| dc.description.abstract | Kebijakan dasar pembangunan pertanian di era reformasi dalam lingkungan yang serba global sekarang, memiliki misi untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera khususnya petani melalui pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan desentralisasi, serta berperan didalam 1) meningkatkan pendapatan petani dan taraf hidup, 2) mengembangkan aktivitas ekonomi pedesaan, 3) mewujudkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada ketersediaan pangan, kelembagaan dan budaya pangan lokal, serta 4) meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha secara adil. Pencapaian misi ini memberikan sumbangan besar bagi pembangunan nasional dan sektor pertanian diharapkan mampu sebagai sektor utama penggerak roda perekonomian.
Sektor pertanian memiliki kekuatan strategis dalam menjamin stabilitas ekonomi, sosial budaya, keamanan dan politik. Sejarah membuktikan bahwa suatu negara akan runtuh bila sektor pertaniannya lemah, karena itu perhatian terhadap sektor ini sangat penting mengingat sebagian besar penduduk Indonesia menggantungkan kehidupannya di sektor pertanian.
Dalam era otonomi daerah sekarang ini peran dan fungsi suatu organisasi di daerah dituntut untuk dapat mandiri dan memberikan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Seperti halnya pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat, suatu organisasi yang memiliki tugas menyelenggarakan sebagian kewenangan desentralisasi, tugas dekonsentrasi dan tugas pembangunan di bidang pertanian tanaman pangan dan hortikultura sesuai dengan lingkup tugas sebagaimana yang tercantum di dalam Keputusan Gubernur Kalimantan Barat No. 15 Tahun 2002.Berkaitan dengan pembangunan pertanian masa depan tersebut, tuntutan untuk memberikan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan kinerja organisasi di bidang pertanian tanaman pangan sangat perlu dukungan pegawai sebagai sumber daya utama pada organisasi. Pegawai yang dapat memberikan pelayanan dengan baik kepada masyarakat merupakan pegawai yang memiliki komitmen terhadap standarisasi pelayanan dan memiliki standar kinerja yang tinggi.
Tujuan penelitian ini adalah : 1) Menganalisis pelaksanaan kepemimpinan yang ada pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat. 2) Menganalisis bagaimana tingkat motivasi pegawai pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat. 3) Menganalisis bagaimana tingkat kinerja pegawai pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat. 4) Menganalisis sejauhmana hubungan kepemimpinan dengan motivasi dan kinerja pegawai pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat.
Penelitian ini dilaksanakan pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat, selama dua bulan yang dimulai pada bulan Desember 2004 sampai dengan bulan Februari 2005. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dalam bentuk studi kasus (case study). Metode deskriptif ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi masing-masing variabel yang diteliti sesuai dengan distribusi frekuensi dan rata-rata jawaban responden yaitu untuk menggambarkan suatu kondisi atau keadaan tentang hubungan kepemimpinan terhadap motivasi dan kinerja pegawai Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat. Untuk mendapatkan gambaran hubungan kepemimpinan dengan motivasi dan kinerja pegawai pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat maka populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai yang berjumlah 33 orang, sedangkan sampel yang diambil adalah seluruh pegawai, jumlah sampel tersebut diperoleh dengan sensus. Jenis data dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Kedua jenis data ini, selain karakteristik juga memiliki perbedaan dalam teknik pengumpulan. Data primer diperoleh langsung melalui pengisian kuesioner dan wawancara langsung di lokasi obyek penelitian. Dari jawaban yang diberikan responden tersebut, kemudian direkapitulasi ke dalam Tabel yang disesuaikan dengan teknik analisis yang digunakan. Data sekunder yang dibutuhkan untuk menunjang kajian ini selain berasal dari internal diperoleh juga melalui studi literatur dari instansi terkait yaitu Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Kalimantan Barat serta peraturan dan kebijakan pemerintah yang relevan.
Teknik Analisis Data dengan Uji Validitas Dan Reliabilitas, Pengujian validitas digunakan formulasi korelasi Product Moment dari Pearson, dan untuk pengujian reliabilitas digunakan rumus Alpha Cronbach. Juga digunakan Teknik Rentang Kriteria dan Analisis Korelasi Rank-Spearman Metode ini digunakan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara kepemimpinan dengan motivasi dan kinerja. Faktor-faktor tersebut dilakukan dengan menguraikan lagi menjadi beberapa indikator yang lebih operasional.
Dari hasil analisis Rentang Kriteria diperoleh hasil pada lima dimensi prilaku kepemimpinan yang diukur dengan tiga belas atribut pernyataan diperoleh total skor 1901 dengan total nilai rata-rata sebesar 4.43. Nilai ini menunjukan bahwa kondisi pelaksanaan kepemimpinan yang ada pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat saat ini sangat baik.
Begitu juga pada tiga dimensi motivasi dengan tujuh atribut pernyataan diperoleh total skor 888 dengan total nilai rata-rata sebesar 3.84. Nilai ini menunjukan bahwa tingkat motivasi yang ada pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat saat ini sudah baik.
Dari lima dimensi kinerja dengan dua belas atribut pernyataan yang diukur diperoleh total skor 1716 dengan total nilai rata-rata sebesar 4.33. Nilai ini menunjukan bahwa tingkat kinerja yang ada pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat saat ini sangat baik.
Dari hasil analisis kolerasi Rank Spearman hubungan antara kepemimpinan dengan Motivasi pegawai diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.527. Besaran angka koefisien korelasi ini secara kualitatif menunjukkan hubungan yang kuat, antara kepemimpinan dengan motivasi pegawai pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat. Sedangkan nilai signifikansi sebesar α 0.002. Nilai tersebut menunjukan nilai signifikansi yang lebih kecil dari tingkat kesalahan penelitian yang ditetapkan yaitu sebesar 5% atau 0.05. Karena besarnya nilai signifikansi yang lebih kecil dari 5 % maka hasil pengujian ini menyatakan menerima pendapat H1, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan dengan motivasi pegawai.
Begitu juga hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja pegawai diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.484. Besaran angka koefisien korelasi ini secara kualitatif menunjukkan hubungan yang kuat, antara kepemimpinan dengan kinerja pegawai pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat. Sedangkan nilai signifikansi sebesar α 0.004. Nilai tersebut menunjukan nilai signifikansi yang lebih kecil dari tingkat kesalahan penelitian yang ditetapkan yaitu sebesar 5 % atau 0.05. Karena besarnya nilai signifikansi yang lebih kecil dari 5 % maka hasil pengujian ini menyatakan menerima pendapat H1, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan dengan kinerja pegawai
Hubungan antara motivasi dengan kinerja pegawai diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.501. Besaran angka koefisien korelasi ini secara kualitatif menunjukkan hubungan yang kuat, antara motivasi dengan kinerja pegawai pada Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Barat. Sedangkan nilai signifikansi sebesar α 0.002. Nilai tersebut menunjukan nilai signifikansi yang lebih kecil dari tingkat kesalahan penelitian yang ditetapkan yaitu sebesar 5 % atau 0.05. Karena besarnya nilai signifikansi yang lebih kecil dari 5 % maka hasil pengujian ini menyatakan menerima pendapat H1, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi dengan kinerja pegawai
Adapun penelitian ini memberikan saran antara lain, 1) Perlu kiranya pemimpin dalam mengambil keputusan-keputusan yang strategis melakukan koordinasi dan mempertimbangkan masukan/informasi dari bawahan, sehingga keputusan tersebut lebih tepat sasaran dan memperkecil resiko kegagalan, 2) Untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan penuh semangat, perlu kiranya pegawai senantiasa membina komunikasi dan keterbukaan, ini diharapkan agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam melaksanakan pekerjaan. | |
| dc.subject.keyword | Kepemimpinan, Motivasi, Kinerja, Validitas, Realibilitas, Korelasi Product Moment, Alpha Cronbach, Rentang Kriteria, Rank Spearman, Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura, Propinsi Kalimantan Barat. | id |