Show simple item record

dc.contributor.advisorSyah, Hamdani M.
dc.contributor.advisorDaryanto, Arief
dc.contributor.authorMeizadiarty
dc.date.accessioned2024-12-05T07:04:47Z
dc.date.available2024-12-05T07:04:47Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159905
dc.description.abstractDalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional, sektor pertanian masih memegang peranan yang sangat strategis, karena sektor pertanian masih tetap berperan sebagai penyedia pangan bagi seluruh penduduk baik dari sisi kuantitas, kualitas, maupun keragamannya. Pertanian diharapkan tetap menopang pertumbuhan sektor lain yaitu pertumbuhan industri dalam negeri, perluasan ekspor, dan mendorong dalam pemerataan pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya otonomi daerah yang luas diharapkan menjadi pendorong pemanfaatan potensi yang ada, karena kewenangan ada di daerah yang mengenal dengan baik kondisi dan potensi pertaniannya. Tetapi justru bisa menjadi kendala, kalau tidak mampu engawinkan potensi yang tersedia dengan sumberdaya yang tidak dimiliki daerah yang bersangkutan. Penanganan pertanian oleh daerah akan lebih efektif, di samping karena jarak antara penentu kebijakan dan pelaku lebih pendek, juga karena penentu kebijakan mengenal dengan sangat baik masalah daerahnya. Kota Jambi sebagai salah satu daerah otonom, telah mengembangkan kembali kawasan sentra agribisnis jeruk, yang sekitar tahun 1970-an pernah ada, tetapi mengalami kehancuran akibat serangan penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration). Pengembangan kembali kawasan ini dilakukan karena jeruk merupakan salah satu jenis buah yang sangat populer dan diminati hampir seluruh lapisan masyarakat, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka Pemerintah Kota Jambi untuk menumbuhkan kawasan sentra dalam usaha mengembangkan ekonomi kerakyatan, yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani di daerah sentra. Hal ini dilakukan melihat peluang di pasar yang selama ini jeruk didatangkan dari daerah lain atau dari negara lain, sementara itu di Kota Jambi terdapat lahan yang cocok untuk dilakukan pengembangan tanaman jeruk. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah apakah usaha budidaya jeruk dapat menguntungkan atau layak diusahakan oleh petani di Kota Jambi?, berapa luas skala usahatani jeruk yang harus dimiliki petani agar dapat memberikan kehidupan yang layak?, serta berapa besar sumbangan dari usahatani jeruk terhadap tingkat kesejahteraan petani?. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa kelayakan budidaya petani jeruk Kota Jambi, menganalisa skala usahatani jeruk yang harus dimiliki petani agar dapat memberikan kehidupan yang layak, serta menganalisa tingkat kesejahteraan petani jeruk di Kota Jambi. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dengan 30 responden yang diambil secara acak pada enam kelompok yang ditentukan secara purposive sampling yang merupakan kawasan sentra pengembangan jeruk di Kelurahan Penyengat Rendah Kota Jambi. Pengolahan data dilakukan dengan analisis biaya, analisis pendapatan petani, analisis kelayakan berdasarkan pemenuhan kebutuhan petani, analisis tingkat kesejahteraan dengan mempergunakan indikator yang dipergunakan dalam SUSENAS 2001, analisis kelayakan finansal, analisis sensitivitas dan analisis skala usaha. Dari identifikasi penggunaan input, dapat diketahui bahwa penggunaan input sarana produksi rata-rata masih di bawah dosis yang dianjurkan dengan pemeliharaan yang kurang intensif, sehingga produktivitas tanaman menjadi rendah. Produksi yang dihasilkan berupa buah jeruk siam segar yang sementara hanya dipasarkan untuk memenuhi permintaan pasar di wilayah Jambi dan sekitarnya, karena produksi yang dihasilkan masih sedikit. Hasil analisis biaya menunjukkan bahwa biaya investasi terbesar dikeluarkan pada tahun pertama dengan persentase terbesar dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja sebesar 59,21%, sedangkan untuk biaya operasional diperoleh data bahwa sebagian besar biaya tenaga kerja merupakan biaya yang diperhitungkan, karena menggunakan tenaga keluarga sebesar 72,21%. Usahatani jeruk ini selama 15 tahun akan memberikan pendapatan kepada petani sebesar Rp. 107.223.750, dengan jumlah produksi 75.800 kg dan harga jual rata-rata Rp. 3.000, sehingga diperoleh rata-rata pendapatan per bulan sebesar Rp. 595.633. Sedangkan rata-rata pengeluaran rumah tangga responden sebulan sebesar Rp. 700.533. Hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa usahatani jeruk yang dilakukan di Kota Jambi secara finansial per ha layak dan menguntungkan untuk dilaksanakan, karena memberikan nilai Net Present Value (NPV) yang positif sebesar Rp. 19.059.805 dengan Internal Rate of Retum (IRR) 26,75%. Apabila dilihat dari pemenuhan kebutuhan hidup petani, maka dengan kondisi usahatani yang dilakukan seperti sekarang kurang tepat untuk dikembangkan di Kota Jambi karena hanya menyumbang sebesar 20,4%. Tetapi apabila petani mengelola usahataninya sesuai dengan kondisi yang dianjurkan, maka usahatani ini dapat menyumbang sebesar 66,29% dari kebutuhan hidupnya. Dari hasil analisa diperoleh luas lahan yang harus diusahakan untuk usahatani jeruk dengan kondisi pengelolaan usahatani seperti sekarang agar dapat memenuhi kebutuhan hidup petani adalah sebesar 1,18 ha, sedangkan bila petani mampu mengelola usahataninya dengan kondisi yang dianjurkan maka luas lahan yang diperlukan adalah 0,36 ha. Untuk itu kepada petani diharapkan untuk dapat mengelola usahataninya dengan kondisi sesuai anjuran, sehingga diperoleh pendapatan yang optimal. Hasil analisis kesejahteraan yang dilakukan dengan menggunakan indikator-indikator SUSENAS 2001 menunjukkan bahwa sebesar 60% responden berada pada tingkat kesejahteraan sedang. Berdasarkan hasil penelitian maka ada beberapa hal yang dapat disarankan sebagai berikut: 1) melakukan pembinaan dan penyuluhan yang lebih intensif kepada petani untuk meningkatkan pengelolaan usahataninya sehingga hasil yang diperoleh dapat memenuhi kebutuhan hidup petani, 2) melakukan penataan kawasan dengan melakukan konsolidasi kepemilikan lahan, sehingga petani dapat melakukan usahatani jeruk pada lahan sekurangnya 0,36 ha, sehingga usahatani yang dilakukan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, 3) melakukan pengkajian yang lebih dalam tentang komoditas yang cocok dikembangkan di lokasi penelitian dengan luas lahan yang rata-rata dimiliki petani hanya 0,24 ha, sehingga pengembangan komoditas tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup petani dan memenuhi skala ekonomi.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleKajian Finansial Budidaya Jeruk Di Wilayah Pemerintah Kota Jambi (Studi Kasus Di Kelurahan Penyengat Rendah Kota Jambi)id
dc.subject.keywordBudidaya Jerukid
dc.subject.keywordKota Jambiid
dc.subject.keywordAnalisis Kelayakanid
dc.subject.keywordAnalisis Kesejahteraanid
dc.subject.keywordManajemen Keuanganid
dc.subject.keywordDeskriptif Dengan Studi Kasusid
dc.subject.keywordBudidaya Jeruk, Kota Jambi, Manajemen Finansial, Analisis Kelayakan, Analisis Kesejahteraan, Deskriptif dengan Studi Kasusid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record