| dc.description.abstract | Tekstil merupakan salah satu andalan ekspor non-migas pemerintah dalam sektor industri. Pada saat ini dimana dampak krisis masih terasa, pemasukan devisa merupakan salah satu hal yang sangat bermanfaat bagi negara selain masuknya investasi asing ke negara kita, besarnya devisa yang dapat diterima oleh negara dari ekspor tekstil yaitu pada tahun 1999 sebesar 7.279,2 juta USD dan pada tahun 2000 meningkat menjadi sebesar 8.377,4 juta USD. CV. Enggal Pratama merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang tekstil yaitu memproduksi kain sarung tenun yang telah beroperasi sejak tahun 1937. CV Enggal Pratama menggunakan sistem manajemen yang sederhana dalam perhitungan biaya untuk kebutuhan pengeluaran dan pendapatan perusahaan, sehingga banyak hal-hal penting secara tidak sengaja telah diabaikan oleh pihak perusahaan. Contohnya adalah dalam perhitungan harga pokok produksi pihak perusahaan tidak pernah memasukkan besarnya biaya penyusutan mesin, biaya penyusutan gedung, biaya finishing, dan biaya pemeliharaan mesin. Hal ini dapat menyebabkan penyampaian informasi akuntansi yang diterima oleh manajemen menjadi tidak tepat. Akibatnya baik perencanaan, pengendalian maupun keputusan yang diambil menjadi tidak akurat. Pengalaman produksi selama bertahun-tahun dan hubungan baik dengan para rejasi terutama para pemasok bahan baku dan distributor merupakan nilai tambah yang dimiliki oleh perusahaan dalam menjalankan usahanya. CV. Enggal Pratama telah memiliki sebuah bangunan pabrik dengan mesin tenun listrik sejumlah 36 buah, tetapi dalam beberapa tahun terakhir persaingan antar industri sejenis semakin meningkat, sehingga manajemen berencana melakukan perubahan-perubahan yang dapat membawa perbaikan kepada perusahaan dan karyawannya. Pangsa pasar yang ada saat ini masih cukup besar karena masih banyaknya penduduk di Indonesia yang bertempat tinggal di daerah pedesaaan yang merupakan konsumen utama dari pengguna kain sarung, selain itu banyak pedagang dari negara- negara tetangga saat ini yang membeli produk sarung dari Pasar Tanah Abang, seperti dari India, Malaysia, Brunei, Benua Afrika dan Timur Tengah. Berdasarkan hasil pemantauan harian surat kabar Kompas pada bulan September 2003 gambaran kasar besarnya kebutuhan akan kain sarung tenun selama satu minggu kurang lebih sebanyak 4 juta lembar kain sarung (Kompas, September 2003)..dst | |