| dc.description.abstract | Sebagai penghasil padi terbesar kedua di Indonesia, Jawa Barat mampu berproduksi melebihi kebutuhan konsumsi penduduk regionalnya. sehingga berpotensi mendistribusikan kelebihan berasnya menuju wilayah- wilayah yang mengalami kekurangan persediaan beras. Akan tetapi, sebagai badan logisitik milik pemerintah yang harus mulai beroperasi secara komersial, Bulog dihadapkan pada beberapa kondisi pengelolaan rantai pasokan beras. Untuk menjalankan bisnis secara komersial, Bulog Divisi Regional Jawa Barat harus mempertimbangkan keberlanjutan pasokannya secara lokal nasional, karena peningkatan konsumsi beras di wilayah tersebut tidak diimbangi dengan pemanfaatan lahan produksinya. Oleh karena itu. diperlukan kajian mengenai rantai pasokan beras Bulog, terutama dalam menjaga keberlanjutan pemenuhan kebutuhan beras melalui produksi lokal Penelitian dengan pendekatan studi kasus dilakukan untuk menggambarkan rantai pasokan beras Perum Bulog, dari lokasi yang mengalami kelebihan pasokan (produksi) ke lokasi yang kekurangan pasokan (konsumsi) di Jawa Barat dan sekitarnya. Data primer diambil melalui diskusi (brainstorming) untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan kompetitif manajemen rantai pasokan beras Perum Bulog. Data sekunder diambil untuk melakukan perhitungan marjin pemasaran, pendugaan volume pasokan dan permintaan beras, selisih produksi-konsumsi, serta penentuan model
transportasi beras Bulog menerima gabah kering giling dan beras dari mitra kerjanya. Penggilingan beras dilakukan oleh mitra giling. Beras tersebut didistribusikan untuk golongan anggaran (TNI. 1.77%, POLRI, 0.02%; Departemen Kehakiman, 0.29%; Departemen Sosial, 0.03%; dan Karyawan Divre Jawa Barat 0.07%); serta untuk non golongan anggaran (Operasi Pasar Murni, 1.55%; Probis Bulog, 0.14%; dan untuk membantu korban bencana alam, 0.77%). Bulog menyalurkan gabah kering giling pada mitra-mitra gilingnya (41.06%), selain juga mendistribusikan beras dari subdivre-subdivne yang mengalami surplus persediaan beras ke subdivre-subdivre yang mengalami defisit persediaan beras (move-out regional) (6.98%), serta dan Divisi
Regional Jawa Barat ke Divisi Regional DKI Jakarta (13.20%). Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Bulog dibedakan menjadi
faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan nilai dan faktor-faktor yang
mempengaruhi keunggulan produktivitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan nilai terdiri dari mutu gabah, mutu beras, perawatan mutu, serta teknologi pengolahan dan pasca panen. Faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan produktivitas terdiri dari aspek-aspek produksi di lini on-farm (ketersediaan bibit unggul, kesesuaian lahan, pemupukan, penggunaan pestisida, mekanisasi pertanian, kondisi lingkungan, pengelolaan lahan dan sistem irigasi, sumberdaya manusia, serta riset dan pengembangan), persediaan, transportasi, tingkat kerusakan, biaya operasional pengadaan, serta kemitraan....dst | |
| dc.subject.keyword | Gabah/Beras, Bulog Divisi Regional, Manajemen Rantai Pasokan, Rantai Distribusi, Keunggulan Kompetitif, Diagram Ishikawa, Dekomposisi, Trend Linier, Model Transportasi | id |