View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Business
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Business
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Penilaian Kinerja Bank Dengan Pendekatan Metode Camel dan Economic Value Added

      Thumbnail
      View/Open
      full text (3.969Mb)
      Date
      2004
      Author
      Saraswati, Cita Santi
      Tanopruwito, Djoni
      Harianto
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Sejarah perbankan di Indonesia telah mengalami perkembangan yang signifikan, hal ini ditandai dengan diterbitkannya paket-paket deregulasi keuangan, moneter dan pasar modal pada akhir dekade 1980-an. Perubahan diawali dengan diterbitkannya Paket 27 Oktober 1988 yang berupaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap financial market dan mendorong perbankan ke arah kompetisi (persaingan) yang efisien dan sehat dengan kemudahan dalam mendirikan bank. Disamping itu diregulasi tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas implementasi kebijakan moneter guna menciptakan iklim yang dibutuhkan bagi perkembangan pasar modal. Kebijakan tersebut di atas ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Paket Deregulasi 25 Maret 1989 dan 1 Desember 1989, sedangkan di sisi pasar modal pemerintah mengeluarkan Paket 20 Desember 1988 yang membuka peluang bagi dibukanya bursa saham swasta dan memungkinkan tumbuhnya lembaga-lembaga keuangan non bank. Memanasnya perekonomian nasional akibat ekspansi moneter yang terlalu cepat pasca Pakto 27/1988, yang ditandai dengan tingginya tingkat suku bunga perbankan dan rendahnya fleksibilitas bank dalam menanggapi kebutuhan perusahaan akan dana (sebagai akibat dari ketatnya perundangan yang diberlakukan) mengakibatkan para pelaku usaha mencari alternatif sumber dana lain. Momentum inilah yang kemudian menggairahkan aktivitas pasar modal, sehingga banyak perusahaan yang kemudian beralih ke pasar modal untuk memperoleh dana yang relatif lebih murah, lebih fleksibel dengan tingkat bunga yang lebih stabil. Perkembangan yang terjadi di pasar modal ini kemudian menjadi ancaman yang cukup signifikan bagi perbankan. Pangsa pasar yang selama ini dinikmati sendiri sedikit demi sedikit mulai tergerogoti. Meskipun secara umum perbankan masih menjadi pemain utama di industri keuangan, namun kecenderungan pasar untuk menjadikan pasar modal sebagai alternatif dalam menempatkan dan menggali dana tampaknya semakin besar. Oleh sebab itu bank-bank perlu melakukan perbaikan-perbaikan dan perkemebangan-perkembangan untuk menghadapi persaingan antar sesama bank maupun lembaga keuangan non bank, dan untuk mengimbangi semakin bervariasinya kebutuhan nasabah. Mengingat bank merupakan lembaga kepercayaan, maka pengukuran tingkat kesehatan bank menjadi sangat penting. Bank Indonesia selaku pengawas dan pembina bank nasional telah menetapkan ketentuan tingkat kesehatan bank melalui Surat Edaran Bank Indonesia No. 26/BPPP/1993 tanggal 18 Mei 1993 yang dikenal dengan metode CAMEL (Capital adequacy, quality pf productive Asset, Management risk, Earning. Liquidity). Beberapa kelemahan dari metode CAMEL adalah metode ini menggunakan pendekatan berbasis rasio yaitu menghitung laba bila pemasukan (return) lebih tinggi dari pengeluaran (cost). Disamping itu metode ini mendasarkan pada pendekatan akuntansi yang hanya memperhitungkan komponen modal hutang sebagai komponen yang menimbulkan biaya modal. Dalam hal penentuan nilai kredit yang digunakan untuk penghitungan tingkat kesehatan bank, batas maksimum nilai kredit yang dapat diberikan dalam metode ini adalh sebesar 100, sehingga membuat bank dengan nilai kredit berada di atas 100 tampak sama tingkat kesehatannya. Pada tahun 1980-an, Stern & Stewart Co memperkenalkan metode baru dalam penilaian kinerja perusahaan yang dikenal dengan sebutan Economic Value Added (EVA). Model ini berangkat dari konsep biaya modal (cost of capital) dan merupakan alat ukur kinerja operasional perusahaan dengan menekankan perhatian pada penciptaan nilai perusahaan (creating a firm’s value). EVA mencoba mengukur nilai tambah yang dihasilkan suatu perusahaan dengan cara mengurangi beban biaya modal yang timbul sebagai akibat investasi yang dilakukan. Pengukuran kinerja operasional ini memperhatikan kepentingan dan harapan penyedia dana, hal ini dikarenakan tujuan utama dari perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan atau meningkatkan kesejahteraan para pemegang saham. Dengan pendekatan EVA, kemampuan perusahaan dalam memberdayakan kapitalnya menjadi transparan karena semua biaya modal termasuk premi resikonya dihitung. Dalam metode ini, perusahaan baru dikatakan memiliki nilai tambah bila pendapatan (Return on Net Asset/RONA) lebih besar dibandingkan dengan biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost of Capital WACC). Dalam tesis ini akan dicoba untuk menerapkan metode EVA untuk mengukur kinerja operasional bank. Apakah penilaian kinerja dengan mengunakan metode CAMEL yang terdiri dari 5 (lima) variabel penilaian akan memberikan hasil penilaian kinerja yang sama dengan apabila menggunakan metode EVA yang terdiri dari satu variabel penilaian yaitu penciptaan nilai perusahaan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut (1) menganalisa kinerja perbankan dengan metode CAMEL (2) menganalisa kinerja perbankan dengan metode EVA (3) Menganalisis hubungan antara metode CAMEL dan metode EVA dalam memberikan hasil penilaian kinerja perbankan. Penelitian ini hanya dibatasi pada delapan bank yang telah go public dengan nilai aset lebih dari Rp. 1 triliun (BNI, BCA, BII, Danamon, Lippo, Niaga, Panin dan Permata) dan periode laporan keuangan tahun 2002. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif melalui pendekatan studi kasus pada delapan bank tersebut di atas. Adapun langkah-langkah untuk menganalisis kinerja perbankan dengan metode CAMEL adalah dengan menghitung rasio masing-masing komponen yang terdiri dari : Capital (ROA), Asset (BDR dan CAD), Management (RR, CAR, LDR), Earning (ROA dan BOPO) dan Liquidity (Net Call Money dan LDR). Setelah rasio-rasio tersebut dihitung kemudian diberi nilai kredit sesuai ketentuan yang dilanjutkan dengan proses kuantifikasi, dimana masing-masing faktor penilaian dan komponennya diberi bobot sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan bank. Hasil penelitian menunjukkan nilai dan predikat kesehatan ke delapan bank dengan metode CAMEL adalah sebagai berikut : BNI (93.96/Sehat), BCA (97.56/Sehat), BII (88.26/Sehat), Danamon (93.76/Sehat), Lippo (84.56/Sehat), Niaga (89.36/Sehat), Panin (79.81/Cukup sehat) dan Permata (75.01/Cukup sehat). Setelah menganalisis kinerja perbankan dengan metode CAMEL, dilanjutkan dengan penilaian kinerja perbankan dengan metode EVA. Langkah-langkah penghitungan dengan metode EVA secara berurutan adalah sebagai berikut : menghitung cost of debt (kd), cost of retained earning (ks), struktur modal, weight average cost of capital dan terakhir menghitung nilai EVA. Dari perhitungan yang dilakukan didapat hasil EVA kedelapan bank dalam juta rupiah adalah sebagai berikut : BNI (-7.960.282), BCA (1.118.066), BII (-2.999.585), Danamon (-3.777.993), Lippo (-1.607.984), Niaga (-2.174.693), Panin (86.229) dan Permata (-2.624.161). Dari hasil uji korelasi rank spearman’s antara CAMEL dan EVA dengan n = 8 dan  = 5% menunjukkan bahwa hasil penilaian kinerja bank berdasarkan metode CAMEL berbeda secara signifikan dengan hasil penilaian kinerja bank berdasarkan metode EVA. Dari hasil analisis diatas, maka disarankan untuk menggunakan metode EVA sebagai komplemen/pelengkap dalam penilaian kinerja perbankan, karena metode ini memberikan sisi pandang yang berbeda terutama kepada para investor untuk menanamkan dana/membeli saham di dunia perbankan disamping kategori bank itu sendiri menurut ketentuan Bank Indonesia.Disamping itu juga, metode ini dapat digunakan untuk menilai sukses tidaknya manajemen puncak mencetak nilai relatif terhadap cost of capital dan menilai sejauh mana kontribusi para value driver bank dalam meningkatkan kekayaan. Untuk menghasilkan nilai EVA yang positif disarankan kepada bank-bank untuk meningkatkan net interest margin dan operating income baik melalui perolehan bunga maupun fee based serta melepas asset yang kurang produktif dan lebih fokus pada core business masing-masing bank.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159744
      Collections
      • MT - Business [4056]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository