| dc.description.abstract | Rumput laut merupakan salah satu komoditas sektor perikanan dan kelautan yang akhir-akhir ini semakin gencar dibudidayakan. Hal ini seiring dengan semakin meningkatnya aplikasi dari produk olahan dari komoditi ini dalam dunia industri. Produk olahan dari rumput laut baik berupa agar-agar, karaginan dan alginat sangat bermanfaat baik dalam industri makanan, industri farmasi, industri kosmetik, industri tekstil maupun industri kulit. Disamping permintaan produk olahan rumput laut yang semakin tinggi, permintaan rumput laut kering juga semakin tinggi, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri produksi rumput laut kering dan produk olahan dari rumput laut di Indonesia harus mengimpor dari negara lain. Industri pengolahan rumput laut di Indonesia yang terdiri dari 30 pabrik pengolahan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik apalagi mancanegara.
Indonesia dengan garis pantai sepanjang 81.000 kilometer, baru mampu menyumbang devisa sebesar US $ 17 miliar dari komoditi rumput laut, sementara Philipina yang perairannya jauh lebih sempit dari Indonesia mampu meraup devisa dari sektor ini sebesar US $ 700 miliar yang bahan bakunya 60 persen dari Indonesia. Hal ini sebagai implikasi dari lemahnya bangunan industri pengolahan pascapanen.
Potensi budidaya rumput laut di Indonesia khususnya di Kawasan Timur Indonesia tersedia luas. Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai salah satu daerah di Kawasan Timur Indonesia memiliki potensi pengembangan budidaya rumput laut seluas 87.000 hektar sementara yang diusahakan baru mencapai lebih kurang 1.000 hektar dengan produksi baru mencapai lebih kurang 200 s.d. 250 ton pertahun. Hal ini menunjukkan bahwa peluang untuk pengembangan budidaya maupun pengembangan agroindustri juga masih sangat potensial.
Pengembangan agroindustri merupakan upaya untuk meningkatkan nilai tambah, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani rumput laut serta meningkatkan pendapatan asli daerah. Dalam rangka pengembangan agroindustri rumput laut di Sulawesi Tenggara diperlukan keterlibatan semua pihak, karena pengembangan suatu agroindustri merupakan suatu sistem baik sistem produksi, sistem pengolahan, sistem pemasaran maupun sistem penunjang berupa lembaga keuangan maupun lembaga penelitian.
Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Mengidentifikasi dan menganalisis potensi bahan baku agroindustri rumput laut di Sulawesi Tenggara; (2) Mengkaji dan menentukan lokasi pengembangan agroindustri rumput laut; (3) Mengkaji struktur biaya kegiatan agroindustri rumput laut untuk mengetahui kelayakan dan risiko usaha; (4) Mengkaji nilai tambah produk agroindustri rumput laut; dan (5) Mengkaji dan menentukan prioritas pengembangan agroindustri rumput laut di Sulawesi Tenggara.
Ruang lingkup penelitian meliputi identifikasi potensi sumberdaya bahan baku, analisis ketersediaan bahan baku, penentuan lokasi strategis untuk pengembangan agroindustri rumput laut, kajian kelayakan pengembangan agroindustri rumput laut dan kajian prioritas pengembangan agroindustri rumput laut di Sulawesi Tenggara. Penelitian menggunakan metode deskriptif dan analisa kuantitatif dengan pendekatan survey. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive) yakni menentukan secara sengaja responden yang dianggap ahli/pakar (expert) dalam pengembangan agroindustri yang berasal dari perguruan tinggi, instansi terkait, dan pedagang/pengusaha rumput laut.
Untuk mengidentifikasi potensi sumberdaya bahan baku digunakan metode deskriptif, analisis ketersediaan bahan baku menggunakan metode peramalan yakni analisis trend, analisis penentuan lokasi strategis untuk pengembangan menggunakan teknik MPE. Analisis kelayakan pengembangan menggunakan metode deskriptif untuk aspek teknis, aspek pasar, aspek manajemen dan SDM dan aspek sosial, sedangkan aspek ekonomi menggunakan pendekatan analisis biaya dan keuntungan, aspek finansial menggunakan pendekatan finansial dengan alat ukur NPV, IRR, BCR dan PBP. Untuk aspek nilai tambah menggunakan analisis nilai tambah dengan metode Hayami. Selanjutnya untuk menganalisis prioritas pengembangan agroindustri rumput laut menggunakan metode Analitycal Hierarchi Process.Pengolahan dan analisis data menggunakan Software Minitab ver 13 dan Excel.
Hasil kajian terhadap potensi sumberdaya bahan baku dan analisis trend terhadap perkembangan produksi rumput laut menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku rumput laut mendukung untuk pengembangan agroindustri rumput laut di Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tenggara memiliki potensi budidaya laut sekitar 230.000 hektar dengan potensi budidaya rumput laut sekitar 39 persen atau 89.700 hektar. Luas areal yang telah dimanfaatkan sekitar 1.127 hektar atau 1,26 persen. Potensi produksi bahan baku 708.584 ton rumput laut basah atau 212.575 ton rumput laut kering dalam satu kali panen atau sekitar 141.717 ton rumput laut kering per bulan.
Kajian penentuan lokasi pengembangan agroindustri menunjukkan bahwa lokasi strategis untuk pengembangan agroindustri adalah Kabupaten Kendari dengan bobot nilai 11,5964. Kabupaten Buton menempati urutan kedua dengan nilai 11,4036, Kabupaten Muna menempati urutan ketiga dengan nilai 11,2118, Kota Kendari pada urutan keempat dengan nilai 11,1793, Kab. Kolaka pada urutan kelima dengan nilai 11,1363 sedangkan urutan keenam adalah Kab. Konsel dengan nilai 11,0433.
Hasil kajian terhadap kelayakan pengembangan agroindustri baik dari aspek teknis, aspek pasar, aspek manajemen dan SDM, aspek sosial-ekonomi, aspek finansial dan aspek nilai tambah menunjukkan bahwa proyek pengembangan agroindustri layak dilaksanakan. Hasil kajian terhadap aspek teknis (ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi dan mesin dan peralatan) ditunjukkan dalam jaringan rantai produksi (kesetimbangan materi) agroindustri mulai dari penyediaan bahan baku, pengelolaan pasca panen dan pengolahan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Analisis jaringan rantai produksi (kesetimbangan materi) agroindustri rumput laut menunjukkan bahwa untuk memperoleh produksi karaginan sebanyak 30 ton per bulan dibutuhkan bahan baku rumput laut kering jenis Eucheuma cottonii 100 ton perbulan dengan rendemen 30 persen. Sedangkan untuk mendapatkan bahan baku rumput laut kering sebanyak 100 ton perbulan dibutuhkan rumput laut basah sebanyak 333,33 ton (rendemen 30 persen). Selanjutnya diperlukan budidaya rumput laut seluas 42 hektar untuk memperoleh produksi rumput laut basah sebesar 333,33 ton per bulan. Kajian terhadap aspek sosial ekonomi menunjukkan agroindustri rumput laut baik skala kecil, skala menengah dan skala besar dapat menyerap tenaga kerja masing-masing 5, 56 dan 165 orang dan memberikan peluang untuk peningkatan pendapatan masyarakat khususnya petani rumput laut. Keuntungan yang dapat diperoleh dari agroindustri rumput laut sebanyak Rp 218.083 per unit untuk skala kecil, Rp 121.430 untuk skala menengah dan Rp 129.635 untuk skala besar. Hasil kajian terhadap aspek pasar baik pasar domestik maupun mancanegara menunjukkan bahwa potensi pasar masih tersedia luas untuk pemasaran produk karaginan. Kebutuhan pasar domestik mencapai 4.500 – 6.000 ton pertahun, sedangkan pasar mancanegara khususnya Philipina membutuhkan 300 ton karaginan perbulan. Pengkajian terhadap aspek finansial menunjukkan bahwa pengembangan agroindustri rumput laut di Sulawesi Tenggara membutuhkan biaya sebesar Rp 3,2 milyar. Analisis finansial menunjukkan nilai NPV positif yakni sebesar Rp 2.533.428.865, nilai IRR sebesar 45,14 persen lebih tinggi dari tingkat bunga pinjaman, nilai BCR adalah 2,00 lebih besar dari satu dan nilai PBP adalah dua tahun 4,5 bulan lebih pendek dari umur proyek yang diperkirakan delapan tahun. Untuk menganalisis tingkat risiko usaha dilakukan analisis sensitifitas. Hasil analisis sensitifitas menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan harga bahan baku sebesar 10 persen proyek tetap layak untuk dilaksanakan, sedangkan jika harga jual dan produksi turun masing-masing sebesar 10 persen, proyek pengembangan agroindustri tidak layak untuk dilaksanakan. Pengkajian terhadap aspek nilai tambah menunjukkan, pengolahan rumput laut menjadi tepung karaginan memberikan nilai tambah sebesar Rp 1.516 per kilogram dengan rasio 18,72 persen.
Pengkajian terhadap prioritas pengembangan agroindustri menunjukkan bahwa prioritas pertama agroindustri yang potensial dikembangkan adalah agroindustri tepung karaginan skala menengah dengan bobot nilai 0,3568, prioritas kedua adalah agroindustri tepung karaginan skala besar dengan bobot nilai 0,2505, prioritas ketiga adalah agroindustri tepung karaginan skala kecil dengan bobot nilai 0,2278 dan prioritas keempat adalah agroindustri pengeringan dengan bobot nilai 0,1650...dst | |
| dc.subject.keyword | Rumput Laut, Agroindustri, Sulawesi Tenggara, PT.Bantimurung Indah, Karaginan, Struktur Biaya, Data Primer dan Sekunder, Penentuan Lokasi, Metode Perbandingan Eksponensial, Analisis Trend, Analisis Kelayakan Pengembangan, Analitycal Hierarchi Process, Prioritas Pengembangan Agroindustri. | id |