tingkat kepentingan faktor yang telah disusun dalam bentuk hirarki masalah (pohon hirarki) sesuai fokus penelitian dengan menggunakan instrumen kuesioner. Responden diambil dari pejabat yang berkompeten dan mempunyai pengaruh terhadap kebijakan pembinaan LKM/S di lingkungan PT. PNM (persero) dan juga seorang pakar TI dari lingkungan akademisi.
Model Bisnis yang sudah dilaksanakan : Pertama; Value Preposition adalah sebagai berikut : (a) Kinerja (performance) sistem yang bagus, (b) Memberikan keistimewaan tambahan (features), (c) Handal (realibility), (d) Sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan (conformance to specification), (e) Berdaya tahan dalam pemakaian (durability), (f) Mudah dan cepat dalam perbaikan (serviceability), (g) Memberikan persepsi berkualitas (perceived quality), (h) Mudah untuk diakses (accessability).
Kedua ; Produk/Layanan, terdiri 4 Produk sesuai jenis LKM/S : (a) MMS BPR Konvesional, (b) MMS BPR Syariah, (c) MMS KSP, (d)MMS BMT. Ketiga : Market Design, yang terdiri dari: (a) Target pasar (Produk 1,2,3) MMS BPR Konvensional dan Syariah serta KSP USP adalah seluruh BPR/S / KSP USP yang ada di Indonesia, (b)Target pasar (Produk 4) MMS BMT adalah seluruh BMT yang ada di Indonesia saat ini yang memenuhi. Keempat ; Value Architechture, yang terdiri dari (a) sistem yang terpusat kepada PNM Holding yang dilaksanakan IT External Service yang melayani beberapa LKMS dengan koordinasi dengan PNM Cabang – Mitra Lokal, (b) sistem yang terpusat kepada PNM Holding yang dilaksanakan IT External Service yang melayani beberapa LKMS serta langsung memiliki akses dengan Mitra Lokal. Kelima ; Revenue Model dengan beberapa alternatif : (a) Harga jual tunai murni, (b) Harga jual tunai bertahap, (c) Harga jual sewa hibah, (d) Harga sewa murni.
Berdasarkan hasil Teknik rentang Kriteria diperoleh :
1. Faktor adalah : (1) Nilai Preposisi, (2) Produk/Jasa, (3) Disain Pasar, (4) Arsitektur Internal, (5) Arsitektur Eksternal, (6) Model Pendapatan.
2. Aktor adalah : (1) Manajemen Pusat, (2) Manajemen Cabang, (3) Tenaga Penjualan, (4) Spesialis TI, (5) Spesialis Proses Bisnis, (6) Mitra Lokal
3. Tujuan adalah : (1) Harga Jual Kompetitif, (2) Rasio BOPO, (3) Layanan yang Suistainable, (4) Produk yang Handal, (5) Organisasi Layanan Solid, (6) Kepuasan Pelanggan.
4. Strategi Alternatif : (1) Support Terpusat, (2) Support Terdistribusi, (3) Inkubasi Mitra, (4) Aliansi dengan Pemain TI besar, (5) Subsidi Program, (6) Layanan terpaket dengan pembiayaan.
1. Pendapat para pakar yang dilakukan PHA menghasilkan formulasi strategi layanan TI untuk LKMS sebagai berikut (1) Fokus kepada komponen Model Bisnis Nilai Preposisi, (2) Meningkatkan Peran aktor Manajemen Cabang, (3) Mewujudkan tujuan adanya Produk yang Handal, (4) Memilih alternatif Strategi Support Terdistribusi.
Rekomendasi yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Perlu dikaji aspek strategis lainnya dari layanan TI untuk LKMS seperti misalnya kajian mengenai aspek pemasaran dari produk yang sudah dilakukan selama ini. Dalam kaitan ini perlu diperoleh informasi atas faktor-faktor apa saja yang diperlukan oleh pelanggan (Analisis Kebutuhan Pasar).
2. Kajian mengenai bagaimana manajemen teknologi informasi juga perlu dilakukan sebagai antisipasi meluasnya layanan yang diberikan. Beberapa kajian misalnya IT Governance, Manajemen Pengembangan Aplikasi yang terdisribusi.
3. Kiranya perlu dikembangkan pula kajian terkait knowledge based economy khususnya pada komunitas LKMS. | |