Show simple item record

dc.contributor.advisorSuharjo, Budi
dc.contributor.advisorFahmi, Idgan
dc.contributor.authorSoegihartono, Catur
dc.date.accessioned2024-12-05T06:46:47Z
dc.date.available2024-12-05T06:46:47Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159840
dc.description.abstractKentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditi hortikultura yang penting di Indonesia. Komoditi ini merupakan salah satu sumber karbohidrat, kalori, mineral dan protein dalam menunjang program diversifikasi pangan serta berpotensi sebagai komoditi ekspor non migas dan bahan baku industri. Permintaan terhadap sayuran termasuk kentang di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, tingkat pendapatan masyarakat, kesadaran gizi masyarakat, permintaan ekspor serta tumbuhnya industri pengolahan kentang. Data dari BPS menunjukkan adanya peningkatan permintaan kentang untuk bahan olahan industri dari 19.635 ton pada tahun 2002 menjadi 20.243 ton pada tahun 2003. Permintaan konsumen kentang segar sebesar 544.768 ton pada tahun 2002 menjadi 544.768 pada tahun 2003. Untuk memenuhi permintaan kentang tersebut diperlukan produksi dengan kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan permintaan pasar. Jawa Timur adalah propinsi penghasil kentang ketiga terbesar setelah Jawa Barat dan Sumatera Utara dengan luas penanaman kurang lebih 7.000 Ha setiap tahun, dengan hasil rata-rata per hektar masih rendah yaitu ± 11 ton/Ha. Padahal potensi produksi bisa menghasilkan 35 ton/Ha. Berdasarkan analisis usahatani, dalam proses produksi kentang yang harus dialokasikan untuk pengadaan benih kentang cukup mahal yaitu mencapai 30-40% dari total biaya produksi. Untuk menekan biaya pengadaan benih tersebut petani menggunakan benih dari hasil panennya sendiri yang telah diseleksi, semata-mata hanya berdasarkan ukuran umbinya saja berdasarkan pengalaman dan secara turun-ternurun. Cara lain yang ditempuh petani kentang untuk mendapatkan benih adalah dengan membeli benih kentang impor yang telah diperbanyak beberapa generasi sehingga mutunya sudah menurun. Alasan lain petani menggunakan benih kertang tidak bersertifikat diantaranya adalah masalah harga serta ketersediaan benih bersertifikat. Kecenderungan petani menggunakan benih lokal tidak bersertifikat dikarenakan harga benih lokal tidak bersertifikat jauh lebih murah dibandingkan dengan harga benih kentang impor dan benih bersertifikat. Disisi lain, benih impor yang didatangkan oleh para importir merupakan benih dengan kualitas second grade (kelas dua) dari negara asalnya. Kendala lainnya adalah ketersediaan benih kentang lokal bersertifikat yang masih terbatas keberadaannya dikarenakan di Jawa Timur produsen benih kentang lokal bersertifikat masih kurang, sehingga keterbatasan tersebut menyebabkan ketersediaan benih lokal bersertifikat masih kurang dibandingkan kebutuhan petani terhadap benih kentang. Oleh karenanya, upaya identifikasi terhadap hal tersebut menjadi sangat penting. Selain mengidentifikasi hal tersebut, maka diperlukan pula strategi yang tepat....dst
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Pemasaranid
dc.titleKajian Kepuasan Petani Dalam Penggunaan Benih Kentang Tidak Bersertifikat Di Kota Batu Propinsi Jawa Timurid
dc.subject.keywordPerilaku Petaniid
dc.subject.keywordBenih Kentang Tidak Bersertifikatid
dc.subject.keywordAtribut Benih Kentangid
dc.subject.keywordKelas Benihid
dc.subject.keywordAsal Benihid
dc.subject.keywordAnalisis Clusterid
dc.subject.keywordTabulasi Silangid
dc.subject.keywordAnalisis Chaidid
dc.subject.keywordAnalisis Suharjo Split.id
dc.subject.keywordPerilaku Petani, Benih Kentang Tidak Bersertifikat, Atribut Benih Kentang, Kelas Benih, Asal Benih, Analisis Cluster, Tabulasi Silang, Analisis CHAID, Analisis Suharjo Split.id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record