Show simple item record

dc.contributor.advisorDaryanto, Arief
dc.contributor.advisorSuharjo, Budi
dc.contributor.authorMuzammil,Ahmad Riza
dc.date.accessioned2024-12-05T06:53:50Z
dc.date.available2024-12-05T06:53:50Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159862
dc.description.abstractSalah satu tujuan pengembangan sektor peternakan di Jawa Timur pada saat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan susu segar dalam negeri. Perkembangan usaha peternakan sapi perah di Jawa Timur tidak terlepas dari peternakan rakyat yang jauh lebih banyak dibandingkan usaha peternakan komersial (perusahaan). Pada tahun 2002, dari total populasi 131.262 ekor sebesar 126.559 ekor diantaranya adalah petemakan rakyat. Demikian pula tahun 2003, dari total populasi 131.827 ekor sebesar 127.057 ekor diantaranya adalah peternakan rakyat. Pasar susu segar yang ada di wilayah Jawa Timur selama ini mirip model pasar monopsoni (pembeli tunggal PT Nestle Indonesia). Sebesar 95% susu segar produksi koperasi persusuan anggota Gabungan Koperasi Persusuan Indonesia (GKSI) Jawa Timur dipasarkan ke Nestle, sedangkan sisanya dipasarkan ke kota-kota besar seperti Surabaya, Malang dan sekitarnya dalam bentuk susu segar maupun produk olahan. Pada tahun 2004 Nestle menerapkan kebijakan baru mengenai kuota (pembatasan) penyerapan susu segar dari GKSI Jatim. Alasan penerapan kuota tersebut adalah untuk mempertahankan daya saing produk-produk Nestle demi kelangsungan usaha dalam jangka panjang. Tuntutan pasar agar produk Nestle (khususnya susu bubuk merk Dancow) menambahkan high value ingredient (bahan tambahan bernilai gizi tinggi) membuat kapasitas produksi Nestle terkurangi. Secara umum memang tidak ada penurunan omzet penjualan pada produk-produk Nestle di Indonesia. Penjualan susu bubuk Dancow beserta variannya cenderung meningkat, namun Nestle menghadapi tantangan oleh produk susu bubuk sejenis dari sumber impor. Hal tersebut menyebabkan Nestle mengurangi pasokan susu yang menyebabkan kemungkinan tidak tertampungnya sebagian susu yang dihasilkan GKSI Jatim. Akibat sistem kuota itu, diperkirakan akan ada 30-60 ton susu segar per hari yang tidak dapat diserap Nestle. Jika produktivitas sapi perah di Jatim mencapai 10 liter per ekor per hari, berarti ada 3.000-6.000 sapi per hari yang susunya tidak dapat dijual. Jika rata-rata kepemilikan sapi di Jatim adalah 1-3 ekor per peternak, berarti terdapat 1.000-2.000 rumah tangga peternak kehilangan penghasilan harian. Jika diasumsikan 10% populasi sapi perah Jatim berada di Nongkojajar, berarti akan ada 100- 200 orang keluarga peternak yang terancam mata pencahariannya. Peternak yang tidak dapat menjual susu segarnya akan berdampak kehilangan penghasilan yang pada akhirnya juga akan memicu terjadinya depopulasi sapi perah, karena peternak yang tak mampu mengefisienkan biaya pakan terpaksa menjual sapinya sebagai sapi potong....dst
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleAnalisis Strategi Pemasaran Susu Segar dan Produk Olahannya Oleh Koperasi Di Jawa Timur Study Kasus dan Kopersi Peternakan Sapi Perah(Kpsp)Sekawan Nongkojajar Pasuruan.id
dc.subject.keywordSusu Segarid
dc.subject.keywordProduk Olahanid
dc.subject.keywordKuota Penyerapanid
dc.subject.keywordPasar Motopsoniid
dc.subject.keywordMetode Deskriptif Analisis Pasarid
dc.subject.keywordAnalisis Ahp.id
dc.subject.keywordSusu Segar, Produk Olahan, Kuota Penyerapan, Pasar Monopsoni, Metode Deskriptif, Analisis Pasar, Analisis AHPid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record