Show simple item record

dc.contributor.advisorMarimin
dc.contributor.advisorSaptono, Imam Teguh
dc.contributor.authorHamzah
dc.date.accessioned2024-12-05T07:01:08Z
dc.date.available2024-12-05T07:01:08Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159888
dc.description.abstractSektor kehutanan masih menjadi primadona penyumbang devisa negara terbesar untuk produk non migas. Sampai tahun 2004, industri pengolahan kayu menyumbang 7,98% dari total perolehan devisa negara (BPS dan Departemen Perindustrian, 2005). PT.Musi Hutan Persada (MHP) sebagai perusahaan yang bergerak di bidang hutan tanaman yang menghasilkan bahan baku (kayu Acacia mangium) terbarukan untuk industri berbasis kayu turut andil dalam menyumbang perolehan devisa negara tersebut. Untuk menyokong peningkatan perolehan devisa negara dan meningkatkan keuntungan bagi perusahaan dan masyarakat maka PT.MHP perlu memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki secara optimal dan efisien. Pemanfaatan suberdaya yang optimal dapat diwujudkan dengan peningkatan nilai tambah produk (value-added) dan menciptakan produk yang mempunyai keunggulan kompetitif. Untuk mengoptimalkan resource yang ada MHP berencana untuk melakukan pengembangan usaha melalui diversifikasi produk. Selama ini kayu Acacia mangium yang diproduksi hanya digunakan untuk memasok pasar monopsonis (PT. TEL), yaitu kayu bulat untuk bahan baku bubur kertas. Padahal, dari kayu Acacia mangium tersebut dapat dijadikan produk-produk lain yang mempunyai nilai tambah tinggi seperti kayu gergajian kayu olahan (KGKO), produk furniture, plywood, moulding, MDF, papan partikel, arang industri (charcoal), Bahan Perekat Ekstrak Tanin Kulit Kayu dan produk-produk turunan lainnya, terutama untuk kayu yang berdiameter besar ( > 30 cm) dan telah mempunyai umur yang cukup. Oleh karena itu, pengembangan usaha melalui diversifikasi produk seperti sudah merupakan suatu keharusan untuk menghindari pemborosan resources tersebut. Selain itu, produksi kayu Acacia mangium yang dihasilkan PT. MHP yang sudah melebihi kebutuhan pasokan terhadap PT. TEL sesuai dengan pulp supply agrement (PSA), bahkan pada akhir daur produk yang dihasilkan MHP dapat mencapai sekitar 40.000 ha atau sekitar 10 juta m3 yang sudah semestinya dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut. a. Bagaimana kesiapan perusahaan dalam membangun usaha masa depan ? b. Potensi dan kompetensi inti apa yang dimiliki PT. MHP dalam mengembangkan industri berbasis kayu? c. Produk hilir (downstream) apa saja dari kayu Acacia mangium selain pulp and kertas yang memiliki prospek yang baik? d. Strategi bisnis apakah yang sebaiknya diterapkan oleh PT. MHP dengan kondisi lingkungan saat ini sesuai dengan kompetensi dan potensi yang dimiliki, sehingga menghasilkan produk yang menghasilkan laba optimal? e. Alternatif strategi manakah yang paling tepat untuk diterapkan di PT. MHP? Berdasarkan latar belakang dan masalah yang dikemukakan maka tujuan kajian penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. a. Melihat kompetisi masa depan perusahaan b. Menganalisa potensi dan kompetensi inti yang dimiliki perusahaan guna memberikan alternatif produk pilihan yang bernilai tambah tinggi, layak dan mempunyai daya saing tinggi (competitive advantage). c. Mengkaji prospek pengembangan produk kayu olahan berbasis kayu Acacia mangium yang bernilai tambah tinggi dan menguntungkan dengan tetap berpedoman pada konsep pembangunan hutan lestari. d. Memformulasikan alternatif strategi bisnis yang dapat diterapkan oleh PT. MHP dengan kondisi saat ini dan akan datang. e. Merekomendasikan strategi yang paling tepat untuk diterapkan oleh PT. MHP Ruang lingkup penelitian ini difokuskan dan dibatasi pada produk hilir kayu Acacia mangium (off farm), sebagai pengembangan usaha baru yang akan digarap sesuai dengan hasil kajian dan penelitian Divisi Litbang serta produk yang memiliki prospek masa depan yang baik berdasarkan berbagai aspek.. Penelitian mengenai kajian Strategi Diversifikasi Produk Kayu Olahan Acacia mangium, telah dilaksanakan di kantor pusat Operasi, Niru, Kab. Muara Enim dan di divisi R & D desa Subanjeriji serta di kantor Perwakilan, Jakarta. Pemilihan tempat dilakukan dengan secara sengaja (purposive) karena areal pengelolaan HTI dan pusat operasi perusahaan ini berada di Sumatera Selatan, sedangkan di Jakarta sebagai kantor direksi (perwakilan manajemen) perusahaan yang memiliki ketersediaan data dan informasi yang lengkap dan akurat serta memudahkan akses dalam penelitian ini. Kajian diversifikasi produk kayu olahan Acacia mangium di PT. MHP menghasilkan 5 (lima) produk terpilih sebagai produk alternatif yang memiliki prospek yang baik, yaitu empat produk berbasis kayu dan satu produk non kayu dari 9 produk yang dikaji berdasarkan 11 kriteria yang telah ditentukan. Total nilai masing-masing produk terpilih yang dikaji dengan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) sesuai dengan pendapat para pakar adalah diurutkan berdasarkan total nilai yang tertinggi sebagai berikut. (1) Furniture, (2) Kayu Gergajian Kayu Olahan (KGKO), (3) Medium Density Fibreboard (MDF), (4) Bahan Perekat (lem) dari Ekstrak Tanin Kulit Kayu (Acacia mangium Bark) dan Arang Kayu. Kriteria penilaian yang dipakai meliputi: Potensi Pasar, Kemampuan Perusahaan dalam mengelola dana, Kompetensi/ketersedian SDM, Ketersediaan Bahan Baku, Teknologi yang dimiliki perusahaan, Sarana dan Prasarana yang dimiliki perusahaan, Kelayakan Bisnis dan Investasi (Menguntungkan), Aspek Lingkungan Perusahaan (Sosial & Ekologi), Kebijakan Pemerintah, Aspek Pembangunan Hutan Lestari, Manejemen Industri. Dari sebelas kriteria tersebut yang memiliki bobot yang tertinggi adalah Potensi Pasar. Dari kelima produk yang berbasis kayu tersebut setelah dikaji peluang bisnisnya oleh para pakar dengan teknik AHP dan mempertimbangkan berbagai aspek dan kriterianya serta kajian nilai tambahnya (value-added), analisis biaya serta ekonominya maka hanya empat produk berbasis kayu dan satu produk non kayu yang dijadikan lima alternatif utama dalam pengembangan usaha melalui diversifikasi produk ini, yaitu Kayu Gergajian Kayu Olahan (KGKO), Furniture, medium density fibreboard (MDF), Bahan Perekat (lem) dari tanin kulit kayu. Namun dari analisis nilai tambah produk (value-added), ternyata hanya produk furniture yang mempunyai nilai tambah tertinggi, yaitu mencapai di atas 90% (rata-rata 70-90%), sedangkan produk kayu gergajian dan kayu olahan (KGKO) nilai tambahnya mencapai 44%. Kedua jenis produk tersebut setelah dikaji dengan analisis biaya dan ekonomi diyatakan layak untuk dijadikan alternatif pengembangan usaha. Dari kelima produk yang akan dijadikan alternatif pengembangan usaha dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mendukung dan mempengaruhi diversifikasi produk kayu dengan metode AHP, ternyata produk kayu gergajian dan kayu olahan (KGKO) dan furniture serta lem tanin kulit kayu adalah produk yang paling tepat untuk diterapkan saat ini, sedangkan produk Arang Aktif dapat dijadikan alternatif berikutnya. Karena ketiga produk tersebut sudah mempunyai nilai tambah tinggi, menguntungkan, mudah untuk diterapkan dan tidak membutuhkan biaya investasi yang mahal. Penerapannya dapat dilakukan oleh perusahaan sendiri sebagai pelaku usaha, seperti MHP ataupun membentuk unit usaha baru yang bekerjasama dengan pengusaha kecil (UKM) setempat. Namun demikian, implementasi diversifikasi produk bersifat fleksibel dan sangat tergantung dengan kebutuhan pasar (demand) dan ketersediaan bahan baku (supply). Dengan demikian hukum ekonomi pasar berpengaruh dalam implementasi diversifikasi produk. Berdasarkan karakteristik dan sifat mekanis kayu Acacia mangium yang termasuk kayu keras (dengan kategori sedang), dan bila dibandingkan dengan meranti dan kayu karet tidak kalah bagusnya. Bahkan, kayu Acacia mangium bila dilihat sifat bending strenght lebih unggul dari kedua jenis kayu tersebut. Nilai lebih lainnya adalah pada corak dan figur kayu Acacia mangium yang memiliki alur serat menyerupai kayu jati, sehingga diharapkan menjadi substitusi kebutuhan akan bahan baku kayu jati yang akhir-akhir ini persediaannya banyak berkurang. Selain itu, ditinjau dari sisi kesiapan perusahaan dalam melakukan pengembangan usaha (diversifikasi produk), manajemen pucak MHP sangat mendukung dan memiliki visi yang jauh kedepan. Kompetensi inti dan kompetensi yang dimiliki perusahaan serta potensi resources dan SDM juga sangat mendukung. Dengan demikian jenis diversifikasi produk yang diterapkan di MHP adalah diversifikasi yang berhubungan (related diversification) dengan menciptakan nilai tambah, bisnis lama dan bisnis baru berkesinambungan, resource sharing dan melakukan transfer kompetensi serta dapat mengoptimalkan tenaga kerja yang berlebih. Namun untuk mendukung keberlangsungan pengembangan usaha perlu dikembangkan dan digali lagi kompetensi yang lain sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan hasil identifikasi para responden pakar terdapat enam faktor penting yang menjadi penentu dan pertimbangan dalam melakukan diversifikasi produk. Namun faktor yang menjadi prioritas utama adalah Aspek pasar dan pemasaran, Potensi hasil penelitian dan pengembangan dan Ketersediaan/Kompetensi Sumberdaya. Sedangkan tiga faktor lainnya, yaitu Kemampuan Perusahaan dalam Pengelolaan Finansial dan Prosfek Bisnis kedepan, Aspek Lingkungan dan Sosial dan Manajemen Teknologi dan Industri yang dimiliki perusahaan yang juga memberikan kontribusi tingkat kepentingan yang cukup signifikan. Dalam implementasinya diversifikasi produk harus relepan dengan tujuannya, yaitu untuk mengoptimalkan keuntungan bagi perusahaan dan meningkatkan perolehan devisa negara serta meraih pangsa pasar dan mengoptimalkan produk guna menjaga kelestariaan usaha. Untuk itu, strategi utama yang yang seharusnya diterapkan oleh PT.MHP saat ini adalah pemanfaatan bahan baku secara optimal, terintegrasi dan berkesinambungan dengan memanfaatkan potensi pasar serta menerapkan strategi produk fokus, yaitu menciptakan produk yang bernilai jual tinggi, mempunyai daya saing, dan ramah lingkungan. Implikasi manajerial dari kajian ini adalah mengoptimalkan sumberdaya (resources) yang ada, yaitu kayu Acacia mangium dan efisiensi rasio-rasio penggunaannya serta dapat mengoptimalkan sumberdaya manusia yang ada. Selain itu, untuk menyokong diversifikasi produk perlu dilakukannya transfer kompetensi dan pengembangan kompetensi inti yang dimiliki perusahaan serta melakukan pengembangan SDM. Dari kajian ini diharapkan dapat mempromosikan dan meningkatkan citra kayu Acacia mangium. Selain dampak ekonomi dan bisnis, diversifikasi produk ini juga diharapkan berimplikasi pada lingkungan sekitar perusahaan, misalnya dapat menekan illegal logging, menekan laju kerusakan lahan/hutan, meningkat administrasi kehutanan serta meningkatkan biodiversitas & tata air. Dari hasil kajian mengenai Strategi Diversifikasi Produk Kayu Olahan Acacia mangium di PT. Musi Hutan Persada disarankan beberapa hal sebagai berikut 1) melakukan studi kelayakan usaha dan investasi secara mendalam dan komprehensif serta kajian implementasi pembentukan sub bisnis unitnya (SBU). 2) Perlu keseriusan dan dukungan dari semua komponen yang ada pada perusahaan termasuk stakeholder untuk melakukan pengembangan usaha. 3) Perlu dukungan yang penuh dari pihak Pemerintah baik sebagai pembuat kebijakan dan aturan, maupun turut serta dalam mempromosikan penggunaan kayu hutan HTI. 4) Jati mangium dijadikan sebagai market brand (nama pasaran) bagi kayu Acacia mangium. 5) Mengoptimalkan divisi pengembangan usaha dalam memproduksi produk-produk terpilih dan mempromosikan serta memasarkannya. 6) Tetap mengoptimalkan fungsi community develepoment untuk menjaga kelestarian usaha. 7) Tetap memperhatikan isu strategi silvikultur dalam melakukan diversfikasi produk
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleStrategi Diversifikasi Produk Kayu Olahan Acacia Mangium (Studi Kasus Di Pt Musi Hutan Persada)id
dc.subject.keywordAcacia Mangiumid
dc.subject.keywordPt Musi Hutan Persadaid
dc.subject.keywordHtiid
dc.subject.keywordDiversifikasi Produkid
dc.subject.keywordProduk Kayuid
dc.subject.keywordKompetensi Intiid
dc.subject.keywordNilai Tambahid
dc.subject.keywordAcacia mangium, PT. Musi Hutan Persada, HTI, Diversifikasi Produk, Produk Kayu, Kompetensi Inti, Nilai Tambahid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record