Show simple item record

dc.contributor.advisorDaryanto, Arief
dc.contributor.advisorHermawati, Wati
dc.contributor.authorAlamsyah, Darman
dc.date.accessioned2024-12-05T06:34:03Z
dc.date.available2024-12-05T06:34:03Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159771
dc.description.abstractAgar tercapai kesejahteraan masyarakat Propinsi Riau secara umum dan khususnya masyarakat Kabupaten Kampar, maka pembangunan perekonomian perlu dikembangkan dengan bertumpu pada sektor yang didukung oleh sumberdaya domestik serta memiliki peluang usaha. Pembangunan suatu wilayah harus disesuaikan dengan kemampuan fisik, sosial dan ekonomi wilayah tersebut serta tetap menghormati peraturan perundangan yang telah ditetapkan. Dalam kajian regional hendaknya memperhatikan aspek spesifik yang menjadi andalan suatu wilayah, sehingga dapat menciptakan keunggulan daya saing wilayah tersebut. Sektor perikanan merupakan salah satu sektor yang memegang peranan penting dalam pembangunan perekonomian nasional, terutama jika dikaitkan pada upaya pengembangan teknologi yang sesuai dengan kondisi alam suatu wilayah. Teknologi yang tepat dapat berperan dalam meningkatkan produktifitas, efisiensi, dan memberikan nilai tambah (Value added). Potensi pengembangan usaha budidaya perikanan di Kabupaten Kampar cukup luas dengan potensi kolam 2.112 ha (kolam irigasi: seluas 974,60 ha dan kolam tadah hujan: 1.137,40 ha), potensi keramba/jaring apung seluas 410 ha dengan perincian waduk PLTA Koto Panjang seluas 275ha, sungai 125 ha dan danau 10 ha. Sedangkan areal penangkapan di perairan umum seluas 14.239,27 ha yang terdiri dari sungai 12.471,07 ha, waduk PLTA Koto Panjang seluas 975 ha dan danau seluas 793,20 ha. Dari potensi tersebut, luas kolam yang telah diusahakan adalah 538,23 ha dengan produksi 5.125,42 ton dengan produktifitas 9,5 ton/tahun. Demikian juga dengan usaha keramba/keramba jaring apung yang telah diusahakan sebanyak 673 unit (2,4 ha) dengan produktifitas 0,5 ton/unit/tahun. Produksi perikanan budidaya ikan di kolam dan keramba tercatat pada tahun 2001/2002 adalah 5.458,12 ton dengan perincian produksi ikan patin adalah sebesar 2.451,37 ton, ikan mas 1.198,44 ton, nila 1.089,5 ton, bawal air tawar 272,38 ton, lele 108,95 ton, gurami 92,35 ton, ikan lemak 81,71 ton dan lain-lain sebesar 163,42 ton. Ikan-ikan tersebut selain dijual dalam bentuk segar sejumlah 3.820,24 ton, juga dilakukan pengolahan pasca panen berupa ikan salai sejumlah 1.637,88 ton. Dari jumlah ikan olahan berupa ikan salai tercatat produksi ikan patin salai sebesar 120 ton/tahun pada tahun 2002, sedangkan pada tahun 2001 produksi ikan patin salai adalah sebesar 100 ton/tahunnya, di mana peningkatan produksi ikan patin salai dari tahun 2001 sampai tahun 2002 sebesar 20% karena banyaknya permintaan di daerah (pasar lokal) maupun luar daerah/ekspor (Malaysia, Singapura, Sumbar, Jakarta dan Jambi). Produk olahan ikan patin selain disalai/diasap, dapat berupa asap pedas yang peluang pasarnya selain di daerah lokal dan luar daerah: Mekah, Sumbar, dan Jakarta. Penelitian ini bertujuan: a). merumuskan faktor yang mendukung pengembangan usaha ikan patin, b). merumuskan langkah-langkah pengembangan dan memberikan alternatif produk ikan patin yang memiliki nilai tambah atau nilai jual yang tinggi, c), merumuskan kelayakan usaha termasuk komponen biaya salah satu jenis usaha ikan patin yang mungkin dilakukan, d). merumuskan analisa nilai tambah usaha produk ikan patin dan e), memberikan alternatif kebijakan pengembangan usaha ikan patin hagi Pemda. Manfaat penelitian ini dapat menyumbangkan pemikiran dan masukan, antara lain: a) sebagai sumbangan pemikiran bagi petani ikan untuk meningkatkan nilai tambah terhadap komoditas ikan patin, agar harga jualnya tinggi, b). sebagai masukan bagi instansi dan lembaga terkait di Riau dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan di sektor perikanan, c). sebagai bahan masukan bagi pengusaha yang berminat untuk menanamkan modalnya dalam rangka pengembangan usaha ikan patin, dan produk olahan/pengawetan untuk membuka peluang kerja, d). sebagai referensi bagi penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan penerapan teknologi tepat guna bagi petani ikan, serta alternatif pengembangan usaha dan pemasarannya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan melakukan survei dan observasi ke lokasi penelitian untuk mengetahui kegiatan usaha pengolahan/pengawetan ikan patin salai, serta pada sejumlah instansi dan pihak yang terkait dalam perumusan kebijakan pembangunan perikanan secara keseluruhan. Teknik pengambilan contoh secara sensus. Sedangkan analisa yang digunakan adalah analisa finansial, baik terhadap kelayakan usaha maupun terhadap peningkatan nilai tambah (metode Hayami). Pengolahan/pengawetan ikan sangat penting dalam meningkatkan nilai tambah produk perikanan. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah tersebut adalah dengan pengolahan/pengawetan ikan patin segar menjadi patin salai. Penyalaian/pengasapan dilakukan dalam rumah asap dengan ukuran 4 x 6 m², tinggi penyalaian 1,40 m dengan waktu berkisar antara 12 jam-24 jam, suhu berkisar antara 60° C-80° C. Pengasapan panas dilakukan selama 2 jam dan dilanjutkan dengan pengasapan seperti biasa, sehingga warna ikan menjadi coklat tua. Penyalaian/pengasapan dengan menggunakan bahan bakar dari kayu keras atau kayu getah. Produk ikan patin salai di simpan dalam almari dengan suhu kamar yang berkisar antara 27 C-28° C. Daya tahan produk ikan patin salai selama 3 bulan. Pengolahan/pengawetan ikan patin salai sangat berperan dalam meningkatkan nilai tambali produk perikanan. Nilai jual ikan patin salai pada tahun 2002 adalah $ 342.000 (114 ton dengan harga Rp 30.000/kg). Produk ikan patin salai di pasarkan secara lokal dan luar daerah: Jakarta, Malaysia, Singapura, Sumatera Barat, Jambi dan lain-lain. Kapasitas produksi ikan patin salai rata- rata/tahun adalah 120 ton. Berdasarkan gambaran tersebut, maka kita harus menetapkan visi dan langkah-langkah pengembangan perikanan secara keseluruhan, tangguh dan efisien dengan memanfaatkan sumberdaya perikanan secara optimal, menerapkan diversifikasi perikanan yang komprehensif, menerapkan rekayasa paket teknologi dan spesifikasi lokasi dan meningkatkan efisiensi, agar mampu menghasilkan produk perikanan dengan memanfaatkan perkembangan iptek dan berdaya saing, serta mampu memberikan peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat secara seimbang. Hasil analisis kelayakan usaha secara finansial ikan patin salai menggambarkan bahwa usaha tersebut menguntungkan dengan nilai NPV sebesar Rp 326.215.030,40, PI: 1,209, B/C ratio: 24,38 atau Net B/C: 1,10, BEP Harga dan produksi sebesar Rp 18.035,50 dan 9.522,74 kg. Aliran Kas sebesar Rp 113.041.438,5 per tahun, Profitabilitan/PV(Present Value) Rp 340.165.030,40, dan IRR: 20% serta pengembalian investasi (pay back period) selama 1,5 bulan. Hasil analisa sensitivitas harga jual produk turun 10% mengakibatkan penurunan keuntungan sebesar Rp 85.293.530,40, B/C ratio turun 6,11, pengembalian investasi masih mampu pada tingkat suku bunga 20% (di atas suku bunga bank). Alternatif pengembangan produk ikan patin selain ikan patin salai, juga dapat berupa: asam pedas, gulai/kari, filet, abon, pindang, pepes, presto, kerupuk, pempek/nuget dan lain-lain. Produk ikan patin salai memiliki aroma, bau yang khas, tidak mudah hancur dan tahan lama. Pengembangan produk selain produk ikan patin salai, perlu diciptakan dan dikembangkan yang bahan bakunya berasal dari komoditas ikan patin segar. Pengembangan produk-produk dari komoditas ikan patin dapat diprioritaskan berdasarkan rasio nilai tambah yang diperoleh, yaitu (1) asam pedas/96 %, (2) abon/95,90 %, (3) pempek, nuget/95,35%, (4) kerupuk/93,63 %, (5) gulai atau kari/81,78 %. (6) presto atau pepes/80,86 %, (7) filet/80 %, (8) pindang/66,50 %, dan (9) salai/39.52% Peningkatan nilai tambah per kilogram ikan segar menjadi produk ikan salai, ialah sebesar Rp 3.952,22. Imbalan tenaga kerja/upah adalah Rp 333,33/kg ikan segar atau Rp 240.000/bulan/orang. Keuntungan petani pengolah sebesar Rp 3.618,89/kg ikan segar atau Rp 10.856,67/kg ikan salai. Upah tenaga kerja bisa dinaikkan sebesar Rp 607,64/kg ikan segar (82,29%) atau Rp 437.500/bulan/orang sesuai dengan Upah Minimum Propinsi (UMP) Riau. Tingkat keuntungan petani pengolah sebesar Rp 10.033,74/kg ikan salai. Diharapkan kepada Pemerintah Daerah/Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Riau, serta instansi terkait lainnya untuk mengembangkan usaha ini, baik secara kualitas maupun kuantitas. Kepada petani pengolah/pengawet ikan patin salai, diharapkan bahan bakar kayu dapat diganti dengan penggunaan sabut dan tempurung kelapa. Di samping itu juga dapat digunakan teknologi dengan pencairan asap yang berasal dari sabut dan tempurung kelapa yang dioleskan pada ikan, akan tetapi pengeringannya dengan menggunakan oven listrik.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleAnalisis Finansial dan Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Ikan Patin(Pangasiun Hypophthalmus) Di Kab. Kapar Propinsi Riauid
dc.subject.keywordNilai Tambahid
dc.subject.keywordIkan Patin(Pangasius Hypophthalmus)Salaiid
dc.subject.keywordMetode Deskriptifid
dc.subject.keywordSensusid
dc.subject.keywordKelayakan Usaha/Finansial Metode Hayamiid
dc.subject.keywordNilai tambahid
dc.subject.keywordIkan Patin (Pangasius hypophthalmus) Salaiid
dc.subject.keywordmetode deskriptifid
dc.subject.keywordsensusid
dc.subject.keywordkelayakan usaha/finansialid
dc.subject.keywordmetode Hayami.id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record