Show simple item record

dc.contributor.advisorSyah, Hamdani M.
dc.contributor.advisorHarianto
dc.contributor.authorSubechan
dc.date.accessioned2024-12-05T06:23:26Z
dc.date.available2024-12-05T06:23:26Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159692
dc.description.abstractPenilaian kinerja pada umumnya didasarkan pada rasio keuangan yang disusun dalam satu periode tertentu. Pengukuran dengan rasio tersebut sangat tergantung pada metode dan perlakukan akuntansi yang dijadikan pedoman penyusunan. Sehingga tidak jarang kinerja nampak lebih baik dan cenderung tumbuh secara positif. Padahal jika dilakukan kajian lebih mendalam bukan peningkatan usaha yang dicapai namun sebaliknya. Penilaian kinerja merupakan salah satu strategi untuk menilai efektifitas unit kerja dalam pencapaian operasional yang didasarkan pada sasaran, standar serta kriteria yang ditetapkan sebelumnya. Dengan penilaian kinerja bank diharapkan manajemen mampu memprediksi resiko dan return. Sehingga penilaian kinerja dapat dijadikan acuan sebagai faktor penentu dalam penatapan strategi jangka pendek dan jangka panjang. Untuk setiap Unit Bank XYZ, startegi jangka pendek adalah pencapaian titik impas yang biasanya ditentukan 2 tahun sejak pembukaan sedangkan jangka panjang adalah perbaikan kinerja unit untuk mendapatkan kelas atau peringkat unit yang lebih baik. Bank XYZ dalam menentukan peringkat atau kelas Unit telah menggunakan kombinasi Sistem Manajemen Kinerja (SMK) dan Sistem Insentif Penilaian Kinerja (SIPK) yang direpresentasikan dalam ROA, ROE serta pertumbuhan simpanan dan pinjaman. Penilaian kinerja yang ada saat ini sangat rentan terhadap praktek window dressing yang berupaya memperbaiki laporan keuangan dengan pemberian pinjaman yang diluar kelaziman (antara lain topengan atau tempilan) dan pada akhirnya menimbulkan persaingan tidak sehat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas dipandang perlu alternatif lain untuk mengukur kinerja Unit Bank XYZ. Salah satu alat ukur kinerja yang akan digunakan adalah Economic Value Added (EVA). EVA merupakan salah satu konsep pengukuran kinerja perusahaan. Dengan memakai EVA sebagai patokan, perusahaan atau Unit bisa menilai mana unit usaha yang berprestasi baik dan mana yang tidak. Penilaian itu kemudian dijadikan landasan pengembangan usaha berikutnya untuk investasi, penentuan remunerasi kepala unit dan lainnya. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dalam penelitian ini dirumuskan masalah (1) bagaimana kinerja Unit-unit Bank XYZ berdasarkan EVA (financial drivers) dibandingkan dengan analisis kinerja berdasarkan pendekatan ROA, ROE, Produktifitas dan Mobilisasi Dana. (2) apakah terdapat korelasi antara hasil penilaian kinerja EVA dengan ROA, ROE dan Produktifitas serta Mobilisasi Dana..dst
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleAnalisis Penilaian Kinerja Unit Bank Xyz Dengan Metode Economic Value Added : Studi Kasus Bank Xyz Cab.Bekasi)id
dc.subject.keywordEkonomi Value Addedid
dc.subject.keywordUnit Bank Xyzid
dc.subject.keywordBeta Sahamid
dc.subject.keywordLaporan Keuanganid
dc.subject.keywordReturn On Assetid
dc.subject.keywordKoefisien Korelasi Pearionid
dc.subject.keywordEconomic Value Addedid
dc.subject.keywordUnit Bank XYZid
dc.subject.keywordBeta Sahamid
dc.subject.keywordLaporan Keuanganid
dc.subject.keywordReturn On Assetid
dc.subject.keywordReturn On Eqitutyid
dc.subject.keywordLoan to Deposit Ratioid
dc.subject.keywordMobilisasi Danaid
dc.subject.keywordKoefisien Korelasi Pearson.id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record