| dc.description.abstract | Minyak goreng merupakan salah satu produk kebutuhan rumah tangga yang digunakan untuk kebutuhan memasak. Peningkatan kebutuhan manusia dalam mengkonsumsi makanan akan cenderung meningkatkan permintaan produk minyak goreng. Banyaknya produk minyak goreng yang beredar di pasar semakin memacu para produsen untuk memasuki tingkat persaingan yang tinggi dengan mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasarnya agar jangan sampai diambil alih oleh perusahaan kompetitor. Seiring dengan perkembangan zaman, maka masalah kesehatan saat ini menjadi suatu hal yang sangat penting pada kondisi saat ini. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat akan masalah kesehatan sehingga menyebabkan terjadinya pola hidup sehat yang berimplikasi pada perubahan pola konsumsi pangan dan mendorong untuk dihindarinya makanan yang banyak mengandung kolesterol. Minyak goreng merupakan salah satu bahan makanan pokok yang mempengaruhi kandungan kolesterol dalam masakan. Kota Bogor dengan jumlah penduduk 691.421 orang pada tahun 2002 merupakan pasar potensial bagi para produsen minyak goreng sawit bermerek untuk memasarkan produknya, karena dengan jumlah penduduk yang sangat besar maka diyakini akan terdapat perbedaan dan keragaman karakteristik masyarakat termasuk perilaku konsumsinya. Menyikapi kondisi tersebut maka agar para produsen dapat bertahan dalam persaingan, mereka harus dapat mengidentifikasi, mengetahui dan menyesuaikan keinginan serta harapan konsumen dengan produk yang dihasilkannya. Berdasarkan hal yang telah dikemukakan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis tingkat kepercayaan konsumen terhadap klaim minyak goreng sawit bermerek; (2) menganalisis peringkat prioritas atribut minyak goreng; (3) merumuskan strategi pemasaran bagi produsen minyak goreng sawit bermerek. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan proportional sampling yaitu dimana setiap anggota kelompok mempunyai probabilitas yang sebanding dengan besar relatif dari kelompok-kelompok yang dimasukkan ke dalam subsampel. Lokasi yang dijadikan sampel adalah enam kawasan perumahan yang masing-masing mewakili kelurahan dan kecamatan di Kota Bogor dengan pertimbangan bahwa responden pada lokasi tersebut menggunakan minyak goreng sawit bermerek dan pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan metode random sampling. Hasil survey yang dilakukan terhadap 150 responden menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah wanita (97,3 persen) yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga (61,3 persen), berstatus menikah (89,3 persen). berusia 30-39 tahun (32,0 persen), pengeluaran per bulan di atas Rp. 2.500.000 (38,7 persen), jumlah anggota rumah tangga 5-6 orang (41,3 persen), tingkat pendidikan SMA sederajat (42,0 persen) dan pekerjaan pasangan sebagai pegawai swasta (42,3 persen). Dalam aspek penggunaan responden cenderung untuk membeli minyak goreng dua kali dalam sebulan (36,0 persen) dengan kemasan refill (71,3 persen) sebanyak dua unit (34,7 persen) dan bervolume dua liter (64,0 persen). Sedangkan alasan kesehatan (17,3 persen) menjadi pertimbangan konsumen dalam menggunakan minyak goreng. Mayoritas responden mengenal minyak goreng melalui media televisi. Hal ini dapat dilihat bahwa 64,67 persen, 46,67 persen dan 38,0 persen responden mengenal merek Bimoli, Sania dan Tropical dari televisi. Selanjutnya, tempat pembelian menjadi media bagi responden dalam mengenal minyak goreng dimana 67,3 persen responden membeli minyak goreng dari supermarket. Dari tingkat preferensinya responden memilih volume minyak goreng dua liter (62,7 persen) dengan merek Sania (26,7 persen) dan jangka waktu pembelian satu minggu yang lalu (28,7 persen). Selain itu supermarket (54,7 persen) menjadi prioritas utama responden dalam berbelanja minyak goreng sawit. Adapun jenis kemasan yang dipilih responden adalah kemasan refill (78,0 persen) dan dibeli sebanyak satu unit (48,0 persen). Segmentasi konsumen minyak goreng sawit bermerek menunjukkan hasil bahwa segmen The Affluent dan The Socialite (16,7 persen) yang mempunyai ciri-ciri psikografis selalu menghadapi banyak orang, menyukai hal baru dan senang bersosialisasi mempunyai karakteristik demografi yaitu wanita (16,0 persen) yang menikah (14,7 persen) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (10,0 persen), mempunyai suami yang bekerja sebagai pegawai swasta (6,0 persen), berusia 20 hingga 39 tahun (4,0 persen) dan 50 hingga 59 tahun (4,0 persen), jumlah anggota rumah tangga lebih besar atau sama dengan tujuh orang (5,3 persen), pengeluaran per bulan di atas atau sama dengan Rp. 2.500.000 (6,0 persen) dan berpendidikan SMA sederajat (8,0 persen). Segmen lainnya yaitu segmen The Achiever dan The Socialite yang mempunyai ciri psikografis seperti segmen The Affluent dan The Socialite (25,3 persen) hanya tidak menyukai hal terbaru mempunyai karakteristik demografi yaitu wanita (24,0 persen) yang menikah (19,3 persen) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (10,7 persen), mempunyai suami yang bekerja sebagai pegawai swasta (8,7 persen), berusia 30 hingga 39 tahun (9,3 persen), jumlah anggota rumah tangga lima sampai enam orang (11,3 persen), pengeluaran per bulan di atas atau sama dengan Rp. 2.500.000 (12,0 persen) dan berpendidikan SMA sederajat (11,3 persen). Segmen selanjutnya yaitu segmen The Socialite (18,7 persen) yaitu orang-orang yang suka bersosialisasi dengan orang lain mempunyai karakteristik demografi yaitu wanita (18,0 persen) yang menikah (18,7 persen) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (13,3 persen), mempunyai suami yang bekerja sebagai pegawai swasta (10,7 persen), berusia 40 hingga 49 tahun (6,7 persen), jumlah anggota rumah tangga lima sampai enam orang (11,3 persen), pengeluaran per bulan kurang dari Rp. 1.000.000 (4,0 persen), Rp. 1.500.000 hingga kurang dari Rp. 2.000.000 (4.0 persen) serta di atas atau sama dengan Rp. 2.500.000 (4,0 persen) dan berpendidikan SMA sederajat (8,7 persen). Segmen terakhir yaitu segmen The Pusher (39,3 persen) yaitu orang yang ingin mendominasi segala sesuatu tanpa arah yang jelas mempunyai karakteristik demografi yaitu wanita (39,3 persen) yang menikah (34,0 persen) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (27,3 persen), mempunyai suami yang bekerja sebagai pegawai swasta (11,3 persen), berusia 30 hingga 39 tahun (12.7 persen), jumlah anggota rumah tangga tiga sampai empat orang (16,7 persen), pengeluaran per di atas atau sama dengan Rp. 2.500.000 (16,7 persen) dan berpendidikan SMA sederajat (14,0 persen). Hasil analisis Thurstone menunjukkan hasil bahwa atribut minyak goreng sawit bermerek yang menempati urutan pertama adalah kandungan kolesterol (1,597) sedangkan manfaat bagi kesehatan (1,237) dan kandungan bahan pengawet (1,090) merupakan atribut minyak goreng sawit bermerek yang berada pada urutan kedua dan ketiga. Segmentasi and targeting bagi produsen minyak goreng sawit bermerek adalah pada segmen gabungan antara The Achiever dan The Socialite karena selain berpendidikan cukup baik mengerti akan masalah kesehatan sedangkan positioning bagi produk minyak goreng sawit bermerek adalah non kolesterol sesuai dengan hasil analisis Thurstone. Opini yang diberikan oleh responden terhadap klaim yang tercantum pada label minyak goreng sawit bermerek menunjukkan hasil bahwa 4,7 persen responden pengguna Bimoli Spesial percaya bahwa merek tersebut mengalami pengolahan pemurnian multi proses serta mengandung Omega 9 dan 29,3 persen responden non-pengguna percaya bahwa Bimoli Spesial membuat maşakan lezat dan sehat. Hanya 5,3 persen responden pengguna Filma dan 61,4 persen responden non- pengguna Filma percaya bahwa Filma adalah minyak goreng yang jernih. Sebanyak 15,3 persen responden pengguna Tropical dan 45,4 persen responden non-pengguna Tropical percaya Tropical merupakan minyak goreng dengan dua kali penyaringan. Selanjutnya 0,7 persen responden pengguna Avena percaya bahwa Avena non-kolesterol, mengandung Beta Karoten, Omega 9 dan vitamin E serta berwarna kuning keemasan dan 15,3 persen responden non-pengguna percaya bahwa Avena berwarna kuning keemasan namun 18,0 persen responden pengguna dan 24,7 persen responden non-pengguna Sania percaya bahwa Sania minyak. goreng yang non-kolesterol. Berdasarkan hasil analisis maka strategi pemasaran yang dapat diterapkan pada produsen minyak goreng sawit adalah dengan marketing mix yang dapat dilakukan dengan melakukan strategi produk melalui peluncuran produk minyak goreng yang non-kolesterol dengan menekankan manfaat bagi kesehatan dan kandungan bahan pengawet yang rendah serta mengembangkan produknya berdasarkan kriteria yang diinginkan konsumen. Strategi harga bagi produsen yaitu melalui diferensiasi harga yang dilakukan pada tempat pembelian yang menjual banyak minyak goreng sawit yaitu dengan adanya pemberian diskon atau potongan harga agar harga produk dapat lebih kompetitif. Strategi distribusi melalui perluasan jangkauan distribusinya tidak hanya terbatas pada supermarket dan minimarket saja akan tetapi memperluas jangkauan distribusi pada toko, warung dan tempat-tempat lainnya. Sedangkan strategi promosi melalui pembuatan iklan yang lebih kreatif dan memiliki frekuensi jam tayang yang tinggi agar mudah diingat oleh konsumen, menayangkan iklan pada acara-acara televisi yang memiliki gross rating point yang tinggi serta menampilkan iklan yang mengangkat tema kesehatan dengan menampilkan sebuah keluarga yang sehat dan ceria. Ditinjau dari implikasi manajerialnya maka dapat dikatakan bahwa mengingat kondisi saat ini dengan adanya peningkatan kesadaran masyarakat Kota Bogor akan masalah kesehatan maka produk minyak goreng yang diluncurkan sebaiknya mengangkat tema mengenai kesehatan yang secara langsung mencantumkan klaim kesehatan pada label produknya dengan mengutamakan kualitas produk yang dihasilkan dan tetap mempertimbangkan aspek produk, promosi, harga dan distribusi. Selain itu para produsen minyak goreng sawit harus dapat mencermati perilaku masyarakat yang menjadi target dan segmennya agar dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen dengan tetap melihat fenomena yang terjadi terhadap perkembangan kehidupan masyarakat Kota Bogor. | |