View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Business
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Business
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Analisis Kinerja Keuangan Ptpn V Sei Pagar, Kab Kampar Propinsi Riau

      Thumbnail
      View/Open
      full text (4.515Mb)
      Date
      2005
      Author
      Yusuf, Boy
      Syah, Hamdani M.
      Harianto
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Selama periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2003 luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya sebesar 12,2%, dengan rata-rata pertumbuhan produksi CPO 13,88% per tahun. Dilihat dari segi kepemilikan perkebunan kelapa sawit, maka areal perkebunan perkebunan terbesar dimiliki oleh perkebunan besar swasta (PBS), posisi kedua adalah perkebunan rakyat (PR), dan tempat ketiga adalah perkebunan besar negara (PBN). Salah satu perkebunan besar milik negara (PBN) yang berada di propinsi Riau adalah PTPN V yang dalam pengelolaannya memiliki 23 kebun sendiri/inti yang memiliki luas lahan perkebunan kelapa sawit sebesar 68.611 Ha. Disamping itu juga melakukan kemitraan dengan petani plasma yaitu melakukan pembelian hasil produksi kebun plasma berupa TBS (Tandan Buah Segar). Pada tahun 2003, PTPN V mengintensifkan pembelian TBS dari pihak III (petani non plasma) untuk memenuhi idle capacity dari sekitar PKS PTPN V. Untuk mengolah hasil kebun sendiri dan kebun plasma, PTPN V memiliki 12 unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan total kapasitas olah 550 ton TBS per jam dengan hasil olahan minyak sawit (CPO) dan inti sawit. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apakah investasi pada pabrik kelapa sawit (PKS) pada PTPN V Sei Pagar memberikan tingkat keuntungan ekonomi, (2) bagaimana tingkat perolehan keuntungan (kemampulabaan) yang dihasilkan, dan (3) berapa besar nilai tambah ekonomis PTPN V secara keseluruhan. Tujuan dari penulisan tesis ini adalah: menganalisa harga pokok (biaya rata-rata produksi), volume produksi, harga jual terhadap titik impas dan kemampuan memperoleh laba (pofitabilitas), sehingga produksi CPO dapat memberikan keuntungan pada PTPN V Sei Pagar. Untuk menganalisa nilai tambah ekonomis PTPN V diperoleh dengan menganalisa Net Operating Profit After Tax (NOPAT), Nilai Modal Perusahaan (Invested Capital), Weighted Average Cost of Capital (WACC), dan Economic Value Added (EVA). Penelitian ini dilakukan di PTPN V Sei Pagar , Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan negara yang bergerak di sektor kelapa sawit mulai dari penanaman sampai mengolah kelapa sawit menjadi CPO. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan (September – November 2004) dan pemilihan tempat dilakukan secara purposive. Metode yang digunakan adalah deskriptif dalam bentuk studi kasus. Data penelitian mencakup data kuantitatif dan data kualitatif. Untuk mengetahui keadaan umum perusahaan, data yang dikumpulkan meliputi sejarah dan perkembangan perusahaan/unit usaha, gambaran umum perkembangan dan luas areal perusahaan/unit usaha, maksud, tujuan dan sasaran perusahaan,struktur organisasi, lokasi perusahaan, jumlah tenaga kerja, pembagian jam kerja dan hari kerja dan produksi serta pengolahan kelapa sawit menjadi CPO. Untuk menganalisis titik impas dan kemapulabaan perusahaan dikumpulkan data mengenai jumlah penjualan produk yang dihasilkan, nilai penjualan produk yang dihasilkan, dan komponen serta nilai dari biaya yang dikeluarkan baik di tingkat kebun maupun di tingkat pabrik pengolahan. Data biaya kemudian digolongkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Sedangkan untuk menganalisa EVA, maka data yang diperlukan adalah Neraca Keuangan dan Laporan Laba-Rugi PTPN V yang diterbitkan per tahun yaitu tahun 2000 sampai tahun 2003. Selanjutnya data diolah dengan menggunakan program Excel dan kalkulator. Perkembangan produksi TBS (Tandan Buah segar) pada PTPN V Sei Pagar menunjukkan penurunan selama periode tahun 2001 sampai Agustus tahun 2004 masing-masing sebesar 193.557 ton, 128.203 ton, 125.059 ton dan 106.624 ton. Penurunan produksi TBS itu berdampak pada penurunan produksi CPO yang mana selama periode tersebut CPO yang dihasilkan masing-masing berjumlah 42.178 ton, 27.201 ton, 25.140 ton, dan 22.135 ton. Penurunan terhadap produksi TBS dan CPO disebabkan oleh penjualan TBS ke pihak luar oleh KUD Rukun Makmur dan Tri Manunggal, selain itu juga rendahnya curah hujan menyebabkan produktivitas tanaman menurun. Kapasitas Olah Terpakai selama periode tersebut menunjukkan penurunan masing-masing sebesar 31,24 ton TBS/jam, 30,99 ton TBS/jam, 29,33 ton TBS/jam dan 28,23 ton TBS/jam yang disebabkan oleh penurunan TBS yang diolah. Selain itu kualitas rendemen CPO juga mengalami penurunan yaitu 21,79 persen, 21,21 persen, 20,10 persen, dan 20,75 persen. Harga pokok di tingkat pelabuhan yang juga mencerminkan biaya rata-rata untuk menghasilkan CPO selama periode tahun 2001 sampai tahun 2004, rata-rata untuk menghasilkan satu kilogram CPO masing-masing adalah Rp. 1.691,97/kg, Rp. 2.029,68/kg, Rp. 2.426,14/kg dan Rp. 2.952,54/kg, Keadaan terbaik ditunjukkan pada tahun 2001 dikarenakan biaya rata-rata untuk menghasilkan satu kilogram CPO paling kecil, sedangkan terbesar terjadi pada tahun 2004. Selama periode tahun 2001 sampai tahun 2004 perusahaan selalu memperoleh keuntungan dengan marjin masing-masing sebesar Rp. 383,73/kg, Rp. 1.012,31/kg, Rp. 774,86/kg, dan Rp. 707,46/kg. Nilai marjin terbaik terjadi pada tahun 2002 sebesar Rp. 1.012,32/kg. Artinya setiap penjualan CPO per kilogram dengan harga jual Rp. 3.201, maka keuntungan yang diperoleh per kilogram sebesar Rp. 1.012,32. Biaya variabel rata-rata selama periode tahun 2001 sampai tahun 2004 masing-masing sebesar Rp. 1.663,56, Rp. 2.018,84, Rp. 2.476,67, dan Rp. 3.010,42. Biaya variabel rata-rata tiap tahunnya mengalami kenaikan dikarenakan hasil pembagian biaya variabel dengan total produksi per tahun terus mengalami kenaikan walaupun pada tahun 2001 biaya variabel dan produksi adalah tertinggi namun biaya variabel rata-rata yang dihasilkan merupakan paling rendah. Sedangkan pada tahun 2004 dengan jumlah produksi CPO paling rendah, tetapi biaya variabel rata-rata adalah tertinggi. Kenaikan biaya variabel rata-rata dari tahun 2002 sampai tahun 2004 masingg-masing sebesar 21,36 persen, 22,68 persen, dan 21,55 persen. Titik impas produksi CPO merupakan hasil bagi antara biaya tetap titik impas dengan marjin kontribusi. Pada tahun 2001 titik impas produksi CPO merupakan tertinggi yang berjumlah 29.088,61 ton dikarenakan marjin kontribusi paling rendah walaupun biaya tetap bukan yang paling tinggi, sedangkan di tahun 2002 tingginya marjin kontribusi menyebabkan titik impas produksi menjadi paling rendah yaitu sebesar 13.429,98 ton atau turun 53,83 persen. Pada tahun 2003 titik impas produksi naik sebesar 62,51 persen yang disebabkan terjadinya kenaikan pada biaya tetap 15,04 persen sedangkan marjin kontribusi turun 29,21 persen. Tahun 2004 titik impas produksi kembali turun sebesar 10,01 persen menjadi 19.640,90 ton yang disebabkan turunnya biaya tetap dan marjin kontribusi masing-masing sebesar 19,67 persen dan 10,73 persen. Nilai titik impas merupakan hasil perkalian dari produksi CPO pada titik impas dengan harga jual. Selama periode tahun 2001 sampai Agustus tahun 2004 adalah Rp. 60.379,22 juta, Rp. 40.854,00 juta, Rp. 69.860,67 juta, dan Rp. 71.826,78 juta. Pada tahun 2002 nilai titik impas adalah terendah yang mengalami penurunan sebesar 32,34 persen dikarenakan penurunan titik impas produksi CPO sebesar 53,58 persen dari 29.088,61 ton menjadi 13.429,98 ton walaupun harga jual mengalami kenaikan terbesar yaitu 46,55 persen dari Rp. 2.075,70 menjadi Rp. 3.042. Tahun 2003 nilai titik impas naik sebesar 71 persen yang disebabkan kenaikan pada titik impas produksi CPO sebesar 62,51 persen menjadi 21.824,64 ton, dan di tahun 2004 nilai titik impas merupakan tertinggi yang naik sebesar 2,81 persen disebabkan harga jualnya tertinggi yaitu Rp. 3.657, walaupun titik impas produksi CPO mengalami penurunan sebesar 10,01 persen. Nilai selisih produksi nyata dengan nilai produksi titik impas periode tahun 2001 sampai Agustus tahun 2004 masing-masing sebesar Rp. 27.167,66 juta, Rp. 41.892,14 juta, Rp. 10.612,47 juta, dan Rp. 9.120,91 juta. Tingginya nilai selisih tahun 2002 dikarenakan nilai titik impas adalah terendah yang turun sebesar 32,34 persen menjadi Rp. 40.854 juta sehingga nilai selisih naik sebesar 54,19 persen. Tetapi nilai selisih pada tahun 2003 dan 2004 mengalami penurunan sebesar 74,67 persen dan 14,05 persen yang disebabkan kenaikan pada nilai titik impas sebesar 71 persen dan 2,81 persen Profitabilitas perusahaan selama periode tahun 2001 sampai Agustus tahun 2004 masing-masing sebesar 6,16 persen, 17,03 persen, 2,98 persen, dan 1,99 persen. Profitabilitas paling besar terjadi pada tahun 2002 yang dikarenakan nilai MOS dan MIR adalah terbesar yaitu 50,63 persen dan 33,63 persen sehingga profitabilitas naik sebesar 176,35 persen dari tahun 2001. Pada tahun 2003 dan tahun 2004 nilai profitabilitas turun menjadi 2,98 persen dan 1,99 persen. Rendahnya perolehah nilai profitabilitas tahun 2003 dan tahun 2004 dikarenakan rendahnya perolehan nilai MOS dan nilai MIR pada tahun tersebut. Penurunan profitabilitas tahun 2003 yang mencapai 82,48 persen dikarenakan nilai MOS turun 73,95 persen dan nilai MIR turun 32,72 persen, sedangkan tahun 2004 nilai MOS turun 14,56 persen dan MIR turun 21,86 persen. Penurunan pada MOS terutama disebabkan oleh rendahnya selisih nilai produksi nyata dengan nilai produksi titik impas, sedangkan penurunan MIR terutama disebabkan kenaikan pada biaya variabel titik impas. NOPAT PTPN V dari tahun 2000 sampai tahun 2003 masing-masing sebesar Rp. 98.724,33 juta, Rp. 56.207,87 juta, Rp. 93.091,84 juta, dan Rp. 108.827,68 juta, sedangkan Invested Capital baik yang diperoleh dari pendekatan keuangan maupun dari pendekatan operasi pada tahun 2000 sampai tahun 2003 sebesar Rp. 625.615,77 juta, Rp. 580.412,03 juta, Rp. 659.752,65 juta, dan Rp. 976.115,01 juta. WACC dari tahun 2000 sampai tahun 2003 masing-masing sebesar 8,16 persen, 7,12 persen, 11,44 persen, dan 12,39 persen. EVA PTPN V menunjukkan nilai positif selama periode tahun 2000 sampai tahun 2002, yaitu sebesar Rp. 47.674,08 juta, Rp. 14.882,53 juta, Rp.17.616,14 juta. Sedangkan pada tahun 2003 nilai EVA adalah negatif yaitu -Rp. 12.112,79 juta. Hal ini menunjukkan tolok ukur kinerja keuangan pada PTPN V menghasilkan penciptaan nilai (value creation) terhadap biaya modal dari hutang (cost of debt) dan biaya modal dari ekuitas (cost of equity) walaupun besarnya befluktuasi yaitu terbesar pada tahun 2000 lalu turun di tahun 2001, kemudian kembali naik di tahun 2002. Sedangkan nilai EVA pada tahun 2003 yang bernilai negatif menunjukkan penghancuran nilai (value destruction) terhadap kinerja keuangan yang berbasis biaya modal dari hutang (cost of debt) dan biaya modal dari ekuitas (cost of equity). Perbandingan nilai EVA pada PTPN V terhadap ketiga perusahaan perkebunan swasta yaitu PT. Astra Agro Lestari Tbk, PT. Bakrie Sumatera Plantations Tbk, dan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk selama periode tahun 2001 sampai tahun 2003. Nilai EVA tertinggi yang dicapai oleh PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk di tahun 2003 sebesar Rp. 116.439 juta. Sementara itu untuk periode tahun 2001 dan tahun 2002, kinerja keuangan yang terbaik dihasilkan oleh PTPN V,walaupun hanya mampu menghasilkan nilai EVA masing-masing sebesar Rp. 14.882,53 juta dan Rp.. 17.616,14 juta, tetapi memiliki nilai WACC yang positif. Perbandingan nilai EVA PTPN V dengan PTPN lain menunjukkan kinerja keuangan terbaik di tahun 2002 diperoleh PTPN V. Kinerja keuangan terbaik tahun 2003 dicapai oleh PTPN 13 dengan WACC dibawah 10%. Pihak manajemen pada PTPN V Sei Pagar dapat lebih meningkatkan profitabilitasnya dengan menekan biaya tetap dan menaikkan marjin kontribusi pada titik impas. Penurunan biaya umum pada komponen biaya tetap kebun yang merupakan bagian terbesar dari total biaya tetap, dapat menekan biaya tetap di titik impas. Sedangkan penurunan pada biaya variabel pabrik terutama pada pembelian bahan baku TBS yang merupakan bagian terbesar ± 90 persen dari total biaya variabel pabrik, dan biaya variabel pabrik adalah ± 82 persen dari total biaya variabel pada titik impas, akan memberikan kemampuan yang lebih besar lagi bagi perusahaan untuk dapat menutupi biaya tetap dan laba yang diinginkan. Sementara itu bagi pihak manajemen PTPN V untuk dapat meningkatkan penciptaan nilai (value creation) terhadap biaya modal (cost of capital) dengan meningkatkan penjualan ekspor dan lokal, menurunkan biaya administrasi, dan menurunkan harga pokok penjualan akan memperbesar nilai NOPAT. Sedangkan untuk menurunkan capital charges dengan menurunkan hutang ekuitas akan sulit dilakukan selama biaya biaya pinjaman jangka pendek dan jangka panjang lebih besar dibandingkan dengan biaya modal saham pada masing-masing tahun.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159914
      Collections
      • MT - Business [4056]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository